Jamasan Meriam Nyai Setomi, Tradisi Pengawal Kemeriahan Grebeg Keraton Surakarta

0 58

Jamasan Meriam Nyai Setomi, Tradisi Pengawal Kemeriahan Grebeg Keraton Surakarta

Sehari menjelang digelarnya Grebeg, pihak Keraton Surakarta rutin menggelar jamasan meriam Nyai Setomi. Meriam Nyai Setomi merupakan sebuah pusaka berupa senjata meriam peninggalan raja Mataram, Sultan Agung, dalam melawan tentara Belanda.

Di tengah suasana persiapan Grebeg Mulud yang akan berlangsung esok harinya. Suasana persiapan jamasan sudah terasa sejak pagi hari di kawasan selatan Pagelaran Keraton Surakarta itu. Beberapa abdi dalem tampak sibuk menyiapkan perlengkapan kebersihan seperti air yang diambil dari sumur Keraton, sapu, perlengkapan pel, sabun, kapur barus, hingga ageman atau pakaian pengganti untuk meriam pusaka.

Meriam Nyai Setomi sendiri disimpan di dalam sebuah balai yang bernama Bale Manguneng. Berada tepat di tengah bangsal Witana di kompleks Siti Hinggil. Tersembunyi di balik kain penutup Bale Manguneng, meriam yang memiliki pasangan bernama meriam Kyai Setomo.

Selain dipandang sebagai pusaka juga dipandang sebagai simbol agung. Selain sebagai simbol keselamatan, meriam ini juga disimbolkan sebagai penggerak jiwa dalam suasana kegembiraan dan kemeriahan layaknya dalam prosesi Grebeg.

Kembali ke persiapan menjelang prosesi jamasan atau prosesi pencucian dan pembersihan. Setelah seluruh perlengkapan telah disiapkan di sekitar bangsal beberapa abdi dalem kemudian tampak menyiapkan beberapa sesaji di depan Bale Manguneng. Sebagai pemimpin prosesi jamasan adalah Kanjeng Gusti Pangeran Haryo (KGPH) Puger yang mengawali seluruh prosesi jamasan dari membuka pintu Balai Manguneng hingga menutupnya kembali.

Prosesi jamasan diawali dengan proses pencucian dengan membersihkan bagian badan meriam dengan air. Tidak sembarang orang diizinkan memasuki balai untuk melaksanakan prosesi ini. Haruslah yang tersumpah yang boleh membersihkan meriam pusaka dan juga keseluruhan prosesi berlangsung.

Di balik kain penutup tanpa dapat dilihat dari luar. Karena senjata pusaka itu memang tidak boleh dilihat orang sejak dahulu. KGPH Puger dengan dibantu seorang abdi dalem yang mencuci meriam pusaka sementara pada abdi dalem lainnya duduk bersila menunggu di sisi utara balai.

Selesai prosesi pencucian bagian badan barulah prosesi berlanjut ke proses pembersihan bagian dalam moncong meriam. Hampir seluruh abdi dalem yang tadi duduk kini berdiri membantu Gusti Puger membersihkan bagian moncong meriam dengan tongkat panjang dengan bagian sikat di ujungnya. Sama dengan prosesi pertama, proses ini juga menggunakan air.

Seluruh air sisa cucian pusaka meriam itu kemudian ditampung dalam sebuah wadah air di tepi bangsal untuk dibagikan kepada mereka yang membutuhkan. Tidak sedikit juga pengunjung datang dan mengantri air jamasan meriam pusaka, hal sama yang terjadi dalam setiap pelaksanaan jamasan.

Prosesi jamasan belum selesai hingga proses pencucian saja, setelah dicuci dengan air, kembang, sabun, dan asam, kemudian meriam pusaka diolesi minyak Cendana. Setelah itu, ageman yang tadi telah disiapkan kemudian dikenakan kembali pada meriam dan kemudian pintu balai kembali ditutup.

Di luar prosesi pembersihan meriam, Balai Manguneng dan Bangsal Witana juga dibersihkan setelah prosesi jamasan selesai. Sementara proses pembagian air jamasan sendiri berlangsung sedari proses pertama pencucian badan meriam selesai dilangsungkan.

Para pengunjung yang memburu air jamasan didominasi oleh pengunjung dengan usia uzur. Beberapa dari mereka meyakini bahwa air jamasan meriam pusaka itu mampu mendatangkan keselamatan. Mereka meyakini bahwa dengan mencuci muka atau membasuh tubuh mereka dengan air jamasan.

Maka keselamatan juga akan menyelimuti diri mereka. Karena itu pula, saya menyaksikan bagaimana hampir seluruh pemburu air jamasan telah membekali diri dengan botol-botol bekas air mineral mengantri keberuntungan mereka.

Selain air jamasan meriam Nyai Setomi yang diburu. Beberapa pengunjung juga memburu sisa minyak Cendana yang berhasil dikumpulkan oleh abdi dalem. Meskipun bercampur dengan air jamasan namun sedikit sisa minyak yang berbau sangat khas dan tajam itu diantri oleh cukup banyak pengunjung.

Jamasan atau prosesi pencucian dan pembersihan pusaka adalah prosesi tradisi yang umum di kalangan masyarakat Jawa. Selain diartikan secara harafiah sebagai prosesi perawatan benda pusaka bersejarah. Jamasan juga sering dikaitkan dengan menjalin ikatan terhadap sejarah dan makna yang ada di balik benda tersebut.

Beberapa orang meyakini bahwa semakin besar benda pusaka itu maka sifat-sifat yang terkandung di dalamnya juga semakin besar. Untuk jamasan meriam pusaka ini, Keraton rutin digelar setiap kali menjelang Grebeg. Dan jamasan kali ini digelar menjelang Grebeg Mulud sementara prosesi jamasan lainnya digelar menjelang Grebeg Besar.

Source http://chic-id.com/ http://chic-id.com/jamasan-pusaka-meriam-nyai-setomi-mengawali-kemeriahan-grebeg-mulud/
Comments
Loading...