Kesenian di Yogyakarta Tari Ishwari Murraya

0 100

Tari Ishwari Murraya yang merupakan sebuah tarian yang didalamnya menceritakan tentang kecantikan yang tidak pernah kekal seperti yang dialami Dewi Kemuning, putri  dari Prabu Arya Seta dari kerajaan Ringin Anom, kecantikan paras dan keharuman tubuhnya harus berubah begitu cepat saat dia terserang penyakit dengan tiba-tiba.

Sekujur tubuhnya menjadi berbau busuk semua, dan dia tidak bisa mengubah takdirnya ini. Semua harus dia jalani, dia hanya bisa berusaha untuk mengatasi semua ini dengan minta petunjuk kepada Yang Maha Kuasa agar semua yang dialaminya segera berakhir. Semua ini sebagai pelajaran bahwa kita harus selalu menyukuri pemberian Tuhan apapun itu.

Tarian ini diciptakan oleh Galuh Winda Olief dan Riyani Fajriyati pada tahun 2019 yang terinspirasi dari cerita legenda Joko Budug yang berasal dari daerah Ngawi, Jawa Timur yang kemudian diolah dan dikreasi menjadi sebuah bentuk bahasa tubuh atau tarian yang apik dan enak untuk di saksikan.

Tari Ishwari Murraya ini ditarikan di Societet Militair Taman Budaya Yogyakarta, yang diselenggarakan oleh Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta dalam rangka ujian koreografi 3, pada tanggal 20, 21, 22  Januari 2019, tepatnya pada pukul 19.30 sampai selesai. Total garapan karya tari yang ditampilkan sebanyak 39 karya, dengan pembagian 13 karya per harinya.

Ujian Koreografer 3 ini pada tahun ini mengangkat tema “Harmonisasi Warisan Nusantara” yang mempunyai makna, bagaimana cara menghargai keragaman Budaya Nusantara yang diwariskan ke generasi saat ini untuk dapat dilestarikan, dijunjung tinggi nilai-nilai yang terkandung didalamnya serta diinovasi ke sebuah karya dengan cara harmoni.

Berangkat dari inilah para mahasiswa diharapkan mampu menciptakan karya inovasi seni koreografi secara harmoni atau berimbang dalam memadukan warisan budaya masa lampau ke karya seni koreografi inovatip yang enak dinikmati oleh para penontonnya.

Tarian ini sangat cocok ditampilkan pada festival-festival tari atau acara seni budaya karena sifatnya yang dapat ditarikan oleh para penari secara berkelompok dan bersifat menghibur bagi para penontonnya.

Gerak dalam Tari Ishwari Murraya banyak mengambil dari ragam gerak tari gaya Surakarta yang kemudian dikreasi dan dikembangkan sesuai kebutuhan dari cerita tarian ini karena sifat dari tarian ini adalah semi drama. Sedangkan pola lantainya tidak begitu banyak yang digunakan walaupun yang terlihat pola lantainya juga dinamis dan variatif juga.

Busana yang digunakan dalam tarian ini terbagi menjadi dua, dimana pada busana penari putrinya menggunakan mekak, rok potongan berwarna putih sedangkan pada kepalanya menggunakan sanggul kreasi, sedangkan pada penari prianya menggunakan celana putih gombong dan baju singlet.

Pemilihan warna yang mendominasi coklat dan putih mempunyai makna tentang kesucian dan keagungan, dengan riasan yang digunakan adalah riasan cantik untuk perempuan untuk laki-laki dengan riasan cakap. Hal ini dilakukan agar menimbulkan karakter peran yang ditampilkan diatas penggung. Properti yang digunakan yaitu terdapat kain putih, batu dan daun.

Irama musik yang digunakan secara total mengunakan gamelan klasik Jawa yang dipadu atau digabung dengan alat musik yang menggunakan senar. Semua ini dengan maksud ingin menampilkan karakter penarinya sesuai dengan yang diinginkan oleh sang koreografer.

Sebuah tarian yang memberikan kita pelajaran hidup, dimana kita sebagai manusia hendaklah selalu mensyukuri segala nikmat atau rejeki yang kita dapat dari Yang Maha Kuasa apapun itu, karena semuanya itu hanyalah sebuah titipan dan sifatnya tidak kekal bagi manusia di dunia ini, ujar Galuh Winda Olief.

Source https://myimage.id https://myimage.id/tari-ishwari-murraya/
Comments
Loading...