Kedudukan Pujangga di Kerajaan Jawa

0 291

Kedudukan Pujangga di Kerajaan Jawa

Tidak jarang seorang ahli nujum kraton merangkap predikat selaku pujangga kraton. Pujangga kraton pada dasarnya adalah predikat yang diberikan pihak kraton kepada orang yang menggubah karya sastra : pada zaman Jawa-Budha dan Jawa-Hindu, pujangga kraton memperoleh julukan Empu. Tapi pada zaman Jawa-Islam, pujangga kraton memperoleh julukan Kyai. ltulah sebabnya, mengapa dikenal nama Empu Kanwa, Empu Sedah, Empu Tantular, Empu Tanakung, Empu Prapanca.Sehingga banyak faktor yang mempengaruhinya.

Itulah pula sebabnya, mengapa dikenal nama Kyai Jasadipura dan Kyai Ronggowarsito. Sebutan-sebutan Empu dan Kyai pada hakekatnya menyimpan konvensi yang aktual dan berkembang di era dan zamannya masing-masing.

Para penelaah dan pakar sastra Jawa Madya dapat melakukan tinjauan lebih jauh, khususnya pada konteks karya-karya pujangga yang disemayamkan di desa Palar ini dalam hubungannya dengan nujum kraton terhadap zamannya dan zaman selebihnya.

Bila terjadi suatu pendapat dari seorang pujangga kraton sekaligus ahli nujum kraton, sebenarnya hal itu berasal dari satu-dua perkecualian akan tetapi diterapkan pukul rata.Belum pernah dalam sejarah sastra Jawa dapat menyaksikan kontras perbandingan dalam kesaksiannya, yang jernih dan bening seperti zaman kini.

Selain karya-karya yang sudah berhasil diungkapkan para pakar sastra Jawa Kuna dan Jawa Madya, kedudukan dan peranan para pujangga zaman dahulu dan pengarang zaman kini berada pada penampang yang menarik untuk dikaji lebih jauh.Adapula apresiasi  dari zaman ke zaman bagi sang pembuat karya.

Pujangga Jawa Kuna dan Jawa Madya identik dengan pujangga kraton, yang secara jelas terinci dalam dua zaman. Zaman Renaisan Jawa I antara abad 8 sampai 15, yaitu Jawa Budha dan Jawa Hindu. Zaman itupun dapat berlaku surut, mungkin mulai abad I Masehi tapi sukar mencari fakta konkret. Kemudian zaman Renaisan Jawa II antara abad 16 sampai awal abad 20, yaitu Jawa Islam.

Kraton-kraton Jawa Kuna yang ada pada pujangga Jawa Kuna antara lain:

-Kahuripan,

-Kediri,

-Singosari,

-Majapahit.

Masa perubahan dari  zaman Jawa Kuna ke Jawa Madya tidak pernah jelas. Paling tidak sampai kini, ikhtisar peralihan dari sastra Jawa Kuna ke Jawa Madya belum pernah ditelaah dan dibukukan oleh pakar sastra Jawa Peralihan.

Pangeran Karanggayam selaku pujangga kraton Pajang dan Sultan Agung selaku pujangga Serat Sastra Gendhing, mungkin saja dianggap sebagai sosok-sosok yang mengawali pujangga Jawa Madya. Serat Sastra Gendhing itu sendiri sebenarnya sudah ada hal-hal yang mengganjal di belakangnya.

Suripan Sadi Hutomo menyusun buku Antologi Puisi jawa Modern 1940-1980 dan JJ Ras menyusun Bunga Rampal Sastra jawa Modern. Tapi seandainya saja karya-karya dalam dua buku antologi tersebut dijadikan kartu utama untuk menjawab prestasi dan prestise keberadaan sastra Jawa Modern, sudah tentu bahwa, dugaan terhadap pengarang sastra Jawa Modern belum memperlihatkan pamornya akan dibenarkan banyak pihak. Kebangkitan kembali pengarang Jawa Modern yang memakai wahana ekspresi bahasa Jawa Modern masih butuh waktu lebih lama.

Para pengarang sastra Jawa Modern tidak berasal dan lingkungan kraton, bukan pula berdarah pujangga kraton, akan tetapi berasal dari wilayah pedesaan Jawa. Sesuai dengan trend zaman, mereka pun bergulat dalam kehidupan dan tantangan kongkret, sehingga predikat yang tersemat di bahunya lebih tepat bila dikatakan pengarang urban.

Pada zaman itu pun Mereka tidak memakai bahasa Sansekerta, tidak pula bahasa Jawa Kuna atau Jawa Kawi, bahkan huruf yang dipakai untuk menulis pun bukan huruf Jawa melainkan huruf Latin yang berkembang pada waktu itu.

 

Source Kedudukan Pujangga Di Kerajaan Jawa sejarah singkat
Comments
Loading...