Sejarah Kerajaan Kanjuruhan

0 301

Sejarah Kerajaan Kanjuruhan

Kerajaan Kanjuruhan adalah kerajaan Hindu yang berdiri pada abad ke 7 atau sekitar tahun 670 Masehi, di antara Sungai Brantas dan Sungai Metro, di lereng sebelah timur Gunung Kawi. Di dataran yang sekarang bernama Dinoyo, Merjosari, Tlogomas, dan Ketawanggede Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang. Berdasarkan prasasti yang tulisan tahunnya berbentuk Condro Sangkala, berbunyi Nayana Vasurasa yang berarti angka tahun 682 saka atau tahun 760 terletak di desa Dinoyo, sebelah barat laut Kota Malang. Prasasti tersebut berhuruf Kawi dan berbahasa Sanskerta, yang bercerita bahwa pada abad VIII ada kerajaan yang berpusat di Kanjuruhan—sekarang desa Kejuron—dengan raja-nya bernama Dewasimha dan berputra Limwa.

Kerajaan Kanjuruhan kemudian berkembang pesat pada masa pemerintahan Raja Gajayana, putra Dewasimha yang awalnya bernama Limwa, baik dari segi pemerintahan, sosial, ekonomi maupun seni budayanya. Dengan sekalian para pembesar negeri dan segenap rakyatnya, Raja Gajayana memerintahkan pembangunan tempat suci pemujaan, yakni Candi Badut diresmikan tahun 760 untuk memuliakan Sang Resi Agastya. Upacara peresmian dilakukan oleh para pendeta ahli Weda (agama Siwa).Raja Gajayana juga menyuruh membuat arca sang Resi Agastya dari batu hitam yang sangat elok, sebagai pengganti arca Resi Agastya yang dibuat dari kayu oleh nenek Raja Gajayana. Sehingga di dalam bangunan kuno berlanggam Jawa Tengah yang bernama Candi Badut ini terdapat lingga, mungkin lambang Agastya. Dan sebagian dari Candi Badut masih tegak, hingga saat ini masih bisa kita temui di desa Kejuron.

Raja Gajayana hanya mempunyai seorang putri, yang diberi nama Uttejana. Seorang putri kerajaan pewaris tahta Kerajaan Kanjuruhan. Ketika dewasa, Uttejana dijodohkan dengan seorang pangeran dari Paradeh bernama Pangeran Jananiya. Akhirnya Pangeran Jananiya bersama Permaisuri Uttejana, memerintah Kerajaan Kahuripan warisan ayahnya ketika sang Raja Gajayana meninggal.

Kerajaan Kanjuruhan tidak mampu bertahan lama, karena sekitar tahun 847 Masehi, Kerajaan Mataram Kuno di Jawa Tengah yang diperintah oleh Sri Maharaja Rakai Pikatan Dyah Saladu, melakukan perluasan ke Pulau Jawa bagian timur, tanpa peperangan. Hal ini membuat Kerajaan Kanjuruhan takluk oleh Rakai Watukura dari kerajaan Mataram kuno tersebut. Setelah takluk penguasanya dianggap sebagai raja bawahan dengan gelar Rakai Kanjuruhan di bawah kekuasaan Kerajaan Mataram Kuno.

Walaupun demikian Kerajaan Kanjuruhan tetap memerintah di daerahnya. Hanya setiap tahun harus melapor ke pemerintahan pusat. Di dalam struktur pemerintahan Kerajaan Mataram Kuno zaman Raja Balitung, Raja Kerajaan Kanjuruhan lebih dikenal dengan sebutan Rakryan Kanuruhan, artinya “Penguasa daerah” di Kanuruhan. Kanuruhan sendiri diartikan perubahan bunyi dari kata Kanjuruhan.

Hubungan antara bekas kerajaan Kanjuruhan yang kemudian menjadi kerajaan bawahan Mataram Kuno tercatat dalam Prasasti Sangguran atau Batu Minto ini merupakan prasasti beraksara dan bahasa Jawa Kuno yang berasal dari  abad ke-10 dari daerah Ngandat, Malang, Jawa Timur. Prasasti Sangguran ini pernah dibawa ke luar negeri oleh Stamford Raffles pada 1814, sehingga prasasti ini juga dikenal dengan nama ‘Lord Minto’ atau ‘Minto Stone’ dalam versi Skotlandia.

Source Sejarah Kerajaan Kanjuruhan Wacana
Comments
Loading...