Kapitayan Jawa

0 144

Keyakinan Kapitayan di tanah Jawa

Sejak jaman purba, di Tanah Jawa telah bersemi kebenaran Ilahiyah, yang disampaikan oleh Dang Hyang Semar. Ajaran itu disebut Kapitayan (ajaran berkenaan dengan Sang Hyang Taya). Dalam tradisi lisan seperti yang masih bisa ditemui di Desa Babakan Ciwaringin, Kabupaten Cirebon, dikenal istilah Agama Semar. Hakikat dari ajaran ini, terlestarikan dari generasi ke generasi, oleh para empu, pujangga, dan kyai sejati.

Mengenai Sang Hyang Taya.

Sang Hyang Taya adalah sumber segala kejadian yang tak bisa dilihat dengan mata, tidak bisa didengar dengan telinga, tidak bisa diraba dengan tangan, tidak bisa dibayang-bayangkan, tidak bisa dipikirkan, tidak bisa dibanding-bandingkan dengan sesuatu. Dia adalah Taya (hampa, suwung, awung-uwung). Dia tidak dilahirkan. Tidak berawal. Tidak berakhir. Tidak satupun makhluk yang bisa mengenal keberadaan-Nya yang sejati.

Manusia mengenal-Nya melalui pengejawantahan kekuatan dan kekuasaan-Nya di alam ini sebagai Pribadi Ilahi yang menjadi Sumber segala sumber kehidupan yang tergelar di alam semesta, yakni Pribadi Ilahi yang memiliki Nama dan Sifat sebagai pengenal keberadaan diri-Nya.

Penyembah Sejati (Penganut ajaran Kapitayan)

Penyembah Sang Hyang Taya sejati, menyembah-Nya secara sempurna melalui sarana tubuh: duduk bersila, dengan tangan swadikep, mengamati keberadaan tubuh, meresapi gerak-gerik tubuh, mengamati kecenderungan jiwa, menata pikiran, mengatur pernafasan, menyatukan kiblat hati dan pikiran guna mencari keakuan di dalam diri dengan meresapi dan menghayati ‘rasa suwung’ di dalam hati yang ada pada diri manusia. Mereka yang telah mengetahui dan mengenal ‘rasa suwung’ di dalam hati adalah sama dengan mengenal Sang Hyang Tunggal, yaitu Sang Suwung: Sang Hyang Taya.

Mereka adalah manusia-manusia yang sudah tidak mengenal pamrih kehidupan duniawi. Hati dan pikiran mereka hanya terarah kepada Sang Hyang Taya, yang citra Ilahiah-Nya tersembunyi secara rahasia sebagai ‘rasa suwung’ di dalam diri manusia. Jika mereka mati, maka jiwa mereka akan menyatu dengan alam Kehampaan Taya yang tak terbandingkan dengan sesuatu. Sebagai pribadi-pribadi suci, mereka memancarkan kekuatan Ilahiah, yang disebut Tuah (kekuatan penghadir kebaikan) dan Tulah (kekuatan penghadir kehancuran) tanpa kehendak pribadi mereka.

Agama yang Akan Lestari di tanah Jawa

Setiap ajaran di Tanah Jawa, hanya akan lestari jika selaras dengan dasar-dasar ajaran dari Sang Hyang Taya yang disampaikan melalui Dang Hyang Semar (Kapitayan/Agama Semar). Ajaran-ajaran yang tidak sesuai, akan ditolak oleh penghuninya. Bahkan pengikut ajaran-ajaran demikian, terancam oleh penghuni purwakala (alam ghaib) di negeri ini.

Catatan:
1. Kalimat-kalimat di atas adalah dialog antara Dang Hyang Semar dengan Syeikh Siti Jenar, sebagaimana termaktub dalam buku Suluk Sang Pembaharu, karya Agus Sunyoto, Yogyakarta: Penerbit LKIS, 2008 (Cetakan V)

2. Sementara itu, dalam Jangka Jayabaya, terdapat ramalan yang sebagian isinya adalah sebagai berikut:
“….waspadalah dan ingatlah, tegakkan imanmu, jadilah pengikut Ratu Adil penegak kebenaran. Carilah ‘senjatanya’ (trisula wedha; tentang budi pekerti luhur) sampai ketemu, ikuti jalannya kemanapun perginya, jadilah, ibaratnya sebagai pasukannya Ratu Adil, tidak lama akan tampak tanda tanda datangnya ratumu yang mendapat kemuliaan agung, datangnya tiba-tiba secepat kilat, diiringi berjuta-juta “malaikat” (berjuta leluhur bumi nusantara), berdiri dengan payung kuning (kebenaran sejati), maknanya ‘bang-bang’ timur keinginannya (gerakan dari wilayah timur nusantara), maka terbitlah sinar yang terang.

…umbul-umbul ditingkahi ‘bendera pare anom’ itulah pertanda pangeran pati, tunggangannya kuda nafas, cambuknya tunggak rotan, membawa panah berupa tekad suci yang sangat tajam ujungnya, sangat elok kharismanya, sangat berwibawa wajahnya, lengannya rampng tetapi amat kokoh, …ada perang yang lebih besar, saking besarnya, makhluk halus genderuwo, hantu, jin, berbagai macam iblis laknat, semua buyar lari tunggang langgang menyingkir, di sembarang tempat makan korban orang-orang yang tidak peduli dan tidak mengerti kepada Ratu Adil petunjuk kebenaran. …tidak berapa lama segera datang Ratu Adil duduk menjadi pemimpin dan suri tauladan di wilayah tersebut, sehingga menjadi makmur diibaratkan sawah yang sangat luas pajaknya sangat kecil, diibaratkan tidak ada lagi yang harus dilakukan negara, sebab saking adil makmurnya nusantara, ibaratnya kegiatan orang-orang tinggal terfokus untuk sembahyang kepada Tuhan saja, serta memanjatkan puji-pujian tanpa henti.

itu yang membuka mata hati manusia yang memaknai agama secara tidak karuan, tetapi kalian harus waspada dan selalu ingat, sebab sebelum Ratu Adil datang, di tanah Jawa ada setan berkedok manusia berbulu lebat seolah sebagai penegak agama, bertempat tinggal di ‘glasah wangi’, sehingga mengakibatkan manusia berganti tatanan, berakibat hilangnya petunjuk dan tata krama kehidupan, sebab banyak orang meninggalkan syariat (sebelumya), sehingga menjadi terlantar hidupnya sejak kecil.

Keterangan; menungsa rewa-rewa anggawa agama maksudnya manusia dengan wajah penuh ditumbuhi bulu-bulu menyeramkan yang (mengaku-aku) sebagai penegak dan pembela agama. Tetapi perilakunya justru sebaliknya tidak simpatik, tidak tampak aura kasih sayang kepada sesama manusia, dapat diumpamakan menyerupai karakter ‘setan’ yang membawa kerusakan di mana-mana, kerusakan baik lahir/fisik maupun kerusakan batin (fanatisme), pikiran (irrasional), egois (negative thinking) dan kerusakan hati, menjadi penuh dengan kedengkian dan nafsu angkara murka.

3. Sesuai dengan ramalan Sabdo palon dan Naya genggong, saat ini – 500 tahun setelah pertemuan segitiga antara Prabu Brawijaya, Sunan Kalijaga dan Sabda palon-Naya genggong – juga adalah masa kembalinya Agama Budha (agama yang berlandaskan atau mengedepankan keindahan budi pekerti)….Spiritualitas Jawa telah waktunya kembali menjadi mercusuar penerang bagi para pencari kebenaran yang tulus… Agama-agama Besar yang sekarang ada, akan mengalami seleksi alami… yang akan lestari hanyalah agama yang substantif, hakiki, yang kental dengan kebenaran batiniah dan mengedepankan budi pekerti luhur… Dalam konteks Islam, “mazhab” yang akan bertahan di Nusa Jawa hanyalah “mazhab” yang benar-benar mencerminkan makna dasar Islam, yaitu “ajaran keselamatan, ajaran kedamaian” yang landasannya adalah kewelasasihan (kasih sayang).

Dengan demikian Kapitayan merupakan Kepercayaan ASLI Manusia Jawa. Karena leluhur kita ini SUDAH SADAR DIRI, jauh sebelum ajaran agama samawi (Ibrahimiyah) hadir di Nusantara. Para leluhur kita merasa bahwa KEYAKINAN itu adalah untuk DIYAKINI dan DILAKUKAN ajarannya secara konsisten, dan bukannya menjadi bahan perdebatan yg panjang demi mencari pembenaran pribadi tentang kesempurnaan ajaran atau malah dicarikan eksistensinya.

Itulah alasan kenapa ajaran KEJAWEN tidak perlu di deklarasikan menjadi AGAMA. Masyarakat Jawa yang cair (ramah dan santun), juga menerima dengan baik ajaran agama yang dibawa oleh kaum migran (Hindu, Budha, Islam, Nasrani dan lainnya) selama mempunyai konteks yang sama dengan ujung MONOTHEISME (Tuhan yang satu). Sebab inilah banyak agama yang dibawa kaum migran banyak memilih basis dakwahnya dari tanah Jawa.

Ironisnya KEJAWEN sebagai tuan rumah pernah di tekan hebat oleh para tamunya …. ketika jaman Kerajaan Kadhiri …. agama HINDU yang mampu merangkul penguasa menekan golongan Kejawen harus naik ke atas gunung Klothok dan gunung Wilis (artefak peninggalan KEJAWEN banyak tersebar disana sebagian di bawa kaum penjajah ke Leiden dan berkembang menjadi aliran kepercayaan HASOKO JOWO yang justru bermarkas di Leiden sana).

Jaman Tumapelkejadiannya sama, agama HINDU-BUDHA menekan hebat kelompok ini hingga mengungsi ke pesisir selatan tanah Jawa. Jaman Demak, agama ISLAM yang melakukan penetrasi bahkan hingga sekarang. Jaman Kolonoial, agama NASRANI mendapat tempat elite di sosial kemasyarakatan dan lainnya. Jika anda mau tanya seberapa ramah dan besarnya pengorbanan suatu peradaban menerima perubahan. Itu hanya milik peradaban JAWA di Nusantara. Dimana masyarakat jawa begitu permisifnya terhadap ajaran luar.

Karena ada ORANG yang menganggap adalah SEMPURNA bila agama dijalankan senafas dengan adat dimana diturunkan. JAWABANNYA ADALAH SALAH BESAR, karena tata nilai agama bersifat universal, sedangkan adat dianugrahkan pada suatu komunitas dan kekhususan lokasi.

Jadi jangan mimpi untuk membawa, mengganti hingga mendiskreditkan kearifan spiritual Jawa dgn adat INDIA atau TIMUR TENGAH diatas tanah adat bernama JAWA ini, sebab getaran semestanya akan melawan dengan hebat. Jikalau memang mau bersinkretis dgn adat Kapitayan Jawa, Leluhur kami masih bersikap permisif. Karenanya semuanya demi untuk mencapai kesempurnaan sebuah ajaran. Karena menurut keyakinan Jawa TUHAN bisa disembah dengan berjuta cara dan berjuta bahasa, mengapa KALIAN MAHLUK CIPTAANNYA BERANI MENGKERDILKAN KEMAHA ILMUANNYA DENGAN MENGATAKAN TUHAN HANYA PAHAM BAHASA DAN CARAMU SAJA?

Source https://dewantorahardjo.wordpress.com https://dewantorahardjo.wordpress.com/2015/02/09/kapitayan-jawa/
Comments
Loading...