Kesenian Jawa : Garap Wayang Ringkes Dalang Cilik

0 76

Wayang dengan durasi 45 menit itu tidak biasa. Maksudnya, pertunjukan wayang itu biasanya dengan durasi panjang, bisa lima sampai tujuh jam, baik siang maupun malam. Sedangkan untuk lomba, festival dan semacamnya (contoh, lomba dalang cilik Daerah Istimewa Yogyakarta pada 23 Agustus 2017), ungkap Dr. Trisno Santoso, salah satu anggota dewan juri lomba dalang cilik, dan sudah empat kali sebagai juri nasional, dituntut waktu yang pendek, karena jumlah peserta yang kemungkinan lebih dari lima orang.

Menggarap pertunjukan pakeliran pendek itu tidak mudah, karena para sesepuh masih berpegangan pada pathet yang komplit, yaitu nem, sanga, manyura (dan galong untuk Yogyakarta). Sedangkan dari susunan pertunjukan, karena terbelenggu oleh pathet, mengakibatkan penggarapan tokohnya tidak terarah, kurang memikirkan sebab akibat pertikaian tokoh yang sesuai dengan tema garapan lakon. Wayang anak memang seperti ini, sulit dan pelik. Anak (dalang cilik) hanya melaksanakan konsep yang diajarkan penggarap (pelatihnya), dan selama ini masih sangat jarang.

Bekal si dalang cilik, baru ketrampilan tekniknya. Kalau penggarapnya kurang wawasan, hasilnya anak mendalang seperti dalang dewasa, bukan dalang anak. Penulis naskah dalang anak pun sangat langka, seperti yang terjadi pada teater anak, padahal teater terbilang bebas. Acuan untuk menggarap pakeliran yang hanya berdurasi 45 menit, digunakan konsep pakeliran padat yang tercetus di Surakarta. Sejak 1977, pakeliran padat.

Source tasteofjogja.org tasteofjogja.org/isiberita.ZkEowAdD_CPGdaaFc5WWVjtR2ZfWzzGdVaX1cTLUXkjCCuVQI6dhEOOZJGQPNV1M8G39qgoAm_Uu00Uu5j42ng
Comments
Loading...