Kesalahpahaman Mengenai Syekh Siti Jenar, Ki Ageng Mangir, dan Asal Usul Nama Bantul

0 108

Sejarah adalah sesuatu yang samar, bahkan sampai saat ini baru sebagian kecil yang telah diketahui. Sejarah tersebut tersamar oleh legenda-legenda, cerita-cerita, ataupun dongeng yang berkembang di masyarakat. Cerita-cerita tutur tersebut mampu membentuk suatu pengertian atau pemahaman, tanpa diketahui benar atau salah. Akibatnya, legenda atau cerita tersebut mendarah daging ketika orangtua menceritakan pada anak-anaknya, ataupun guru kepada siswanya.

Di Indonesia sendiri terdapat beberapa legenda yang terkenal, seperti Malin Kundang, Legenda Roro Jonggrang, dll. Cerita-cerita tersebut mampu menghibur serta memberi pembelajaran pada masyarakat tentang hubungan antar sesama manusia. Meskipun begitu, dengan alur cerita seperti itu, akan sulit bagi masyarakat untuk mempelajari sejarah, kenyataan yang pernah terjadi.

Cerita-cerita tutur yang banyak berkembang di masyarakat kebanyakan sudah berbelok, artinya sudah jauh dari kisah sesungguhnya, dengan campur tangan beberapa pihak. Contoh yang paling mencolok adalah kisah tentang Syekh Siti Jenar dan Ki Ageng Mangir Wonoboyo. Dua kisah tersebut sangat dikenal oleh sebagian masyarakat Jawa. Yang pertama dikatakan sebagai wali yang mempunyai paham menyimpang yang dikenal dengan sebutan “Manunggaling Kawula Gusti”, sedang yang kedua adalah tokoh yang dikenal karena perseteruannya dengan Panembahan Senopati, Raja Mataram.

Dalam perkembangannya, cerita tentang Syekh Siti Jenar yang dikatakan sebagai wali yang menyimpang mendapat perhatian yang cukup serius. Secara logika, meskipun cerita-cerita tentang wali banyak dihiasi keajaiban serta karomah-karomah, akan tetapi ketika manusia yang tercipta dari seekor cacing, kemudian mati dengan wujud seekor anjing, sungguh tidak masuk diakal. Semakin janggal ketika mayoritas wali yang ada di Jawa merupakan Ahlul Bait, membunuh seorang Ahlul Bait lainnya. Kemungkinan yang terjadi adalah, peranan penjajah kolonial Belanda sangat besar. Konsep-konsep pembagian strata dalam agama Islam, yang dibuat seperti tingkatan-tingkatan dalam agama Hindu juga merupakan usaha untuk memecah belah masyarakat. Priyayi, Santri, serta Abangan, yang populer di kalangan masyarakat tidak lebih merupakan usaha adu domba.

Kemudian, legenda tentang Ki Ageng Mangir, yang berselisih dengan Panembahan Senopati, serta kuburannya yang terpisah, separuh di dalam separuh di luar kompleks makam sangat populer di kalangan masyarakat, khususnya masyarakat Yogyakarta. Satu yang mungkin belum diketahui oleh masyarakat adalah, bahwa Desa Mangir adalah daerah perdikan, yang bebas dari campur tangan pihak yang berkuasa. Desa Mangir adalah sebuah desa yang terletak di pinggir pertemuan dua sungai, Progo dan Bedog, di sebelah utara barat kota Yogyakarta. Desa tersebut merupakan daerah tua yang pertama kali dipimpin oleh Raden Alembu Amisani, atau Raden Megatsari, atau Ki Ageng Mangir I, salah seorang putra Brawijaya yang ke-43 dari 117 bersaudara (Babad Tanah Jawi). Kemudian keturunan kedua bergelar Ki Ageng Mangir II, atau Ki Ageng Wanabaya I, sampai yang paling terkenal Ki Ageng Mangir IV, atau Ki Ageng Wanabaya III.

Sebagai daerah perdikan, tentu saja terdapat penolakan ketika tiba-tiba utusan dari suatu pihak yang berkuasa meminta untuk patuh dan tunduk. Sebagai pemimpin, Ki Ageng Wanabaya III mempunyai pendirian yang teguh. Ia juga mematuhi leluhurnya yang telah mewariskan daerah itu kepadanya. Hal itulah yang menyebabkan timbulnya pengertian membangkang, sampai akhirnya Panembahan Senopati memperoleh cara untuk menaklukkannya, yaitu dengan menikahkan putrinya dengan Ki Ageng Wanabaya III.

Cerita mengenai saat-saat boyongan dari Mangir ke Mataram merupakan sebuah kisah yang dramatis, hanya sayang tidak banyak masyarakat yang mengetahuinya. Kisah ini dapat dibaca dalam Babad Mangir. Dalam adegan ini pulalah kata BANTUL berasal, karena banyaknya EMBAN yang membawa uba rampe serta srah-srahan dengan cara dipikul yang MENTUL-MENTUL. Itulah asal dari kata BANTUL, yang kini menjadi salah satu kabupaten di Daerah Istimewa Yogyakarta, emBAN dan menTUL (Ki Ageng Mangir, Cikal Bakal Desa Tertua di Bantul, Komunitas Projotamansari Bantul, 2010).

Jika dirunut lebih jauh lagi, Panembahan Senopati dan Ki Ageng Mangir masih bersaudara. Dalam Babad Tanah Jawi, diceritakan bahwa Prabu Brawijaya berputra 117, diantaranya Raden Bondan Kejawan, yang berputra Ki Ageng Getaspendawa, yang menurunkan Ki Ageng Sela sampai Ki Ageng Pemanahan kemudian Danang Sutawijaya (Panembahan Senopati). Sementara Ki Ageng Mangir I yang menurunkan Ki Ageng Wanabaya III, merupakan keturunan Brawijaya ke-43.

Diceritakan juga bahwa Ki Ageng Wanabaya III merupakan tokoh yang sakti, maka tidak akan semudah itu Panembahan Senopati membunuhnya dengan cara membenturkan kepalanya ke tempat duduknya. Penyanggahan bahwa terjadi pembangkangan juga muncul dari masyarakat Desa Mangir. Bahkan komunitas Projotamansari Bantul belum lama ini telah menerbitkan sebuah buku berjudul “Ki Ageng Mangir, Cikal Bakal Desa Tertua di Bantul” dengan pengantar Pak Damardjati Supadjar, dosen UGM. Dalam buku tersebut banyak penyanggahan-penyanggahan terhadap tuduhan bahwa Ki Ageng Mangir merupakan pembangkang, dengan cerita-cerita yang menyertainya.

Kenapa cerita yang indah tersebut bisa menjadi sebuah cerita pembangkangan terhadap penguasa, tentu saja campur tangan dari pihak luar yang tidak menginginkan masyarakat Mataram-Mangir guyub, karena guyub adalah sikap yang sulit dikalahkan, dan masyarakat Jawa terkenal salah satunya karena ke-guyuban-nya.

 

Source Kesalahpahaman Mengenai Syekh Siti Jenar, Ki Ageng Mangir, dan Asal Usul Nama Bantul
Comments
Loading...