Kalender Anno Jawa

0 207

Kalender Anno Jawa

Kalender anno Jawa itu istilah aslinya adalah “tanggalan tahun babad zaman tanah Jawa”, disingkat dengan “tahun Jawa”. Kalender ini telah beredar di Jawa pada khususnya dan Indonesia pada umumnya, sejak tahun satunya, ialah pendaratan perpindahan bangsa yang terakhir dari Keling di Jawa Barat dan dipimpin oleh Syekh Subakir pada tahun ± 87 M, hingga zaman Kerajaan-kerajaan Pajajaran dan Majapahit, Cirebon, Demak dan Mataram.

Kalender ini berdasarkan hitungan Candrasengkala ialah menurut peredaran bulan, yang berarti pergantian tanggalnya itu sejak masuknya matahari hingga masuknya matahari berikutnya.

Berbeda dengan kalender Masehi yang berdasarkan hitungan Suryasengkala, ialah menurut peredaran matahari, yang berarti pergantian tanggalnya itu sejak jam 00.00 (jam 24 tengah malam) hingga jam 00.00 berikutnya.

Kalau isi bulan-bulan tahun Masehi itu 30 hari, 31 hari dan adakalanya bulan Pebruari berisi 28 dan 29 hari, sebaliknya bulan-bulan tahun Jawa itu tetap berisi 29 hari dan 30 hari.

Sebelum Zaman Islam, bulan-bulannya disebut: Wulan ke siji, Wulan Keloro dan seterusnya. Sejak zaman Kerajaan-kerajaan Islam Cirebon dan Demak, peredaran bulan-bulannya dilaraskan dan didampingi dengan tahun Hijriah, dan bulan-bulannya diberi ñama misalnya: tanggal kesiji tahun 1906 jadi tanggal 1 Sura tahun 1906/1394 Hijriah dan bukan 1 Muharam tahun 1906 atau 1 Muharam tahun 1394. Jadi bulan

Sura dan Tahun 1906 adalah khusus untuk tahun Jawa dan bulan Muharam dan tahun 1394 adalah khusus untuk tahun Hijriah.

1 Sura ini sejak zaman peredarannya di Cirebon/Jawa khususnya dan di Indonesia umumnya dirayakan sebagai Tahun Baru Nasional di samping perayaan Idulfitri dan Iduladha. Saban desa dan kampung secara bergiliran sejak tanggal 1 Sura hingga sebulan Sura penuh, masyarakat merayakannya dengan menanggap wayang kulit semalam suntuk dengan istilah “Bebarik sedekah bumi”. Hingga pada zaman penjajahan Belanda dan Jepang dan kini waläupun sudah tidak menampak masih saja ada sementara Kraton dan perumahan keluarga memperingati saban tanggal 1 Sura secara tradisional dalam lingkungan rumah

Sejak zaman penjajahan Belanda Kalender Anno Jawa ini diganti dengan Kalender Masehi. Dan pada zaman penjajahan Jepang Kalender Masehi diganti dengan Kalender Jepang. Kemudian Indonesia merdeka hingga kini kalendernya kembali kepada Kalender Masehi dan 1 Januari dirayakan sebagai Tahun Baru Nasional.

Setelah dilaraskan dengan Kalender Hijriah, Kalender Anno Jawa berbentuk démikian:

  1. Sura
  2. Sapar
  3. Mulud
  4. Sawal Mulud (di Mataram pada zaman Sultan Agung disebutnya:

Bakdamulud).

  1. Jumadil Awal
  2. Jumadil Akhir
  3. Rejeb
  4. Rowah
  5. Puasa
  6. Sawal
  7. Khapit (di Mataram pada zaíman Sultan Agung disebutnya:

Dulkaidah).

  1. Ray agung (di Mataram pada zaman Sultan Agung disebutnya:

Besar).

Tahun-tahunnya juga diberi nama ialah:

  1. Tahun Alip.
  2. Tahun Ehe.
  3. Tahun Jimawal.
  4. Tahun Je.
  5. Tahun Dal.
  6. Tahun Be.
  7. Tahun Wawu.
  8. Tahun Jimakir.

Hari-harinya diberi tanda: Kliwon, Manis, Pahing, Pon, Wage dan hari preinya tiap Jumat.

Tahun Hijriah tanpa nama, setiap 8 tahun berganti Windu.

Nama-nama Windu adalah: Adi, Sandaya, Kuntara, Sengara.

Tahun Suryasengkala berumur 365 hari, sedangkan tahun Candrasengkala berumur 354 hari.

Menilik lain-lain Negara mempunyai dan memakai kalendernya sendiri, misalnya: Negara-negara Barat Kalender Masehi, Negara-negara Arab Kalender Hijriah, Negara Cina Kalender Imlek, dan Negara Jepang Kalender Sumera, menurut hemat kami, Lembaga Kebudayaan Wilayah III Cirebon, sudah tinggi waktunya sejak sekarang Indonesia kembali kepada Kalender Nenek-Moyangnya sendiri ialah KALENDER ANNO JAWA (tidak perlu diteruskan meminjam Kalender orang), agar karakter dan kepribadiannya sendiri nampak wajar sebagai suatu Bangsa yang merdeka dan berdaulat penuh.

Source https://catatanwongndeso.wordpress.com https://catatanwongndeso.wordpress.com/2014/10/06/kalender-anno-jawa/
Comments
Loading...