Kampung Pitu Gunung Api Purba Nglaggeran Tradisi Tak Lekang di Makan Zaman

0 246

Kampung Pitu Gunung Api Purba Nglaggeran Tradisi Tak Lekang di Makan Zaman

Desa Nglanggeran, Patuk selain kaya dengan keindahan alam, kerajinan dan hasil alamnya, ternyata juga mempunyai satu keunikan tersendiri. Kampung tujuh merupakan pemukiman warga Padukuhan Nglanggeran Wetan. Tepatnya di Padukuhan Tlogo, Desa Ngalanggeran, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunungkidul. Kampung Pitu adalah sebuah komunitas adat yang masih tetap eksis di tengah gempuran budaya masyarakat yang semakin modern. Komunitas adat ini berada di dataran tinggi Pegunungan Nglanggeran.

Kampung Pitu Komunitas Adat Desa Nglanggeran

Menurut penuturan sesepuh adat, Mbah Rejodimulyo, komunitas ini sudah ada sejak dahulu. Beliau sendiri adalah sesepuh adat generasi ke-empat. Diperkirakan keberadaan komunitas ini sudah ada di Padukuhan Tlogo sejak 200-an tahun yang lalu.

Sebelum Kampung Pitu menjadi hunian penduduk, kampung ini adalah hutan belantara. Konon di hutan ini terdapat sebuah pohon langka bernama pohon kinah gadung wulung. Selain terbilang langka, pohon ini juga menyimpan sebuah pusaka yang menurut cerita memiliki kekuatan besar. Pihak keraton yang mengetahui hal tersebut, langsung mengirim utusan ke Gunung Nglanggeran untuk menjaga, membersihkan daerah sekitar pohon dan merawat pusaka yang berada di dalamnya.

Keunikan Kampung Pitu Nglanggeran

Keunikan dari kampung tersebut terletak di jumlah Kepala Keluarga (KK) yang berjumlah 7 KK. Dari informasi yang berhasil dihimpun, jumlah KK di kampung tersebut tidak bisa lebih dan tidak bisa kurang dari 7 KK. Selalu ada yang pergi, setiap ada warga pendatang baru untuk tinggal di kampung ini.

Ia menjelaskan, sejak hampir 1 abad lamanya jumlah KK di kampung tersebut tetap berjumlah 7 KK. Rejodimulyo merupakan generasi keempat dari penduduk asli kampung 7 KK. Kampung 7 KK tidak bisa dipergunakan seseorang untuk berbuat atau mempunyai tujuan yang jahat. Menurutnya, pemukiman kampung 7 KK adalah lokasi sakral yang ada di Desa Nglanggeran.

Selain memiliki mitos tujuh KK, Kampung Pitu memiliki tradisi adat yang masih bertahan hingga kini. Tradisi tersebut di antaranya adalah rasulan, tingalan dan bersih makam. Tradisi rasulan bisa dikatakan sama dengan daerah lain di DIY, namun bedanya rasulan di Kampung Pitu dilaksanakan dua kali setahun.

Tradisi selanjutnya adalah tingalan atau ulang tahun. Ulang tahun di Kampung Pitu mirip dengan syukuran, di mana warga yang ulang tahun memotong beberapa ayam, dan mengundang warga lainnya untuk makan bersama. Yang unik di Kampung Pitu, tidak hanya penduduk lokal yang merayakan ulang tahun, binatang peliharaan, seperti sapi dan kerbau pun merayakan ulang tahun.

Tradisi selanjutnya, yakni bersih makam. Acara ini digelar setahun sekali, beberapa hari menjelang puasa Ramadhan. Makam yang dibersihkan adalah makam sesepuh dari Kampung Pitu yakni makam Mbah Ira Dikrama, yang merupakan orang pertama yang membuka lahan dan memulai kehidupan di Kampung Pitu.

Kampung Pitu memiliki pantangan kebudayaan. Setidaknya ada tiga pantangan yang harus dihindari, yakni yang pertama, saat melakukan kesenian wayang kulit, dalang dilarang atau tidak boleh membelakangi Gunung Nglanggeran, Yang kedua, cerita wayang tidak boleh menceritakan tentang hal Ongko Wijaya yang disakiti. Yang ketiga, zona bagian utara Gunung Nglanggeran tidak boleh mengadakan kesenian wayang kulit.

Source Kampung Pitu Gunung Api Purba Nglaggeran Tradisi Tak Lekang di Makan Zaman Gendangsari.com
Comments
Loading...