budayajawa.id

Tradisi Jimpitan, Cara Beda Melakukan Ronda

0 18

Jimpitan, Cara Beda Melakukan Ronda

Ronda adalah kegiatan “patroli” warga suatu kampung untuk memastikan bahwa kampung tberdasarkan jumlah hari ada 7). Masing-masing kelompok mendapat jatah ronda sekali dalam seminggu. Warga yang ronda biasanya biasanya akan berkumpul di gardu jaga, yang biasanya dibangun di tempat-tempat strategis agar mudah melakukan pergerakan jika terjadi sesuatu yang genting. Disamping itu warga yang mendapat jatah ronda akan membawa “tools” keamanan untuk mempersenjatai diri misalnya seperti pentungan. Pada tengah malam, warga yang ronda akan patroli keliling kampung, untuk memastikan kampung dalam keadaan aman.
Namun di daerah tempat tinggal saya di Yogyakarta, tepatnya di Dusun Kasihan, Kelurahan Tamantirto, Kecamatan Kasihan (lengkap ya…),  “patroli” keliling kampung dikemas dengan cara yang berbeda. Ronda di kampung saya ini diberi namaJimpitan.  Sebenarnya tidak hanya di kampung ini saja ada, di kampung lain juga ada, bahkan sebagian besar melakukan Jimpitan ini. Hanya saja karena saya tinggal di kampung ini, maka saya ceritakan tentang Jimpitan di kampung ini saja, betul?.
 
Jimpitan adalah kegiatan ronda yang sudah menjadi tradisi warga di kampung Kasihan khususnya dan Yogyakarta pada umumnya.  Jimpitan dilakukan dengan berkumpul di rumah salah satu warga yang menjadi “team” Jimpitan dan ini dilakukan secara bergiliran setiap minggunya. Mengapa dilakukan di rumah warga, bukan diCakruk (gardu jaga)? Alasannya sangat sederhana, untuk mengeratkan tali silaturahmi. Ide yang sangat bagus menurut saya.  Setelah berkumpul semua anggota “team”nya, kemudian  dibagi lagi menjadi kelompok kecil untuk keliling ke rumah-rumah warga untuk mengambil uang receh yang sudah disiapkan oleh masing-masing penghuni rumah di samping pintu. Jadi pada intinya kami keliling mengambil uang di rumah-rumah warga kampung, sekaligus memantau keamanan kampung. Senjata yang dibawa bukan lagi pentungan, melainkan pena, senter, dan kotak tempat membawa uang receh.
Uang yang didapat kemudian dihitung agar diketahui berapa pendapatannya malam itu. Uang ini nantinya akan menjadi kas kampung. Uang ini digunakan untuk keperluan warga dalam melakukan interaksi sosial, misalnya membeli tenda, gelas, piring, kursi, dan lainnya yang nantinya bisa dipinjam oleh warga jika salah satu warga ada yang menyelenggarakan acara nikahan, khitanan dan sebagainya. Sekali lagi ide yang cerdas, karena meminimalkan biaya sewa peralatan pesta.
Mengapa diberi nama Jimpitan? Berdasarkan  cerita yang saya dapat dari teman-teman “team”  Jimpitan saya (kami dapat jatah ronda hari sabtu), disebut jimpitankarena mengambil uangnya dengan cara dijimpit (mungkin kalau bahasa Indonesianya identik dengan cubit). Di samping itu pada awalnya Jimpitan tersebut bukan menggunakan uang, melainkan menggunakan beras (jimpit identik dengan beras, padi). Jadi beras ini dikumpulkan dan setelah terkumpul banyak kemudian dijual, dan uang penjualannya ini menjadi kas kampung. Karena jaman semakin maju dan perekonomian warga membaik jimpitan yang dulunya memakai beras, diganti dengan uang, agar mempermudah dalam proses jimpitan itu sendiri. Alasan yang paling sederhana dari jimpitan ini adalah ada alasan bagi warga yang mendapat jatah ronda untuk keliling kampung.
Bisa dibilang ini adalah cara yang beda dalam mengemas sistem ronda atau dalam bahasa pemerintah disebut SISKAMLING. Dengan dikemas seperti ini, warga satu dengan yang lainnya akan semakin dekat dan akrab, serta tidak adanya kesenjangan sosial antar warga, tali silaturahmi semakin erat, dan yang pasti kampung menjadi aman. Selain manfaat di atas, cara seperti ini sangat efektif untuk menghilangkan atau paling tidak meminimalisir konflik antar warga sehingga tercipta lingkungan yang damai. Pendapat saya, sistem tradisi Jimpitan ini perlu dipertahankan dan dikembangkan di daerah-daerah lain, Yoyakarta khususnya dan Indonesia umumnya, karena manfaat yang diperoleh sudah terbukti bagi warga.
Jadi tunggu apalagi, selama ini baik dan memberi manfaat kenapa tidak ditiru?
Source http://mengenalbudayajawa.blogspot.co.id http://mengenalbudayajawa.blogspot.co.id/2013/12/jimpitan-cara-beda-melakukan-ronda.html
Comments
Loading...