Kawruh Jawa dengan ‘Ruh’

0 130

Jawa lebih sering disebut dengan klenik. Tidak perlu khawatir dengan sebutan klenik yang lebih sering dipahami sebagai sesuatu yang negatif. Dilacak jauh ke belakang, klenik berasal dari kata ‘glenak-glenik’ yang berarti berbincang-bincang dengan sedikit berbisik. Selain sedikit berbisik, glenak-glenik juga dilakukan karena yang dibicarakan adalan ‘barang kang wadi’. ‘Wadi’ini bisa berarti sesuatu yang rahasia, tetapi juga sesuatu yang harus dijaga dengan baik. Dalam hal yang lain, ‘wadi’ berarti juga sesuatu yang tabu atau sesuatu aib.

Jika kita mau seksama membaca situasi lingkungan tempat-tempat tetirah, ziarah, dan menyepi kita akan melihat betapa banyak ragam orang dengan kesibukannya masing-masing. Perbincangan yang dilakukan pun hanya ala kadarnya. Sapaan juga hanya sapaan saja tanpa ada tendensi untuk mencampuri urusan masing-masing pihak. Ini berimplikasi secara nyata pada tidak saling cercanya masing-masing pihak atas tata cara ritual yang dilakukan pihak lain. Inilah kawruh Jawa yang tidak akan melebihi batas-batas dunia batin orang lain.

Perdebatan tentang Tuhan

Beberapa kali bergaul dengan pecinta kawruh sejati, saya jarang mendapati mereka mencoba mendebat atau mencerca kepercayaan lain. Apapun itu. Bagi mereka yang ‘sudah-penuh’ ini merupakan sesuatu yang menyangkut dunia batin orang lain. Perdebatan tentang Tuhan, walaupun juga ‘penting’ dalam pencarian ‘kawruh sejati’ tetapi beberapa sesepuh lebih sering meletakkannya di dapur masing-masing. Artinya bukan sesuatu yang harus diumbar. Toh, tidak ada gunanya juga. Karena pencarian atas dunia kebatinan yang bisa menyatu-utuh pada seseorang bisa berlaku dengan berbagai cara.

Mulder dalam Mistisisme di Jawa bahkan mengatakan bahwa individu harus bertiarap dan tidak menghalang-halangi kelancaran proses itu (pencapaian kebatinan) dengan mendesakkan keinginan atau pendapat pribadinya. Jelas bahwasanya, upaya-upaya mendebat atau mendesakkan ‘kepercayaan’ dirinya tentu bukan upaya untuk mendapatkan kawruh sejati. Lantas apa yang didapatkan? Saya sendiri masih ingin mencari tahu tentang itu. Kawruh Jawa yang dianggap mempunyai kesakralan tertentu menjadi pudar dengan upaya-upaya mendedah nilai kepercayaan orang lain. Apa gunanya coba?

Pada saat yang sama, sebenarnya perlahan kita mulai harus pangawikan pribadi (pengetahuan tentang diri sendiri) Jawa kita. Jawa dalam dimensi yang lebih besar harus kita lihat ulang, kenapa Jawa meredup baik nilai sebagai perangkat lunaknya maupun kekuasaan sebagai perangkat kerasnya. Kita hanya tahu bahwa Jawa sedang berada di pinggiran arus besar. Jangan-jangan memang begitulah Jawa, yaitu mengambil peran-peran kecil dan pinggiran yang tidak diambil oleh orang lain. Bukan karena peran-peran itu adalah sisa-sisa dari lakon besar kehidupan, tetapi karena memang disitulah pilihan yang dipilihkan pada Jawa.

Ihwal semacam ini bisa bermakna sebagai kelenturan Jawa dalam menghadapi perubahan besar jaman. Namun sayangnya ini menjadi pemaaf yang dibesar-besarkan sehingga kebangkitan nilai-nilai Jawa lebih sekedar kawruh yang tanpa ruh. Ruhnya sendiri apa? Ruh dari setiap ilmu pengetahuan (kawruh) saya kira berpusar dan berpusat pada bagaimana memberi kemanfaatan pada banyak orang. Sulit dipahami jika pencarian atas ‘kesejatian’ dalam ilmu pengetahuan apapun jika hanya sekedar untuk ekstase pribadi semata. Ilmu untuk ilmu atau ilmu untuk kemanfaatan pada orang banyak. Jawa dalam arti tidak sekedar Kejawen sebagai kepercayaan, akan kembali pada pusaran arus besar jika saja mampu merevivalisasi nilainya.

Sekali lagi persoalan pembangkitan kembali nilai-nilai Jawa juga tidak semudah yang dibicarakan. Tentunya karena Jawa sendiri mempunyai aspek yang sangat lentur, ketidaktunggalan tafsir, keotonoman dalam berlaku ibadah, dan ujungnya harmoni. Harmoni inilah yang kemudian selalu menempatkan Jawa sebagai kepercayaan tidak akan berbenturan-keras dengan kepercayaan lain, apalagi benturan antar penganut kepercayaan Jawa itu sendiri. Satu hal yang harus diingat, dalam kepercayaan Jawa kita-lah raja atas diri kita. Jadi kitalah dhalang sejati jatining ratu, sebagai ratu atas diri kita sendiri maka kita bebas berkehendak. Nah, kehendak yang dimaksud disini adalah jumbuhing kawula Gusti.

Tunggalnya kehendak hamba dan Gustinya disini sangat bisa bermakna transendental, tetapi bisa juga ini berarti sesuatu yang sangat lahiriah. Dalam hal transcendental atau bahkan dunia batin masing-masing orang tentu tidak mungkin ada penyeragaman. Tentu saja karena pencapaian kesejatian setiap orang berbeda-beda dan unik seperti setiap manusia yang berbeda-beda dan unik masing-masingnya. Namun sebagai makna yang sangat lahiriah, kawruh tunggalnya kehendak hamba dan Gustinya bisa bermakna kemampuan seseorang (pemimpin?) membaca dan mengejawantahkan kebutuhan dan aspirasi orang awam. Disitulah kawruh Jawa berada. Dengan kata lain, kawruh Jawa juga harus mampu menjawab persoalan-persoalan sosial kemasyarakatan. Jika tidak lantas apa gunanya mendapat terang suluh dari kesejatian jika kemudian tidak bisa membaginya dengan banyak orang?

Source https://nalikalodang.wordpress.com https://nalikalodang.wordpress.com/2012/12/28/kawruh-jawa-dengan-ruh/
Comments
Loading...