Kesenian Bedhaya Adanu Jumantoro Surakarta

0 39

Bedhaya Adanu Jumantoro yang merupakan sebuah tari klasik gaya Surakarta yang di dalamnya menceritakan tentang keagungan alam semesta yang menerangi manusia di didunia ini yang didalamnya berisi doa kepada Yang Maha Kuasa.

Secara makna filosofi Bedhaya Adanu Jumantoro  ini mengandung arti yang sangat dalam, dimana Adanu mempunyai arti cahaya sedangkan Jumantoro mempunyai arti angkasa, langit atau dirgantara, sehingga kalau digabung mempunyai arti cahaya dari langit yang merupakan sebuah wahyu dari Yang Maha Kuasa untuk manusia di bumi ini.

Tarian ini ciptaan dari Sri Wardoyo, S.Sn pada tahun 2019, yang secara khusus diciptakan untuk ditampilkan dalam acara Launching Yayasan Seni Adanu Jumantoro ini dilaksanakan di Cagar Budaya Pendopo Adanu Jumantoro milik TNI Angkatan Udara Surakarta pada hari Rabu tanggal 27 Pebruari 2019, jalan Honggowongso Kusumodiningratan, Kemlayan, Serengan Surakarta, pada pukul 19.00 wib sampai selesai.

Tema Launching Yayasan Seni Adanu Jumantoro kali ini adalah “Tradisi Nafasku, Budaya Nadiku” yang secara keseluruhan mempunyai makna tentang kehidupan, bagaimana cara orang Jawa ini mengkreasikan seni budayanya menjadi sesuatu yang langgeng, utuh dengan mengikuti perkembangan jaman.

Bedhaya Adanu Jumantoro ini didalamnya mengandung makna yang sangat dalam sekali, dengan bentuk lingkaran yang ditarikan oleh 9 penari, 1 penari sebagai poros dalam lingkaran yang menggambarkan bumi yang di kelilingi oleh planet-planet di alam semesta ini, yang kemudian muncul bulan, bintang dan matahari yang semuanya memancarkan cahaya sebagai gambaran wahyu dari Yang Maha Kuasa untuk manusia di dunia ini.

Sri Wardoyo, S.Sn lahir di Surakarta pada tanggal 29 Nopember 1964. Selama ini karya-karya beliau banyak berupa tari-tari Bedhaya, diantaranya Bedhaya Rahatnolo yang merupakan Bedhaya Kakung yang menceritakan tentang Arjuna yang di kutuk menjadi seorang wanita, selain itu ada Bedhaya Cepuri Tirto dan Bedhoyo Eko Wahyu Buwono yang merupakan Bedhaya Kakung yang jumlah penarinya 3 orang.

Gerak dalam tarian ini banyak menggunakan ragam gerak tari klasik gaya Surakarta, tapi kali ini beliau hanya menyusun saja gerak-gerak yang sudah ada yang dirangkai yang disesuaikan dengan inti ceritanya. Pola lantai yang digunakan mulai dari bentuk melingkar, montor mabur, supit urang dan garis lurus.

Busana yang digunakan merupakan busana tradisi yang sudah ada, memakai dodot ageng yang biasanya digunakan di Kraton Surakarta, dimana bawahannya menggunakan motip cinde, sampur polos hijau yang merupakan khas Kraton Surakarta, sanggulnya Jawa Bangun Tulak yang tidak memakai cunduk mentul. Busananya menggunakan konsep tentang kesederhanaan.Irama yang mengiringi Bedhaya Adanu Jumantoro menggunakan gamelan klasik Jawa, dimana gendhingnya hanya menggunakan Kemenak dan Ketawang saja.

Sebuah ke Agungan Tuhan Yang Maha Kuasa yang harus di syukuri oleh manusia sebagai hambaNya di dalam kehidupan di dunia ini. Semua ini dilakukan lewat doa yang khusuk dan hening yang diwujudkan dalam bentuk sebuah tarian Bedhaya, ujar Sri Wardoyo, S.Sn.

Source https://myimage.id https://myimage.id/bedhaya-adanu-jumantoro/
Comments
Loading...