Kesenian Jawa : Drama Berbahasa Jawa di Sekolah

0 25

Drama berbahasa Jawa, untuk siswa atau pelajar di sekolah, dibandingkan dengan yang berbahasa Indonesia. Sejumlah lakon drama berbahasa Indonesia ”terpaksa” dipilih dan diterjemahkan dalam bahasa Jawa. Contoh, karya Heru Kesawa Murti, berjudul ”Buruk Muka, Cermin Dibelah” diterjemahkan dalam bahasa Jawa menjadi dua judul yang berbeda, yaitu Kaca Benggala, dan Pengilon. Kesulitan mendapatkan lakon drama berbahasa Jawa, berbeda dengan yang berbahasa Indonesia.

Sejak awal pertumbuhan drama (teater) di Indonesia, penerjemahan lakon drama (asing) dalam bahasa Indonesia, sudah sering dilakukan, seperti karya Anton Chekov, Molière (nama panggung Jean-Baptiste Poquelin), SophoklÄ“s, dan George Bernard Shaw. Demikian pula, tokoh-tokoh teater Indonesia, antara lain WS Rendra, Teguh Karya, dan Motinggo Busye, membuat naskah terjemahan, juga karya mereka sendiri, sehingga penerus mereka punya kesempatan belajar dan mendapatkan naskah yang ingin dipentaskan.

Sebuah karya Anton Chekov terjemahan Landung Simatupang, berjudul ”Beruang Menagih Hutang”, dijawakan menjadi ”Tukang Tagih”. Kenyataan demikian menunjukkan bahwa lakon drama berbahasa Jawa memang sulit diperoleh, apalagi lakon drama yang dianggap pas dan menarik dipentaskan. Karena itulah, dalam tulisannya, Hanindawan Sutikno, dramawan dari Surakarta, mengungkap munculnya keterpaksaan itu, bahkan kekhawatirannya bahwa drama berbahasa Jawa justru terasing di negeri sendiri. Menurut pengamatan Hanindawan pada pentas drama berbahasa Jawa di sekolah, keseharian para siswa (pelajar) yang njawani.

Source tasteofjogja.org tasteofjogja.org/isiberita.ZpQWq-0ZlRTBvoA_xKJQabssnDoOg80ZChEQYxfjcGI3aZWrdHmF0vjWlR7QMCFGI9LMUHhR-Z7WgbfW98P3DQ
Comments
Loading...