Kawin Cai, Jawa Barat

0 153
Kawin Cai, Jawa Barat

Kabupaten Kuningan secara turun temurun telah memiliki kearifan lokal dalam menghormati dan menjaga air sebagai sumber kehidupan tradisi tersebut diberinama Tradisi Kawin Cai atau sebelumnya disebut Tradisi Mapag Cai. Masyarakat Kuningan meyakini bahwa air bersih yang berlimpah yang bersumber dari alam yaitu mata air Gunung Ciremai sebagai berkah kehidupan dari Yang Maha Kuasa, oleh karenanya harus dihormati dan dijaga kelestariannya. Tradisi Kawin Cai/ Mapag Cai ini adalah prosesi mempertemukan air dari tujuh sumber mata air Cibulan Desa Manis Kidul dengan air dari sumber mata air Balong Dalam Tirtayatra. Ritual ini biasa dilakukan setiap tahun pada hari kamis malam jumat kliwon.

Inti ritual ini mengawinkan air dari 7 sumur mata air Cibulan dengan mata air Balon Dalem Tirtayatra yang berjarak sekitar 5 kilometer. 7 sumur di mata air Cibulan dilambangkan sebagai pengantin laki-laki. Sementara mata air Balon Dalem disimbulkan sebagai mempelai perempuan.

Sebelum pengambilan air di 7 sumur keramat, dilakukan dulu pembacaan doa di depan petilasan Prabu Siliwangi agar acara kawin cai berjalan lancar.

Satu persatu para sesepuh Desa Manis Kidul mengambil air dari 7 sumur keramat. Masing-masing sumur punya nama khusus, seperti sumber kejayaan, kemuliaan, pengabulan, deranjana, cisadane, kemudahan dan sumur keselamatan.

Konon ke 7 sumur itu merupakan peninggalan Prabu Siliwangi usai bertapa meminta air kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Bagi warga sekitar, air dari 7 sumur ini mengandung berkah dan dipercaya bisa mengobati berbagai penyakit.

Di kolam pemandian Cibulan yang kini jadi tempat wisata ini juga terdapat ikan dengan spesis khusus yakni ikan Kancra Bodas yang dikeramatkan warga. Ikan yang bernama latin Cyprinus carpio ini disebut pula sebagai ikan dewa.

Usai penyatuan 7 air sumur keramat, biasanya hujan langsung turun. Percaya atau tidak, sekitar satu menit kemudian hujan mulai membasahi bumi.

Tapi prosesi kawain cai belum selesai. Air 7 sumur diarak ke mata air Balon Dhalem di Desa Babakan Mulia. Bak menyambut mempelai pria, upacara dan tarian khusus digelar.

Acara puncak ritual kawin cai pun tiba. Air dari 7 sumur keramat Cibulan ditumpahkan ke sumber mata air Balon Dalem Tirtayata. Perkawinan yang disimbulkan dengan penyatuan mata air dari dua desa tersebut merupakan perwujudan doa dan harapan warga agar air tetap mengalir deras.

Layaknya pesta pernikahan, air diarak dan diiringi tari -tarian. Tradisi yang dinamakan kawin cai ini, memang dilangsungkan sebagai rasa syukur atas hasil panen yang melimpah.

Tradisi kawin cai ini sarat dengan budaya sunda. Terlihat dari pakaian yang mereka kenakan dan iring-iringan musik. Mereka membawa calon pengantin, yakni kendi yang akan mereka isi dengan air yang diambil dari sumbernya di kolam Balong Dalam Tirta Yatra.

Calon pengantin ini kemudian diarak dengan diiringi tari – tarian. Sepintas, prosesi ini mirip perkawinan dua anak manusia.

Air, calon pengantian pria ini dibawa untuk dipertemukan dengan pasangannya, air yang diambil dari sumber mata air tujuh sumur di kawasan wisata Cibulan, yang lokasi cukup jauh. Sumber mata air di petilasan ini dipercaya merupakan peninggalan Prabu Siliwangi.

Kedua air dari sumber berbeda ini kemudian disatukan dalam satu kendi. Kemudian dibawa kembali balong dalem untuk dikawinkan. Semua prosesi dilangsungkan dengan khidmat sehingga terasa sakral.

Tradisi kawin cai ini sebenarnya merupakan ungkapan rasa syukur atas hasil panen, dan sebagai penghargaan tertinggi terhadap air, apalagi di tengah musim kemarau saat ini.

Prosesi diakhiri dengan makan bersama, yang diambil dari hasil pertanian. Sebagian warga menganggapnya sebagai berkah.

Source https://budaya-indonesia.org/Reog-Cengal/ https://budaya-indonesia.org/Reog-Cengal/
Comments
Loading...