Kesenian Jawa : Gamelan Kanjeng Kyai Guntur Madu

0 30

Gending Rambu dari gamelan Kiai Guntur Madu yang ditabuh di halaman Masjid Agung Solo, mengawali prosesi Sekaten yang dilanjutkan Gending Rangkung dari gamelan Kiai Guntur Sari. Jumlah penabuh gamelan masing-masing sebanyak 22 orang, termasuk pemimpinnya atau biasa disebut tindih. Gamelan berhenti ditabuh saat waktu salat.

Khusus malam Jumat, gamelan tidak ditabuh urainya. Saat bunyi pertama gamelan Kiai Guntur Madu, para pengunjung yang sudah menanti langsung berebut janur yang dipasang di Bangsal Pradangga, tempat gamelan diletakkan. Beberapa di antaranya lalu mengunyah daun sirih sembari mendengarkan irama gamelan. Kedua gending yang dimainkan saat Sekaten merupakan baku dan berlangsung sejak zaman Sunan Kalijaga di Kerajaan Demak. Dalam tradisi ini, ada sejumlah barang identik dengan sekaten.

Diantaranya pecut (cambuk) yang dimaknai adalah makin ke atas atau makin dekat dengan Tuhan maka semakin taat. Kemudian telur asin atau bahasa Jawa disebut endog amal dimaknai orang hidup harus rajin beramal. Kemudian daun dan kapur sirih yang dikunyah agar awet muda. Serta celengan (tempat menyimpan uang dari tanah liat) agar manusia hidup harus semangat menabung. Dalam ceritanya, Sekaten merupakan tradisi dalam memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad. Prosesi berlangsung H-7 sebelum dan H+7 setelah hari kelahiran Nabi Muhammad. Sekaten berasal dari kata Syahadatain atau dua kalimat Syahadat. Tauhid & Rasul.

Source sindonews.com daerah.sindonews.com/read/1260415/29/tabuhan-gamelan-kiai-guntur-madu-dan-tradisi-sekaten-keraton-solo-1511531375
Comments
Loading...