Jemparingan, Tradisi Panahan Kuno Khas Yogyakarta

0 237

Jemparingan, Tradisi Panahan Kuno Khas Yogyakarta

Olahraga telah menjadi gaya hidup bagi sebagian masyarakat Indonesia. Tidak hanya olahraga lari dan sepak bola yang kini semakin eksis di kalangan anak muda, olahraga panahan pun tengah menjadi aktivitas favorit. Sebut saja, Jemparingan, misalnya– tradisi panahan kuno asli Yogyakarta yang sampai sekarang masih dilestarikan. Tidak seperti aktivitas panahan pada umumnya, Jemparingan memiliki sejarah, filosofi, dan teknis dasar sendiri.

Tradisi Jemparingan telah ada sejak zaman kerajaan ratusan silam. Dahulu kala, tradisi ini dimainkan oleh para bangsawan kerajaan dan juga keluarganya. Raja Kerajaan Mataram pun menjadikan permainan ini sebuah perlombaan wajib di wilayah kerajaan kala itu. Namun, seiring berjalannya waktu, tradisi ini mulai dimainkan oleh rakyat biasa sebagai bagian dari hiburan dan juga pelestarian budaya yang sangat berharga. Tradisi panahan jemparingan ini terus bertahan meski dalam beberapa waktu sempat meredup dan jarang dimainkan lagi, dan kini, jemparingan kembali muncul dan diminati oleh generasi muda.

Para prajurit di zaman kerajaan melakukan tradisi jemparingan ini guna melatih ketajaman konsentrasi dalam melesatkan anak panah. Lambat laun, tradisi jemparingan ini menyebar ke kerajaan sebelah bahkan bangsa asing juga melakukannya. Eksistensi tradisi ini semakin menjamur kian hari mengingat panahan juga merupakan olahraga yang bukan hanya berfungsi untuk latihan fisik namun juga latihan jiwa.

Tidak seperti permainan panahan pada umumnya yang dilakukan dengan posisi berdiri seperti yang kita tonton di film Hunger Games, jemparingan ini dilakukan dengan posisi duduk bersila. Peserta biasanya duduk dengan gaya mataraman membentuk dua barisan dengan menghadap ke barat. Posisi duduk ini bukan muncul tanpa alasan. Konon katanya, posisi duduk ini disebabkan karena dahulu para bangsawan biasanya memanah sambil bercengkrama membicarakan bisnis sambil menikmati kopi, teh, atau makanan ringan. Oleh karenanya, posisi duduk dirasa paling sesuai dan nyaman.

Metode memanah ini adalah dengan busur yang terbuat dari bambu ditarik ke arah kepala sebelum akhirnya ditembakkan untuk mengenai sasaran berupa bedor atau wong-wongan yang memiliki panjang 30 cm dan diameter 3,5 cm. Jarak antara posisi duduk dengan target adalah 30 meter.

Secara garis besar, olahraga jemparingan ini bukan hanya sekedar permainan namun juga merupakan olahraga yang digunakan untuk melatih ketajaman mata dan konsentrasi. Keberhasilan memanah biasanya tergantung pada suasana hati. Jika suasana hati sedang gembira, anak panah akan lebih mudah mengenai target. Namun, jika suasana hati sedang penuh amarah atau sedih, anak panah akan sulit mengenai target. Oleh karenanya, perlu kesabaran dan konsentrasi yang mendalam dalam melakukan permainan panahan jemparingan ini apalagi dilakukan dengan posisi duduk karena konon katanya panahan akan lebih sulit dengan posisi duduk bersila.

Source https://www.goodnewsfromindonesia.id https://www.goodnewsfromindonesia.id/2016/12/23/filosofi-jemparingan-tradisi-panahan-kuno-asli-yogyakarta
Comments
Loading...