Kesenian Jawa: Beksan Srimpi Moncar

0 23

Beksan Srimpi Moncar

Beksan Srimpi Moncar adalah sebuah tari klasik Jawa yang menceritakan tentang pertempuran antara Dewi Kelaswara dari Negeri Kelan dengan Dewi Adaninggar dari Negeri Tartaripura, dimana keduanya memperebutkan Wong Agung Jayengrono dari negeri Koparman yang akhirnya dimenangkan oleh Dewi Kelaswara. Tarian ini juga dinamakan Srimpi Cina karena ada usaha penekanan peran penari putri cina, dalam sajian ini. Diciptakan pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono VI (1885-1877), kemudian direkontruksi  jaman Sri Sultan Hamengku Buwono VIII (1921-1939).

Tarian ini ditarikan oleh Akademi Seni Mangkunegaran (ASGA) Surakarta pada pegelaran seni tari di Dalem Prangwedan Pura Mangkunegaran dalam acara Setu Ponan ke 50, tepatnya pada tepat tanggal 11 Agustus 2018. Acara ini sebagai peringatan lahirnya KGPAA Mangkunegaran IX yang lahir pada hari Sabtu Pon yang selalu digelar setiap 35 hari sekali, dimana penyelengaranya adalah Akademi Seni Mangkunegaran (ASGA) Surakarta.

Akademi Seni Mangkunagaran Surakarta (ASGA) adalah salah satu Perguruan Tinggi Seni yang dikelola oleh Yayasan Mangkunagaran di bawah pembinaan Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional Indonesia, serta Koordinator Perguruan Tinggi Swasta Wilayah 6 Semarang. Sebagai sebuah perguruan tinggi yang diarahkan  untuk mempersiapkan para calon seniman yang kompeten dibidang kebudayaan, Pedalangan, Tari dan Teater, maka ASGA telah dirancang merupakan sebuah  pendidikan seni yang dilengkapi penguasaan Industri entertainment

Tari Srimpi Moncar sumber ceritanya diambil dari serat menak yang ceritanya diilhami tentang kepahlawanan paman Nabi Muhammad, Amir Hamzah. Kemunculan Tari Srimpi berawal dari masa kejayaan Kerajaan Mataram saat Sultan Agung memerintah antara tahun 1613 sampai 1646. Gerakan Beksan Srimpi Moncar secara keseluruhan ke 4 penarinya hampir sama semua, tapi ada perbedaan yang signifikan yang membedakan ke 4 penari ini yaitu gerakan kepala yang merupakan cerminan akan peran putri Jawa dan Cina.

Busana yang dikenakan  Dewi Kelasworo (putri Jawa) menggunakan rias pengantin, bedak warna kuning, alis mata menjangan ranggah, lipstik dan lulur kuning. Kainnya menggunakan  motip parang, baju tanpa lengan (rompi), sampur kuning, keris dengan oncen. Hiasan rambut gelung, rajutan pandhan, rajut melati, gajah ngoling. Asesoris yang digunakan berupa kalung sungsun, gelang, cincin, subang, sumping ron, jungkat, kelat bahu. Sedangkan untuk Dewi Adaninggar (putri Cina) menggunakan rias wajah cantik dengan penebalan garis-garis wajah. Busana yang dikenakan terdiri dari kain kuning, baju lengan panjang krah tegak, sampur hijau.

Kepala menggunakan mahkota yang terbuat dari dari kain berhiaskan manik-manik. Perhiasan berupa gelang tangan, kelat bahu, subang, kalung, cincin, gelang kaki, rimong, dasi, rajutan ekor kuda dan slempang. Properti yang dikenakan Dewi Kelasworo menggunakan jemparing (panahan) sedangkan Dewi Adaninggar menggunakan pistol. Pola iringan lagu menggunakan lagon laras pelog pathet barang.

Dengan gendhang gati kumencar laras pelog pathet barang yang terdiri dari lagon laras pelog pathet barang, kawin sekar megatruh, bawa sekar tengahan sari mulat. Kemudian gendhing muncar laras pelog pathet barang, ladrang grompol, gendhing gati harjuno mangsah laras pelog pathet barang. Sebuah tarian klasik Jawa yang hidup di dalam kraton yang yang berarti gemilang, bersinar,sumorot, gumebyar selain itu juga  menggambarkan 4 penjuru angin atau 4 unsur dunia yaitu api, udara, air dan bumi.  Sebuah tarian yang memberikan makna tentang kehidupan untuk menuju kehidupan yang lebih baik kedepannya.

Source https://myimage.id https://myimage.id/beksan-srimpi-moncar/
Comments
Loading...