Kesenian Jawa : Lela Ledung Dilestarikan Kampung

0 145

Seperti halnya Lela Ledhung, semacam lagu ’nina bobo’-nya Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, setiap daerah di Indonesia memiliki lagu buaian untuk anak sebelum tidur, ungkap Agus ’Patub’ Budi Nugroho, dengan kekhasan melodi dan bahasa masing-masing. Ada Ratu Anom di Bali, dan Palok Sagu di Natuna, dan lain-lain, selain Lela Ledhung, namun menurut seniman musik DIY tersebut, tidak ada yang menginventaris (mencatatnya).

Tak lela, lela, lela ledung…
Cep menenga aja pijer nangis
Anakku sing ayu/bagus rupane
Yen nangis ndak ilang ayune/baguse.
Tak gadhang bisa urip mulya…
Dadiya wanita utama/satria pandhita
Ngluhurake asmane wong tuwa
Dadiya pendekaring bangsa.

Lagu ini sungguh sugestif positif sekali (punya sarat makna dan sangat menyentuh perasaan), ungkap Agus ’Patub’, membayangkan kebiasaan nenek moyang yang bersenandung tanpa diiringi musik. Saat itu pun, belum ada slendro dan belum ada notasi musik. Sayangnya, sekarang Lela Ledung boleh disebut sudah tidak diterapkan di masyarakat. Karena itu, Agus ingin menjaga keberadaannya, dengan mengajarkan di sembilan desa/kampung musik binaannya, melalui nyanyian (vokal), suling, dan angklunG.

Dengan demikian, alunan nada membuai lagu itu bisa selalu dinikmati, meskipun bukan untuk buaian anak sebelum tiduR. Dibandingkan dengan lagu lain semacam itu (buaian untuk anak), Wiegenlied yang diperkenalkan sejak 1868, gubahan terkenal musik klasik Johannes Brahms, Jerman

Source Dinas Kebudayaan tasteofjogja.org/isiberita.tKWrxJ8n__4qi95nCjBJtSN9H-afeUbGElm9k_YERqDMiVP-bwlOc1vc3pIN2V_cTMODRKS5mxkoPej8_N6HPw
Comments
Loading...