Kesenian Jawa : Bakal Bubar, Wayang Kulit Berkibar

0 18

Sekira tahun 1965−1970-an, di Yogyakarta dan Surakarta pernah horeg (sering orang bilang geger, terdengar banyak orang), persangkaan bahwa wayang kulit bakal punah, ungkap Trisno Santoso, yang sering dipercaya sebagai juri wayang tingkat regional dan nasional. Dilihat dari gelagatnya pada waktu itu, akan kalah dari wayang kaset yang banyak diperdagangkan, produksi Irama Record, Singa Barong Record, Lokananta Record, Borobudur Record, dan lain-lain.

Cukup dengan tape recorder, dilengkapi Toa (pengeras suara), yang ditali pada pohon kelapa atau pohon yang tinggi. Pada waktu itu, masih jamak wayang dipertunjukkan semalam suntuk. Anak kecil yang gemar wayang, mencuri-curi kesempatan, bahkan sering membolos, agar bisa mendalang, atau sekadar ikut membantu dalang. Tidak mengherankan bahwa guru-guru menemukan anak yang mengantuk di kelas. Trisno ’Pelog’ (sapaan akrab Trisno Santoso sejak giat di teater), dosen ISI Surakarta, yang pernah mengalami sendiri masa sulit ketika anak-anak ingin menonton wayang, mengungkap bahwa ketika beranjak remaja, anak diperbolehkan orang tua untuk menonton pertunjukan wayang, namun pada malam minggu saja.

Meskipun demikian, sekali-sekali sang anak mencuri waktu menonton wayang, memanfaatkan kelengahan orang tua ketika mereka tertidur. Sekali waktu, dengan ngincang-inceng (melihat dari jauh) si anak mengetahui bahwa orang tuanya ikut menonton di tempat yang sama. Sebelum pertunjukan selesai, sang anak segera kembali pulang.

Source Dinas Kebudayaan tasteofjogja.org/isiberita.wSALj8_kPeteHxiq7WeHk8NVmchmYdlQgKkLXBKp_Rs
Comments
Loading...