Kesenian Drumblek, Seni Asli Salatiga

0 81

Kesenian drumblek merupakan bentuk kesenian yang mengadopsi orkes harmoni (musik lapangan-drum band). Hal tersebut dapat dilihat dari setiap pementasannya yang selalu di ruang terbuka, baik di tanah lapang maupun di jalan raya (pawai). Apabila orkes harmoni (musik lapangan-drum band), alat musik yang digunakan adalah instrument musik Barat, namun dalam kesenian drumblek, alat musik yang dipakai adalah barang-barang bekas. Walaupun kesenian drumblek ini dalam setiap pementasannya hanya menggunakan barang bekas, walaupun demikian drumlek tetap menyertakan bellyra dan pianika sebagai pendukung melodi pada musik tersebut, dan dari tahun ketahun semakin menjamurnya kelompok kesenian drumblek di Salatiga.

Asal-Usul Kesenian Drumblek

Musik drumblek ini pertama kali muncul pada tahun 1986 di desa pancuran (Salatiga) yang dimotori oleh salah seorang warga bernama Masruri yang menggunakan barang-barang bekas sebagai alat musik utamanya. Namun musik drumblek berkembang pesat sejak 6 tahun terakhir ini, yang ditandai dengan munculnya grup-grup drumblek baru di Kota Salatiga yang meramaikan acara-acara kota dan tentunya masing-masing grup memiliki ciri khas yang berbeda.

Jika dilihat dari penampilan dan ragam costum yang digunakan, drumblek saat ini sudah jauh berkembang jika dibandingkan dengan awal kemunculannya, bahkan berbagai macam variasi formasi barisan juga telah diaplikasikan seperti layaknya marching band profesional. Kreatifitas masing-masing grup ini ternyata memicu daerah-daerah lain di Kota Salatiga untuk membentuk grup drumblek lainnya, hal ini menjadikan drumblek sebagai salah satu kesenian musik yang cukup populer dan bergengsi di Kota Salatiga saat ini.

Komunitas Drumblek Salatiga

Salah satu grup Drumblek tertua di Salatiga, yakni Gempar (Generasi Muda Pancuran) merupakan kelompok paling konsisten. Kendati para pemainnya di awal berdiri mayoritas sudah berkeluarga, regenerasi terus berjalan. Begitu pula dengan Drumblek milik Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) yang dibentuk sejak 15 tahun lalu, sampai sekarang masih eksis meski personil saban tahun selalu berganti.

Hingga memasuki tahun 2013, geliat Drumblek kembali muncul. Tepatnya saat ada pihak swasta yang bergerak di bidang pariwisata kerap menggelar Festival Drumblek. Beberapa grup yang dulunya sempat berjaya, akhirnya dihidupkan lagi. Apalagi melihat pertumbuhan grup Drumblek di desa-desa Kabupaten Semarang yang letaknya berada di perbatasan Salatiga, mereka semakin terpacu untuk bangun dari tidurnya.

Desa-desa asal Kabupaten Semarang yang lokasinya dekat dengan Kota Salatiga, praktis telah memiliki grup Drumblek sendiri. Bahkan, tak jarang dalam kompetisi Drumblek mereka kerap menyabet juara satu. Bahkan, terkadang di salah satu desa, contohnya Desa Sumber, Kecamatan Suruh mempunyai grup Drumblek lebih dari satu group. Didukung oleh kepala desanya masing-masing, mereka kerap tampil di berbagai hajatan.

Pihak pemerintah Kota Salatiga sendiri, melalui Dinas Perhubungan & Pariwisata terus memberikan perhatian penuh terhadap keberadaan Drumblek. Bahkan anggaran untuk pengadaan peralatannya juga selalu disiapkan guna mendukung perkembangan Drumblek di kota ini. Belakangan, agar Drumblek tidak diklaim pihak lain, marching band tradisional tersebut hak patennya sudah diajukan sebagai kesenian asli Salatiga.

Source Kesenian Drumblek, Seni Asli Salatiga Kesenian Drumblek, Seni Asli Salatiga Kesenian Drumblek, Seni Asli Salatiga

Leave A Reply

Your email address will not be published.