Kesenian Bangreng

0 31

Kesenian Bangreng

Salah satu seni tradisi yang saat ini tidak begitu dikenal bahkan mungkin oleh masyarakat Jawa Barat pada umumnya adalah keseniang Bangreng yang berasal dari Sumedang. Kesenian ini mulai ditinggalkan pada zaman modern ini. Namun ada baiknya kita mengenal mengenai seluk beluk Kesenian Bangreng tersebut sebagai pengetahuan adanya kesenian pada waktu yang telah lalu. Dari sekian banyak seni tradisional yang masih hidup dalam masyarakat Jawa Barat, semuanya memiliki makna dan fungsi yang berarti bagi masyarakat. Salah satu jenis seni tradisional yang masih eksis tersebut adalah seni tradisional Bangreng ini berkaiatan erat dengan kegiatan-kegiatan ritual khususnya dalam kehidupan masyarakat agraris. Seni Bangreng ini merupakan bentuk seni rakyat yang memiliki nilai religi yang cukup tinggi bagi masyarakat pendukungnya. Oleh karena itu saat ini seni Bangreng masih tetap ada maupun tampil di dalam kehidupan masyarakat, bahkan masih dianggap atau dijadikan simbol religi dalam upacara ritual desa walaupun masih ada juga masyarakat yang kurang begitu mempercayai terhadap makna dan religi tersebut.

Seni bangreng merupakan salah satu jenis kesenian rakyat yang makin popular khususnya di Kabupaten Daerah Tingkat II Sumedang, namun sayangnya hingga saat ini belum ada keterangan yang jelas mengenai kapan dan dimana awal lahirnya seni bangreng ini. Lilis Sumiati, dkk., dalam buku Capita Selekta Tari ( 1996 : 1 ) mengatakan bahwa Bangreng merupakan kesenian rakyat khas daerah sunda, yang perkembangannya mengalami beberapa periode, yaitu

  • Periode ketika terbang berfungsi sebagai alat untuk menyebarkan agama Islam, kira-kira tahun 1550 ;
  • Periode ketika terbang mengalamai perkembangan dan berubah menjadi gembyung, kira-kira tahun 1956;
  • Periode ketika gembyung mengalami perkembangan dan berubah menjadi bangreng, kira-kira tahun 1968.

Dari keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa seni bangreng merupakan metamorfosa dari seni terbang yang pada mulanya berfungsi sebagai sarana dakwah agama Islam. Hal ini dimungkinkan karena berdasarkan tinjauan sejarah kebudayaan masyarakat sumedang bahwa kesenian tradisioanal terbang dibawa oleh para saudagar Islam dari Cirebon yang kemudian dikembangkan oleh kalangan santri dalam rangka syi’ar agama Islam di Sumedang. Kemudian terbang mendapat pengaruh dari seni ketuk tilu, sehingga ia berkembang dan kemudian disebut gembyung, seperti diungkapakan Atik Sopandi dan Enoch Atmadibrata (1983: 45) yang menyatakan bahwa :

Gembyung adalah seni terbang yang telah dikombinir dengan alat bunyi-bunyian ketuk tilu antara lain empat buah terbang, kendang, dan kulanter, goong dan kempul, saron, dan rebab. Selanjutnya beliau menambahkan bahwa :

Gembyung sumedang terdiri dari instrument-instrumen 5 buah gembyung atau terbang besar, kendang, dan goong awi ( goong bumbung yang terbuat dari seruas bambu )”.

Perkembangan dari jenis kesenian gembyung di Sumedang disebut bangreng. Menurut data lain ditemukan bahwa seni gembyung berubah atau berkembang menjadi seni bangreng sekitar tahun 60-an. Pada saat ini seni gembyung mendapat penambahan alat yang terdiri dari kendang dan kulanter, terbang besar, rebab atau terompet (yang berfungsi sebagai melodi), goong dan kempul, serta dua buah saron (Atik Sopandi dan Enoch Atmadibrata, 1983: 45). Selain itu perubahan juga terjadi pada lagu-lagu yang disajikan, syair-syair berhubungan dengan ke-agamaan berubah menjadi lagu-lagu yang diambil dari gamelan seperti : Kidung, Baju Beureum, Turun Sintren, Kicir-kicir, Rincik Rincang, Adem Ayem, dan se-bagainya (Ibid, halaman 45). Pada tahun 1975 seni Bangreng mendapat penambahan alat yaitu dengan seperangkat gamelan lengkap.

Source https://www.tradisikita.my.id/ https://www.tradisikita.my.id/2016/09/mengenal-tradisi-seni-bangreng.html

Leave A Reply

Your email address will not be published.