Kesenian Hadrah Berjanji, Kabupaten Banyuwangi

0 53

Kesenian Hadrah Berjanji, Kabupaten Banyuwangi

Kesenian hadrah Berjanji yang selama ini digemari masyarakat Using Banyuwangi pada umumnya merupakan jenis kesenian bernafaskan Islam. Menurut nilai historis sejarahnya berawal dari syi’ar agama islam yang di lakukan oleh para wali di telatah bumi Blambangan, dimana dalam perjalanannya selain dakwah serta diselingi dengan lagu puji-pujian seperti shalawat Nabi yang diiringi menggunakan satu alat terbang atau rebana Banyak masyarakat terbius oleh lagu-lagu yang dibawakan sehingga kegiatan mulia tersebut menjadikan patokan dalam perkembangan seni hadrah di Banyuwangi

Kesenian hadrah Banyuwangi biasa disebut hadrah berjanji, dimana hadrah sendiri berasal dari sebuah kata hadroh yang mempunyai arti jenis kesenian Islam yang menitik beratkan pada keagamaan, dan dalam penyajiannya lagu-Iagu yang dibawakan 100 % diambil dari sebuah kitab Al Berjanji seperti lagu-Iagu serakalan atau tibaan pada umumnya serta dibawakan secara bersama-sama oleh pemukul terbang itu sendiri dengan di sertakan gerakan-gerakan sederhana. Kesenian hadrah berjanji terjadi secara turun-temurun dengan ciri khas sendiri sesuai khasanah daerahnya, baik dilihat dari segi lagu, gerakan, hingga pada gaya pukulan terbangannya.

Kesenian bernafaskan Islam yang tumbuh berkembang di tengah-tengah masyarakat Using Banyuwangi tidak hanya hadrah tetapi ada lagi yang lain seperti Kuntulan, kundharan dan Gembrung. Adapun sebagai alat iringannya yaitu sama menggunakan musik perkusi terbang. masing-masing kesenian tersebut memiliki gaya penyajian yang berbeda, seperti kesenian hadrah Berjanji sebelum Jepang mendarat di Banyuwangi terakhir diketahui oleh tokoh seniman masyarakat( Madari:1942 ) lagu-Iagu yang dibawakan semuanya berasal dari sebuah kitab AI,Berjanji contohnya Assalamu’alaik, Asrokol, Alai Mukudam, Ya Marhaban, Sholawat Nabi dan seterusnya.

Sebagai alat musik iringannya pada mulanya hanya menggunakan empat satuan terbang diantaranya terbang onteng, terbang gowonan, terbang timpal gowonan dan terbang timpal lebonan dengan tiga jenis gaya pukulan yaitu terbangan Jos, terbangan Yahum dan terbangan Tirim yang dilakukan di mushola-mushola atau di rumah tokoh masyarakat desa itu sendiri. Dalam perkembangannya munculah seorang penari putra disebut Rudad dengan gerakan-gerakan sederhana yang dilakukan sambil duduk, berikut alat music terbang sebagai iringannya mendapat tambahan jenis alat musik perkusi yang lain atau musik non nada yaitu jidhor yang berasal dari sebuah bedhuk mushola pada umumnya.

Kesenian hadrah berjanji dari tahun ke tahun tumbuh pesat serta mengalami perkembangan yang merupakan hasil kreatifitas seniman yang mengacu pada perkembangan jaman dalam memenuhi kebutuhan pasar agar senantiasa hadrah di gemari oleh masyarakat. Tentunya berbagai macam cara di lakukan untuk mengemas seni hadrah itu sendiri, meskipun tetap berpatokan pad a seni hadrah sebelumnya, tetapi seniman dituntut untuk berkarya tanpa memiliki keterbatasan dalam menciptakan nuansanuansa baru yang dapat menjadikan seni tetap eksis dan lestari, maka timbulah kesenian bernafaskan Islam baru disebut Kuntulan dan kundharan.

Kesenian hadrah tidak hanya tumbuh di Banyuwangi, tetapi ada pula jenis hadrah-hadrah lain yang dimiliki oleh masyarakat luar daerah Banyuwangi dengan nuansa yang berbeda sesuai ciri khas daerahnya masing-masing. Dengan adanya keragaman budaya yang dimiliki menjadikan kesenian hadrah bervariasi sesuai prinsip BHINEKA TUNGGAL EKA berbeda-beda tetap satu jua.

Source http://jawatimuran.net http://jawatimuran.net/2012/06/16/kesenian-hadrah-berjanji-kabupaten-banyuwangi/
Comments
Loading...