Kesenian Jawa : Film Daerah Istimewa Yogyakarta

0 22

Perfilman Daerah Istimewa Yogyakarta. Berbicara mengenai lokalitas keYogyakartaan, Indra menegaskan bahwa Yogyakarta dipandang sebagai wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta, bukan Kota Yogyakarta saja. Meskipun demikian, banyak ditemukan proposal pembuatan film yang tidak mengangkat hal itu. Lokalitas (budaya) Yogyakarta selalu menyesuaikan diri atau lentur (menyeleksi, menerima dan menyerap) terhadap perubahan global, sekaligus mencari keseimbangan baru untuk mempertahankan jati diri dan watak (karakter).

Budaya yang lentur (dikemukakan dari pendapat Maman S Mahayana), karena sifatnya demikian, dapat ditarik ke belakang, menyentuh tradisi dan kearifan masyarakat dalam menyikapi masa lalu. Sedangkan ke depan, yang mengungkapkan harapan ideal yang hendak dicapai sebagai tujuan, ke sekitarnya dalam konteks kekinian, berkaitan dengan kondisi dan berbagai macam gejala yang terjadi pada masyarakat, atau bahkan ke segala arah, bersinggungan dengan lokalitas budaya lain.

Indonesia memiliki sumber daya lokal yang luar biasa banyaknya dan dapat diangkat dalam film. Peserta diharapkan dapat menguasai atau memahami keadaan alam, kebudayaan dan ciri khas Daerah Istimewa Yogyakarta dengan menggambarkannya dalam film. Kalau mengambil gambar suasana di luar negeri, itu pasti pertimbangan pasar (komersial). Bisa juga merupakan bentuk kerendahdirian (minder). Meskipun demikian, hal itu merupakan pilihan. Pembuat film (filmmaker) bergelut dengan pengalaman, sehingga pada saatnya mencapai satu titik, misalnya, pada adegan yang menggambarkan marah, penonton tahu.

Source tasteofjogja.org tasteofjogja.org/isiberita.u-QixV3nwPQLEu_-P7X3sPCahNmw7C80r4fKV_mGEliaYfYm4TOaRw59mHIqp8iSu4r9JG_GKB2W7mG8mG_DqQ
Comments
Loading...