Kesenian Beksan Menak Dewi Widaningsih Dewi Kuroisin

0 22

Beksan Menak Dewi Widaningsih Dewi Kuroisin merupakan sebuah tari klasik gaya Yogyakarta yang mengisahkan tentang peperangan antara Dewi Kuroisin dari negeri Ngajrak melawan Dewi Widaningsih dari negeri Tartaripuro yang ingin balas dendam dengan matinya Dewi Adaninggar oleh Imam Suwongso. Walaupun keduanya sama-sama sakti tapi pada akhirnya peperangan ini dimenangkan oleh Dewi Kuroisin. Beksan menak merupakan salah satu tari menak klasik gaya Yogyakarta yang diciptakan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX.

Ide tarian ini didapat beliau ketika melihat pertunjukan wayang golek menak yang dipentaskan oleh seorang dalang dari daerah Kedu pada tahun 1941 yang merupakan perpaduan antara budaya Jawa dengan Islam. Dari sinilah maka beliau dibantu oleh seniman-seniman tari dan karawitan Kraton Yogyakarta menciptakan tarian ini dan beliau terjun secara langsung dalam penciptaan tarian menak ini. Selain ide ceritanya mengambil dari serat menak, juga memasukan stilisasi gerak sholat yang selalu mengawali setiap frase tarinya. Sebagai seorang pembaharu dan pengembang tari klasik gaya Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono IX juga memasukan ekspresi topeng, kendangan Sunda dan Pencak Minang.

Tarian ini ditarikan pada Pagelaran Pariwisata di Pendopo Trajumas oleh Sanggar Tari Pusat Olah Seni dan Bahasa Retno Aji Mataram, yang merupakan sebuah acara rutin yang kali ini digelar pada tanggal 26 Agustus 2018 yang bertujuan sebagai tontonan bagi wisatawan lokal maupun asing yang datang mengunjungi Kraton Yogyakarta. Selain itu, pagelaran ini sebagai tempat dan sarana ekspresi bagi seniman-seniman Yogyakarta. Pusat Olah Seni dan Bahasa Retno Aji Mataram (POSRAM) adalah sebuah sanggar tari klasik gaya Yogyakarta dan tari modern yang berdiri pada tanggal 9 Juli 1984 yang didirikan oleh Dr. KRT. Sunaryadi Maharsisworo, SST. M. Sn. Sanggar tari ini mempunyai base camp di jalan Gedongkiwo MJ I/886 Yogyakarta 55142- Indonesia.

Gerak pada Beksan Menak Dewi Widaningsih Dewi Kuroisin ini sangat spesifik, disini mencoba menirukan gerak wayang golek, dimana geraknya terkesan patah-patah, agak kaku serta kebanyakan bentuk tangannya ngruji dan tegas. Dan ada yang beda pada gerakan yang dilakukan Dewi Widaningsih (putri Cina), dimana lebih memperlihatkan gerakan dari negeri Cina (Kungfu). Gerak beksan ini juga memasukan unsur gerak Pencak Silat Sumatra Barat. Ide ini didapat dari Sri Sultan Hamengku Buwono IX, ketika menyaksikan suguhan Pecak Silat Gaya Sumatra Barat (Minang) ketika berkunjung di daerah Bukit Tinggi.

Busana yang dikenakan pada Beksan Menak Dewi Widaningsih Dewi Kuroisin ini juga mengalami perkembangan jaman, artinya tidak seperti pada busana wayang wong pada umumnya. Karena tarian ini mengambil dari Serat Menak yang berhubungan dengan napas Agama Islam yang menjadi latar belakangnya, maka seluruh penarinya menggunakan busana lengan. Sedangkan busana pelengkap lainnya menggunakan celana cindhe, kain motip parang, selendang cindhe dan asesoris jamang (hiasan kepala), sumping, klat bahu (gelang tangan) dan kalung susun tiga. Pada Jamang ada yang khas pada tarian ini dimana terdapat untaian mote-mote warna emas yang dipakai oleh penari Cina. Walaupun sudah ada pakemnya tapi oleh para seniman Yogyakarta di buat lebih kreatif mungkin tanpa meninggalkan pakem-pakem yang sudah ada.

Ada yang spesifik dari Dewi Widaningsih (putri Cina) menggunakan riasan khusus yang mempertegas sebagai seorang putri dari Negara Cina. Property yang dikenakan dalam Menak Dewi Widaningsih Dewi Kuroisin adalah keris. Dari segi iringan gendhingnya pada tarian ini, umumnya menggunakan gamelan klasik Jawa berlaraskan pelog. Teknik kendangnya mengadopsi kendangan dari daerah Sunda yang dimodifikasi dengan instrument kecrek dan keprak atau dhodhogan seperti yang biasanya dipakai pada pertunjukan wayang kulit, sedangkan gendhingnya menggunakan playon, diteruskan ketawang brondong mentul laras pelog pathet barang, kembali playon. Sebuah karya tari yang harus dilestarikan dan dikembangkan secara nyata karena memiliki makna yang mengajarkan tentang nilai moral yang mengarahkan manusia untuk berolah rasa, kalbu guna meningkatkan sensibilitas sehingga dapat berkelakuan baik melalui pemahaman terhadap nilai kebaikan dan keutamaan.

Source https://myimage.id https://myimage.id/beksan-menak-dewi-widaningsih-dewi-kuroisin/
Comments
Loading...