Kesenian Garut “Badeng” Yang Terlupakan

0 73

Badeng merupakan jenis kesenian yang menekankan segi musikal dengan angklung sebagai alat musiknya yang utama, Badeng berasal dari Desa Sanding Kec. Malangbong. 

Sejarah Awal Mula Kesenian Badeng

Kesenian tradisional Badeng diciptakan pada tahun 1800 yaitu di jaman Para Wali, kesenian ini mula-mulanya diciptakan oleh seorang tokoh penyebar agama Islam bernama Arfaen Nursaen yang berasal dari daerah Banten yang kemudian terus menetap di Kampung Sanding Kecamatan Malangbong Kabupaten Garut, beliau dikenal masyarakat disana dengan sebutan Lurah Acok. Lurah Acok berfikir didalam hatinya bagaimana caranya supaya ajaran agama Islam dapat menyebar luas pada masyarakat yang masih asing dengan Islam. Pada suatu saat dia pergi menuju suatu perkampungan di daerah Malangbong dan di tengah jalan beliau menemukan sesuatu benda yang bentuknya panjang bulat terbuat dari bambu serat dengan tidak sadar maka benda itu dibawanya ke rumah dan bambu tersebut dibuat suatu alat yang bisa mengeluarkan bunyi.

Pada saat itu juga Arfaen mengumpulkan para santri dan menyuruhnya membuat alat-alat lainnya yang terbuat dari bambu-bambu yang sudah tua untuk memadukan bunyinya dengan alat yang dibuat Arfaen. Kemudian bambu-bambu tersebut disusun dibuat sedemikian rupa sehingga dapat mengeluarkan suara yang nyaring. Setelah selesai Arfaen mencoba semua alat-alat untuk ditabuh/dibunyikan, maka terdengarlah irama musik.

Mulai saat itulah Lurah Acok dan Para Santrinya setiap hari, setiap minggu dan setiap bulanya berkeliling mengumpulkan tokoh-tokoh masyarakat, seperti umaro dan tokoh-tokoh santri untuk berkumpul dan bermusyawarah sambil memasukan ajaran-ajaran agama Islam dengan menabuh seperangkat alat-alat yang dibuatnya itu dan membawakan lagu-lagu solawatan serta lagu-lagu sunda buhun yang isi syairnya mengajak kepada masyarakat banyak untuk masuk agama Islam. Menurut cerita Seni Badeng ini berasal dari desa Sukamerah kecamatan Pagerageung. Seni Badeng ini di pergelarkan pada waktu pesta khitanan, namun pada saat ini kadang-kadang di pergelarkan pada acara­-acara kenegaraan.

Alat – alat kesenian badeng terdiri dari :

  1. 2 buah Angklung Kecil bernama Roel yang artinya bahwa dua pimpinan pada waktu itu antara kaum ulama dengan umaro (pemerintah) harus bersatu, alat ini dipegang oleh seorang dalang.
  2. 2 buah dogdog lonjor ujungnya simpay lima yang artinya menandakan bahwa didunia ini ada siang ada malam dan laki-laki dengan perempuan, alat ini dipegang oleh dua orang simpay lima berarti rukun Islam.
  3. 7 buah angklung agak besar terdiri dari : angklung indung, angklung kenclung dan angklung kecer disesuaikan dengan nama-nama hari, alat ini dipegang oleh 4 orang.
Revitalisasi Kesenian Badeng

Upaya revitalisasi dalam melestarikan kesenian badeng dilakukan oleh masyarakatnya sendiri sebagai upaya  mengembangkan kesenian tradisional daerah yang dimiliki yang perlu dibangun di setiap daerah yang memiliki beberapa jenis kesenian yang hampir punah. Proses revitalisasi ini ditempuh melalui upaya pengembangan dan pengemasannya kembali agar dapat menjadi bagian utama dari masyarakatnya.

Source Kesenian Garut "Badeng" Yang Terlupakan Kesenian Garut "Badeng" Yang Terlupakan Kesenian Garut "Badeng" Yang Terlupakan

Leave A Reply

Your email address will not be published.