Kesenian Gumbeng Kab. Banjarnegara

0 109

Gumbeng merupakan seni tradisional Banjarnegara yang hidup kembali. Warga desa Pagak Kec. Purwareja Klampok layak di berikan apresiasi. Gumbeng yang sudah puluhan tahun hilang sekarang dihidupkan kembali.

Dahulu, para petani memainkannya sebagai bagian dari prosesi ritual. Tradisi itu dihayati sebagai pengejawantahan rasa syukur terhadap Yang Maha Kuasa atas kelimpahan hasil panen. Masyarakat kuno masih mempercayai Dewi Padi atau biasa disebut Dewi Sri. Gumbeng diyakini sebagai ritus untuk mengiringi atau mengarak Dewi Sri menuju Kayangan. Karena itu, kesenian tersebut biasa dimainkan bersama saat menjelang bercocok tanam dan sehabis panen raya padi.

Ada doa yang mengiring dalam ritual itu agar mereka berhasil menanam padi hingga panen tanpa hambatan. Gumbeng dimainkan saat upacara, baik yang berhubungan dengan pertanian, permintaan hujan atau upacara tolak bala. Kesenian itu dimainkan oleh minimal 12 orang dalam satu kelompok musik. Dalam formasi itu, 4 orang memainkan alat musik Gumbeng, 2 orang memegang Dendem, 2 orang menabuh Gong dan melodi, 2 orang memainkan kecruk dan 2 orang lainnya menabuh keprak. Lagu pengiring musik itu adalah kidung Jawa berupa tembang Macapat atau Dandang Gula yang dinyanyikan oleh sinden.

Gumbeng bukanlah alat musik berbahan mewah. Alat itu dibuat dengan bahan bambu Petung atau Wulung yang mudah di dapat di lahan desa. Bambu wulung jadi pilihan utama perajin karena memiliki ruas panjang sehingga berpengaruh terhadap kualitas nada. Butuh teknik khusus untuk menciptakan alat musik itu sehingga bisa menghasilkan nada terbaik. Bambu kering yang telah dipotong kemudian dibeset menggunakan alat bantu pisau, golok, dan tatah hingga membentuk dawai. Alat musik berdawai dari bahan bambu itu dimainkan dengan alat pemukul yang juga terbuat dari bambu. 

Kepala Desa Pagak Sudarwo mengatakan, pemerintah desa mendukung penuh penggalian kebudayaan lokal oleh warga dan berkomitmen untuk melestarikannya. Di desanya, alat musik Gumbeng telah hilang karena tidak pernah lagi dimainkan sejak lebih dari 15 tahun silam. Menurut dia, kesenian tradisional patut dilestarikan oleh generasi penerus karena digali dari falsafah lokal yang sesuai dengan kepribadian bangsa.

Source Kesenian Gumbeng Kab. Banjarnegara Kesenian Gumbeng Kab. Banjarnegara Kesenian Gumbeng Kab. Banjarnegara

Leave A Reply

Your email address will not be published.