Kesantunan Manusia Jawa

0 447

Kesantunan Manusia Jawa

Kesantunan dalam masyarakat Jawa didominasi oleh rasa. Inilah yang membedakan antara budaya barat dan budaya Jawa. Dalam bertindak, berbahasa, berkomunikasi, dalam mengambil keputusan tidak hanya berdasarkan logika pikir, tetapi rasa dan pikir atau nalar terjadi secara otomatis.

Prinsip kerukunan itu mengatakan bahwa dalam setiap situasi manusia Jawa hendaknya bersikap sedemikian rupa untuk tidak menimbulkan konflik. Bila antar warga masyarakat rukun hubungan antar mereka menjadi harmonis.

Rukun berarti harmonis atau selaras, tanpa perselisihan dan pertentangan. Masyarakat dalam keadaan seperti ini disebut toto tentrem. Keadaan toto tentrem inilah yang diidamkan manusia Jawa.

Orang Jawa otentik memiliki sifat yaitu :

 -andhap asor,

– tepo seliro),

-empan papan, dan

-ojo dumeh.

Andhap asor tidak berarti rendah diri, tetapi rendah hati. Kata andhap asor sejajar dengan lembah manah (Javanese Encyclopedia, 2008). Orang yang bersikap andhap asor tidak mau menonjolkan diri meski pun sebenarnya ia memiliki kemampuan.

Orang Jawa sangat mengutamakan sifat andhap asor bila berhubungan dengan orang lain. Orang yang bersikap andhap asor akan ditinggikan atau dihormati oleh orang lain. Sebaliknya orang merendahkan orang lain dan tidak menunjukkan rasa hormat kepada orang lain baik dalam bertutur kata maupun bertindak ia akan dianggap tinggi hati.

Orang yang mempunyai sikap tepo seliro tidak akan mudah menyalahkan atau mencela orang lain. Ia tidak akan melakukan hal yang buruk kepada orang lain, karena ia juga tidak akan mau diperlakukan seperti itu.

Manusia Jawa yang otentik memiliki sikap empan papan. Sikap empan papan adalah sikap yang menunjukkan pertimbangan tidak bertentangan dengan tempat, waktu, dan keadaan dalam berperilaku untuk menjaga keselarasan. Orang Jawa selalu dituntut untuk berhati-hati dalam berbicara.

Bagi orang Jawa kebenaran mengenai sesuatu sikap dan tindakan itu relatif. Artinya, baik atau benar pada suatu waktu, tempat atau bagi orang lain dapat menjadi tidak benar atau tidak baik bila diterapkan pada waktu, tempat atau pada orang lain. Sehingga harus mengetahui situasi.

Source Kesantunan Manusia Jawa situs sutresno jawa
Comments
Loading...