Kesenian Bedhaya Murti Panukmaningsih

0 13

Bedhaya Murti Panukmaningsih adalah sebuah tarian klasik gaya Yogyakarta yang menceritakan tentang gambaran perjalanan sepasang manusia yang saling mencintai untuk menuju ke arah pernikahan. Menurut makna filosofinya murti mengandung arti indah, sadangkan panukmaningsih mengandung arti rasa penyatuan cinta.Tarian terispirasi dari tari Bedhaya Manten yang ada di dalam Kraton Yogyakarta yang hanya diperuntukan untuk putra-putri Sultan yang mengadakan pernikahan di dalam Kraton. Alm. KRT Sasmintadipura (Romo Sas) menciptakan Bedhaya Murti Panukmaningsih spesial untuk pernikahan putra kedua GBPH Pujokusumo yang mempunyai Ndalem Pujokusuman yaitu RM Ibnu Titiy Murhadi dengan R.Aj Dyah Retno Kurniasih yang merupakan permintaan dari istri GBPH Pujokusumo.

Acara ini merupakan program rutin dari Taman Budaya Yogyakarta yang diselenggarakan untuk program aksi dari team Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) yang sekarang ini digalakan oleh Kementrian Kebudayaan. Salah satu syarat yang harus dipenuhi untuk bisa di ikut dalam acara ini dan mendapat sertifikasi, karya ini harus ada dokumentasi, diskripsi kajian akademik terkait dengan karya tersebut. Taman Budaya Yogyakarta membuat kajian tarian ini secara kontekstual dari sebuah setting sejarah yang nantinya  layak untuk diangkat menjadi sumber cerita dalam petilan keduan tarian ini. Dengan pertunjukan seperti ini dapat berdampak positip terhadap generasi muda kedepannya. Muatan edukasi lah yang lebih dipentingkan untuk acara ini.

Perbedaan Bedhaya Manten dengan Bedhaya Murti Panukmaningsih yang paling signifikan adalah susunan penarinya, dimana Bedhaya Manten jumlah penarinya 6 orang sedangkan Bedhaya Murti Panukmaningsih jumlah penarinya 7 orang. Ragam geraknya juga tidak boleh sama dengan Bedhaya Manten. Formasi tarian ini menggambarkan tentang perjalanan kehidupan sepasang kekasih menuju jenjang pernikahan yang harus melalui jalan yang berliku-liku, yang didalamnya menghadapi halangan dan rintangan Tapi semua itu akhirnya dengan berkat Yang Maha Kuasa keduanya bisa mencapai jenjang pernikahan.

Jumlah penarinya 7 orang ini juga mempunyai makna filosofis yang dalam dalam adat Jawa, yaitu tujuh itu pitu (dalam bahasa jawa) yang berarti akan mendapat pitulungan (pertolongan), pituduh (petunjuk) dan pituwas (mendapat hasil) dari Yang Maha Kuasa. Simbol-simbol kesakralan dalam menjalani biduk rumah tangga dalam mengayomi kehidupan pernikahan adat Jawa semua tergambar dalam tarian ini, seperti melempar daun suruh, membasuh kaki. Prosesi pernikahan ini terlihat dalam tarian ini secara keseluruhan. Formasi 313 menggambarkan satu ditengah itu seorang penghulu dan tiga di kanan kiri menyimbolkan sepasang pengantin yang didampingi oleh kedua orang tuanya.

Busana yang digunakan pada Bedhaya Murti Panukmaningsih menggunakan dodotan, mekak, dimana pada tarian ini menggunakan baju tanpa lengan atau biasa disebut rompi dengan hiasan bulu di kepala, jamang, slepe, sampur, kain bawah yang menggunakan motip parang gendreh, walaupun sebenarnya banyak juga yang menggunakan motip yang lain seperti motip parang barong, klitik dimana ada yang pakai atau tidaknya memakai gordo. Riasan pada tarian ini menggunakan riasan jahitan yang memperkuat kecantikan penarinya ketika tampil dipanggung, selain itu pada tarian ini penari menggunakan paes manten atau riasan yang sering di pakai oleh para manten dengan gelung bokornya pada rambut penari.

Gendhing yang mengiringi Bedhaya Murti Panukmaningsih ada beberapa gendhing antara lain, gendhing iren-iren yang didalam lagon ini mengandung makna atau menggambarkan kesuburan, salah satu wujud tumbuhan yang rimbun dan banyak sulurnya (cabangnya) yang menandakan kesuburan didalam tubuh wanita untuk cepat mendapatkan keturunan maupun rejeki secara keseluruhan. Juga ada gendhing ladrang sidoasih yang mengandung makna saling mengasihi dan diakhiri dengan gendhing gathi wiwoho yang berisikan tentang rasa syukur atas karunia pernikahan ini. Sebuah tarian yang maknanya sangat layak sebagai panutan untuk hidup bagi umat manusia yang mengajarkan kita bagaimana harus menjalani kehidupan dalam bahtera rumah tangga kita harus saling menyayangi dan saling mengisi satu sama lain baik dalam suka maupun duka. Hanya ajal saja yang dapat memisahkan kehidupan ini.

Source https://myimage.id https://myimage.id/bedhaya-murti-panukmaningsih/
Comments
Loading...