Jenis – Jenis Blangkon Serta Filosofinya

0 94

Jenis – Jenis Blangkon Serta Filosofinya

Tidak ada catatan sejarah yang pasti akan asal muasal orang Jawa memakai iket sebagai penutup kepala. Iket telah tersebut dalam legenda Aji Saka, pencipta tahun Saka atau tahun Jawa, sekitar 20 abad yang lalu dimana Aji Saka berhasil mengalahkan Dewata Cengkar hanya dengan menggelar kain penutup kepala yang kemudian dapat menutupi seluruh tanah Jawa.

Blangkon sendiri memiliki jenis yang berbeda yakni blangkon jogja dan blangkon solo. Untuk lebih jelasnya, silahkan simak di bawah ini :

Blangkon Jogja

Blangkon yogya mempunyai mondolan, mondholan gaya Yogyakarta berbentuk bulat seperti onde-ondehal ini dikarenakan pada waktu itu, awalnya laki-laki Jogja memelihara rambut panjang kemudian diikat keatas (seperti Patih Gajah Mada) kemudian ikatan rambut disebut gelungan kemudian dibungkus dan diikat, lalu berkembang menjadi blangkon.

Kemudian menjadikan salah satu filosofi masyarakat jawa yang pandai menyimpan rahasia, tidak suka membuka aib orang lain atau diri sendiri karena ia akan serapat mungkin dan dalam bertutur kata dan bertingkah laku penuh dengan kiasan dan bahasa halus, sehingga menjadikan mereka selalu berhati-hati tetapi bukan berarti berbasa-basi, akan tetapi sebagai bukti keluhuran budi pekerti orang jawa. Dia pandai menyimpan rahasia dan menutupi aib, dia akan berusaha tersenyum dan tertawa walaupun hatinya menangis, yang ada dalam pikirannya hanyalah bagai mana bisa berbuat yang terbaik demi sesama walaupun mengorbankan dirinya sendiri.

Blangkon Solo

Blangkon solo berbeda dengan blangkon jogja. Pada blangkon solo tidak terdapat mandholan hanya sajablangkon gaya Solo mondholannya trepes atau gepeng . Karena waktu itu lebih dulu mengenal cukur rambut karena pengaruh belanda, dan karena pengaruh belanda tersebut mereka mengenal jas yang bernama beskap yang berasal dari beschaafd yang berarti civilized atau berkebudayaan.

Tidak adanya tonjolan hanya diikatkan jadi satu dengat mengikatkan dua pucuk helai di kanan dan kirinya, yang mengartikan bahwa untuk menyatukan satu tujuan dalam pemikiran yang lurus adalah dua kalimat syahadat yang harus melekat erat dalam pikiran orang jawa.

Jadi Blangkon adalah sebuah wujud pengendalian diri dengan menampakkan bagian depan blangkon yang diikat rapi(diwiru dg halus) lalu menahan gejolak emosi, dalam hal ini rambut sebagailambang gejolak emosi, dengan mengikatnya di belakang kepala hingga berbentuk benjolan tadi. Meski hati panas tapi kepala harus dingin. Maka bila emosi sudah tak tertahankan dan meledak maka lelaki Jawa harus mengurai mondolan di blangkonnya,membiarkan rambut panjangnya tergerai.

Hal inilah yang sering disalahpahami sebagai halus di depan tapi dongkol dibelakang untuk menyembunyikan niat busuknya. Sebagai orang Jawa tulen sudah semestinya saya meluruskan kesalahpahaman itu. Sekali lagi etnis manapun berpotensi seperti itu. Falsafah blangkon di jaman sekarang tidak jauh berbeda dengan EQ atau apalah di Indonesia-kan. Pendek kata, bila saya atau panjenengan adalah orang Jawa tapi tidak mampu mengendalikan emosi, nafsu, syahwat maka saya atau panjengengan tidak berhak mengenakan iket Blangkon di kepala.

Source http://www.martinrecords.com/ http://www.martinrecords.com/history/sekilas-mengenai-asal-usul-blangkon-beserta-filosofi-yang-ada-di-dalamnya/
Comments
Loading...