Huruf Jawa Koridor Nusantara Dan Dunia

0 44

Belum diketahui secara pasti kapan, di mana dan siapa sesungguhnya pembuat bahasa-bahasa dan huruf di dunia termasuk bahasa dan huruf Jawa. Dua puluh (20) huruf Jawa yang terbagi empat bagian menjadi lima  yang ditempatkan pada empat arah sesuai dengan untuknya dalam kandungan seluruh kehidupan di dunia beserta alam semestanya. Empat bagian tempat dan huruf tersebut ialah:

1. Keterangan Singkat Sesuai Keadaan
Keterangan ini adalah situs keadaan kehidupan yang menyangkut sedikit prediksi zaman yang sudah, yang sekarang dan yang akan datang. Keterangan ini terambil dari satu persatu Capat Dandanggula. Tembang ini bersumber dari Rama Warsontani. Ada lebih baik manakala kita mengulas sejarah sumber terakitnya timbang tersebut. Menurut ceritanya pada masa pemerintahan Jepang membangun benteng di Gunung Selok, masyarakat dipekerjakan dengan tidak berperikemanusiaan. Pada waktu itu Rama Warsontani masih muda dan menjadi penggembala kerbau. Melihat kenyataan yang demikian, Rama Warsontani memutuskan untuk terharu dalam kesedihan. Di saat itulah Rama Warsontani memutuskan untuk menggembala sambil mengembara. Mengapa? Sebab andaikata pulang ke rumah pun tidak tega melihat keadaan orangtua dan handai taulannya yang betul-betul tertindas sandang pangannya dan terampas kemerdekaannya.

Beliau terus mengembala sambil mengembara, dengan tekad makan temu (makan seketemunya di belantara). Atas kehendak Tuhan, pada suatu hari di saat menggembala di tepi laut dekat Gunung Srandil, beliau ditemui oleh seorang kakek yang mengaku nama Kaki Sabda Palon dan memberinya sebuah kelapa muda. Sang kakek menyuruh untuk diminum dan dimakan kelapa mudanya dengan cara sekaligus habis tanpa sisa karena dalam kondisi kehausan Rama Warsantoni meminum dan memakan kelapa muda dan habis seketika. Setelah diminum sang kakek bersabda, bahwa sesungguhnya air berikut kelapa mudanya sungguh sangat bertuah dan dengan diminumnya air kelapa adalah tanda sang kakek akan selalu mengikutinya. Tidak selang beberapa lama sang kakek menghilang.

Sungguh keajaiban yang milik Tuhan, begitu Sang Kakek menghilang segala yang diucap oleh Rama Warsontani nyata dan apa kati hati terlaksanakannya. Dengan keadaan yang demikian, Rama Warsontani sengaja mengambil perhatian pemerintahan Jepang, dilepaslah kerbau-kerbaunya di perkebunan Jepang. Jepang mengamuk dan memaki-makinya. Rama Warsontani menjawab dengan santainya, Kalau memang kebon itu minta dikembalikan seperti semula, itu hal yang gampang tapi dengan syarat jangan mempekerjakan orang dengan tidak berperikemanusiaan.Atas kehendak Tuhan, Rama Warsantoni bisa memulihkan perkebunan Jepang seperti sedia kala. Jepang terkagum-kagum dan akhirnya semua pekerja mendapat kemurahan hatinya.

Dalam pada itu Rama Warsontani banyak dikunjungi orang, baik orang Jepang maupun pribumi. Selang beberapa waktu ± tahun 1955 Rama Warsantoni mengidungkan tembang dandanggula yang tersusun urutannya, dengan 20 huruf Jawa. Dalam pesannya Rama Warsantoni mengatakan bahwa tembang tersebut atas wewarah dari Kaki Sabda Palon yang sengaja diberikan bagi siapa saja yang mau menghayatinya. Tembang tersebut adalah memuat prediksi alam kehidupan dari zaman ke zaman. Selebih dari itu beliau juga melantunkan 13 tembang yang memuat prediksi munculnya kembali Sang Penata Bangsa Mercusuar Dunia.

2. Keterangan Singkat Sesuai Kenyataan

Menyingkap 20 huruf Jawa sebagai koridor nusantara dan dunia, dimulai dari 2 huruf awalan dan 3 huruf akhiran, kedua berdasarkan jumlah pengelompokkan dan masing-masing tempat kelompok huruf tersebut, ketiga berdasarkan penjelasan sejarah, dan terakhir berdasarkan arti masing-masing huruf.
Bunyi dari 2 huruf Jawa terdepan adalah HA dan NA yang artinya ada, sedangkan bunyi dari 3 huruf Jawa yang terakhir adalah BA – THA – NGA yang artinya membangkai atau sirna atau tiada.
Secara singkat pernyataan ini adalah dasar utama pengklamasian 20 huruf Jawa koridor nusantara dan dunia. Mengapa? karena jelaslah, bahwa seluruhnya yang ada di dunia pasti akan kembali sesuai ketentuan Tuhan.

HA, NA, CA, RA, KA : artinya ada caranya atau ada utusan
Huruf ini berada di sebelah timur, yang artinya menggambarkan tata cara kelahiran atau segala keberadaan di dunia diibaratkan terbitnya sang surya. Segala sesuatu yang ada hidup di dunia jelas melalui taraf kecil kemudian besar.
Seluruh keberadaan di dunia jelas tercipta oleh Tuhan, yang pada prinsipnya sedang menjalankan perintah-Nya dengan bekal cara (naluri) yang telah diberikannya.

DA, TA, SA, WA, LA : artinya zat (sesuatu) yang sah karena Allah, atau sesuatu yang bagian yang tercukupi, atau sesuatu yang tidak berbuat dan berebut.
Huruf kelompok kedua ini berada di sebelah selatan, artinya menggambarkan kemurahan dan kebesaran Tuhan kepada seluruh makhluk. Ibarat luasnya samudra selatan, yang jelas tanpa batas, dan penuh kerahasiaan. Seluruh makhluk harus mengarungi gelombang yang jelas, di luar batas pandang dan dalam, bisa mengerti dan menemukan sesuatu yang berada di seberang, dan di dalam air lautan. Artinya, seluruh hidup semestinya tidak hanya sebatas mata memandang dan sebisa indra merasakan (semau gue).
Seluruh makhluk di dunia sesungguhnya telah sah karena Tuhan yang mencipta dan yang mencukupinya sesuai dalam fungsi dan keperluannya. Untuk itu sesungguhnya semua makhluk tidaklah untuk berebut. Adapun yang berebut itulah yang melanggar aturan mainnya.

PA, DHA, JA, YA, NYA : artinya sama unggulnya.
Huruf ini berada di sebelah barat, artinya yang menggambarkan sesuatu (makhluk) yang ada di dunia sesungguhnya dalam perjalanannya hanya tinggal menunggu waktu ibarat matahari yang terbit dan terbenam.
Sedangkan pengertian sama unggulannya adalah pada prinsipnya seluruh di mata Tuhan itu sama atas keadilannya hanya berbeda dalam sikap perbuatan yang dinilai melalui pelaksanaan tanggungjawab perintah-Nya.
MA, GA, BA, THA, NGA : artinya membangkai, sirna atau tiada.
Huruf ini berada di sebelah utara, artinya pada prinsipnya seluruh makhluk di dunia (khususnya manusia), kecuali yang tidak rata-rata akan tergores garisan tanah yang membujur ke utara sebagai tanda tamat riwayatnya.
Adapun arti membangkai, sirna atau tiada adalah diartikan secara keseluruhan alam semesta yang kelak pasti akan kembali tiada (kiamat) sungguh ini koridor dunia. Seluruh yang ada pasti kelak akan tiada, sedangkan manusia sebagai yang sempurna. Masing-masing harus mempertanggungjawabkan perbuatannya.
Sesuai dengan sejarahnya kidung dandanggula kepanjangan dari satu per satu huruf Jawa ini bersumber dari Rama Warsantoni (Alm) yang atas kehendak Tuhan bisa berhubungan dengan keberadaannya (gaibnya) Kaki Sabda Palon di Gunung Srandil.
Isi dari kesemua kidung sesungguhnya merupakan pesan-pesan dari leluhur demi keselamatan rakyat nusantara khususnya, dan dunia pada umumnya, bagi yang mau menghayati hidupnya sungguh begitu terharu dalam hayat bila kita mau merenunginya.

1. HA = Hangidunga Pawelinge Kaki Sabda Palon Pamong Nusantara Anyisa Kasengsarane Rakyat Nuswantararum Nampi Panoding Hyang Widhi Pralambangnya Wong Nyabrang Prapteng Tengah Kali Tempuh Santere Kali Kang Bena Yeku Ing Gapura Ngethi Aji Manungsa Samya Lena.
Artinya: Ingat Tembang Pesan-Pesannya Leluhur Sabda Palon Pamong Nusantara Nestapa Menghayati Kesengsaraannya Rakyat Nusantara Yang Harum Menerima Bacaan Yang Maha Suci Ibarat Orang Menyeberang Sampai Di Tengah Muara Sungai Yang Lebar Derasnya Air Yang Mengalir Yaitu Di Saat Gentingnya Kepemimpinan Bangsa Banyak Manusia Yang terlena.

2. NA = Nandang Warata Satanah Jawi Dadi Karsane Kang Murbeng Alam Weruhna Marang Kawulane Lamun Jagad Punika Mengku Pagering Gaib Nraju Becik Myang Alakang Nandur Ngunduh Nandang Who Ludira Priangga Den Alamna Kinarya Warata Dene Jagad Ana Kang Ngasta.
Artinya: Tersandung Merata di Ibu Pertiwi Menjadi Kehendak Yang Berkuasa Alam Diperhatikan Kepada Makhluknya Bila Dunia Ini Terpangku Pagar Gaib Yang Baik dan Yang Tidak Siapa Menanam Pasti Memetiknya Tanggung Jawab Buah Perbuatan Sendiri Menanggung Demi Tahu Keadilan Tuhan Bahwa Dunia Ada Yang Berkuasa.

3. CA = Carane Kanggo Paring Panuding Warna-Warna Wujude Bebaya Angrusak Tanah Jawane Wong Ngglidik Datan Nyukupa Nyambut Karya Datan Nyukupi Priyayi Datan Kinormatan Sudagar Pada Ambruk Petanen Akeh Kang Sirna Rinusak Ama Katerak Paceklik Abot Uriping Jalma.
Artinya: Caranya dalam Memperlihatkan Macam-Macam Wujudnya Mara Bahaya Merusak Tanah Jawa (Nusantara) Orang Terampil Tidak Mencukupi Orang Kerja Tidak Mencukupi Para Pegawai (Pejabat) Tidak Terhormat Saudagar Pada Bangkrut Tanaman Banyak Yang Mati Dirusak Hama Dan Kemarau Panjang Berat Terasa Hidup Manusia.

4. RA = Rahayune Bumi Sirna Yekti Numbali Ama Malah Ndadra Tuhu Agung Rerusuhe Akeh Panandang Wanci Ndalu Tan Ana Tentreme Uripe Jalmi Ing Rina akeh Begal Da Rebut Rinebut Ngrisak Tataning Sujatma Nagri Kewuhan Anggenira Ngadani Jalma Tan Ajrih Pidana.
Artinya: Keselamatan Bumi Seolah Sirna Menolak Hama/Bencana Malah Menjadi Sungguh Besar Kerusuhannya Banyak Sakit Waktu Malam Tidak Ada Tenteramnya Hidup Manusia Siang Hari Banyak Perampok/Penodong Pada Berebutan Merusak Tatanan Kemanusiaan Negara Keteteran Dalam Mengatasi Manusia Dipidana

5. KA = Kalampahing Tigang Warsi Jalma Tasih Jroning Huru-Hara Rebutan Sandang Pangane Lali Sapa Sedulur Marga Tan Tahan Perihingati Lali Anggering Praja Mung Pada Mburu Nepsu Griya Katungka Praptanira Pageblug Linuwih Satanah Jawi Akeh Kang Samyo Pralaya.
Artinya: Berjalan Sampai Tiga Tahun Manusia Masih Dalam Huru Hara Berebut Sandang Pangan Lupa Siapa Saudara Sesungguhnya Tidak Tahan Pedihnya Hati Sampai Lupa Tatanan Negara Hanya Mengejar Nafsu Tak Mengerti Malah Rumahnya Kedatangan Mala Petaka Yang Lebih Besar di Nusantara Banyak Yang Pada Meninggal

6. DA = Dadiya Gegerising Prasetan Sami Kesandung Wae Nemahi Lena Akarya Wujud Dadine Udan Barat Angin Agung Kayu Ageng Rebah Mblasah Sami Kali-Kali Pada Bena Gegerisi Satuhu Kadya Ombaking Samudra Kang Tinerak Datan Bisa Nanggulangi Larut Amblas Myang Sirna.
Artinya: Membikin Ketakutan Para Setan Semua Hanya Kesandung Saja Menyebabkan Mati Kejadian Yang Aneh Tapi Nyata Hujan Barat Angin Besar (Badai & Topan) Kayu-Kayu Besar Roboh Berserakan Sungai-Sungai Pada Banjir Sungguh Sangat Menakutkan Seperti Ombaknya Lautan Yang Diterjang Tidak Bisa Menanggulangi Terseret Ombak Dan Menjadi Matinya.

7. TA = Tandane Kang Luwih Ing Gegerisi Alun Samya Munggah Ing Daratan Angrisak Tepis Wiringe Karya Getering Kalbu Ingkang Dumununging Tanah Kering Kayu-Kayu Akeh Kang Kendang Pada Sirna Larut Sela Ageng Samya Mbrastiha Gumaludug Katuut Keli Gemledeg Suwaranira.
Artinya: Tanda Yang Lebih Menakutkan Gelombang Laut Naik Ke Daratan Meusak Daerah Tepi Laut Membuat Hati Gemetar yang Berada Di Tanah Nusantara Kayu-Kayu Banyak Yang Terseret Air Pada Bermuka Pucat Batu Besar Pada Terguling Berbenturan Terseret Air Menggelegar Suaranya.

8. SA = Saka Tahing Redi Agung Sami Gegerisi Murubing Dahana Gumleger Swarane Muntah Welahare Myang Watu Mblabar Ngellebi Tanah Kering Mrajang Wana Lan Desa Manungsa Akeh Lampus Kebo Sapi Wedus Samya Raja Kaya Datan Wonten Ingkang Keri Langka Waras Akeh Lena.
Artinya: Banyaknya Gunung-Gunung Besar Menakutkan Menyala Api Menggelegar Swaranya Memuntahkan Lahar dan Batu Meluas Menenggelamkan Tanah Sekitar Menerjang Hutan dan Desa Manusia Banyak Korbannya Kerbau Sapi Kambing Begitu Juga Kekayaan Tidak Ada Yang Tertinggal Jarang Yang Selamat Banyak Yang meninggal.

9. WA = Wasana Sanget Areng Ing Bumi Ana Lindu Kaping Pitu Sedina Karya Nrusak Jalmane Pada Nela Sitipun Menga Saka Saking Nglangesi Anyarap Nandang Raga Warna-Warna Panggoda Lan Sesakit Langka Waras Akeh Sirna.
Artinya: Akhirnya Sangat Gersangnya Bumi ada Gempa Tujuh Kali Sehari Membikin Rusak Manusia Pada Berongga Buminya Merongga Karena Terlampau Panasnya Manusia Bingung Sekali Pada Mondar-Mandir Yang Sedang Sakit Bertambah Macam-Macam Penyakitnya Jarang Yang Selamat Banyak Yang Mati.

10. LA = Lah Ingkana Iku Tetengeri Niki Ingwang Pratandane Pamong Nusantara Maujud Twingen Rakyate Kinanthi Anak Putu Dudu Brekasakan Myang Demit Sun Sebar Kawruh Nyata Agama Satuhu Aweruhana Marang Makripat Sami Budi Nunggal Islam Kang Sejati Angemongi Sang Sukma.
Artinya: Begitulah Tanda-Tandanya Nyata Adanya Sang Pamong Nusantara Mewujudkan Kebajikan Rakyatnya Mengikuti Anak Cucu Bukan Setan dan Para Demit Saya Menajbarakan Pengetahuan Nyata Agama Sesungguhnya Dimengertilah Kepada Hal-Hal Makripat Pada Upayalah Kesatuan Islam Sejati Untuk Mengemban Hidupnya.

11. PA = Pepestining Nuswantara Tekan Janji Yen Wus Jangkep Limangatus Warsa Kapetung Jaman Tapane Jalma Bali Nusantara Rum Jawi Budi Madep Sawiji Sapa Kang Ngemohana Yekti Nampi Bendu Waton Ing Nuswantara Lali Pratanda Tekane Tundan demit Inggila Ing Lelara.
Artinya: Sudah Saatnya Nusantara Sampai Janji Kalau Sudah Genap Lima Ratus Tahun Dihitung Jaman Tapanya Nusantara Muncul Keharuman (Mercusuar) Asal Manusia Mau Gotong Royong Siapa Yang Tidak Mau Pasti Mendapat Celaka (Bencana) Bila Masih Di Nusantara Lupa Kepada Leluhur Tandanya Zaman Edan Pasti Tinggi Bencananya.

12. DHA = Diwewekan Zaman Tundan Demit Ajiwa Ngiringena Ngelmu Nira Nedya Nglawan Demite Sira Yekti Ginuyu Dening Para Demit Putu Sami Awiya Nandang Yudha Ananjakna Ngelmu Myang Sarana Marupa-Rupa Kabeh Iku Tan Pasah Mring Awak Demit Mbalik Nyabet Sira.
Artinya: Bila Sudah Saatnya Zaman Edan Walaupun Menerapkan Ilmunya Akan Melawan Zaman Edan Kamu Pasti Ditertawakan Oleh Para Demit Yang Berwujud Manusia Dia Pasti Ditertawakan Oleh Para Demit Yang Berwujud Manusia Dia Pasti Mengalami Pertengkaran Bila Mengandalkan Ilmunya Atau Bentuk Cara Yang Macam-Macam Semua Itu Tidak Mempan Di Zaman Edan Malah Bisa Melilit Dirinya.

13. JA = Jangkaneng Manungsa Wis Aweh Wansit Winaca Dening Jalma Waskitha Ing Primbon Jawa Bayane Jalma Tan Teguh Wutuh Winaca Sirnanya Sepalih Dene Ingkang Waluya Perlu Samya Weruh Wisarat Tolak Bebaya Mung Menepi Dharmane Urip Sejati Wangsitenya Para Kuna.
Artinya: Perjalanan Manusia Nusantara Telah Diberi Amanat Terbaca Oleh Manusia Waskita Di Primbon Jaya Bayanya Manusia Tidak Selamanya Teguh Utuh Terbaca Kematiannya Separo Sedangkan Yang Pada Selamat Perlu Semua Pada Mengerti Isyarat-Isyarat Menolak Bahaya Hanya Menepi Menempati Pengabdian Hidup Yang Sejati Amanat Para Leluhur.

14. YA = Yaiku Sahadat Sejati Ameruhana Dumuning Sang Gesang Ing Telenge Jiwa Ragane Lamon Tan Bisa Weruh Takokna Guru Kang Sejati Kang Putus Kawruhnya Wikan Manjing Alus Bisa Ajal Jroneng Gesang Wening
Artinya: Yaitu Sahadat Yang Sejati Mengertilah Sang Hidup Yang Sesungguhnya di Dalam Jiwa Dan Raganya Bila Tak Bisa Mengetahui Tanyakan Guru Yang Sejati Yang Sudah Mumpuni Pengetahuannya Bisa Berhubungan Halus Bisa Mati di Dalam Hidup Hening Kepada Asal-Usul Hidup Perlu Kamu-Kamu Berupaya.

15. NYA = Nyatakna Yen Sira WIwinirid Kabeh Wangsitnya Gurunira Weruhna Ing Makripate Manungsa Urip Iku Suket Ing Wana Pitakene Yen Wus Tumekane Mangsa Ginaru Waluku Ingkang Nlesep Selanira Yeku Jalma Kang Weruh Sahadat Sejati Wisikane Kang Sukma.
Artinya: Nyatakanlah Bila Sudah Diajari Semua Amanat Gurunya Diberi Tahukan Kepada Makrifat Manusia Hidup Itu Rumput Di Hutan Pertanyaannya Bila Sudah Saatnya Dibajak Diratakan Yang Bisa Menyelinap Di Sela-Selanya Yaitu Manusia Yang Mengetahui Sahadat Sejati Bisikannya Sang Hidup (Sukma).

16. MA = Menawa Sira Anyulayani Marang Geguritane Sang Gesang Yekti Abot Pidanane Urip Iku Satuhu Nggawa Rerenggane Hyang Widhi Kodrat Datan Ayidra Marang Karsa Agung Lamun Wis Tumekane Mangsa Geguritane Gesang Mbabar Dumadilah Sira Ing Madya Pada.
Artinya: Bila Manusia Menyimpangkan Kepada Garis Kehidupan Betul-Betul Berat Pidananya Hidup Itu Sungguh-Sungguh Membawa Perintah Kewajiban Tuhan Kodrat Tidak Mungkin Teringkar Kepada Tujuan Besar Bila Sudah Saatnya Garis Hidup Tercapailah Manusia Di Dunia.

17. GA = Gegarane Sahadat Sejati Kerasa Lamon Urip Iku Tunggal Tunggal Myang Kabeh Sifate Gelaring Jagat Iku Pratanda Agunging Hyang Widhi Kuwasa Ngukud Paranipun Kabeh Sifate Marang Sangkane Iku Sumebaring Urip Purwanira Dumadi.
Artinya: Pegangannya Sahadat Sejati Mengerti Tanggung Jawab Hidup Itu Tunggal Tunggal Kepada Semua Sifatnya Dunia Tergelar Itu Tanda Kebesaran Yang Maha Suci Kuasa Mengambilnya Kepada Semua Sifatnya Kepada Semua Hidup Yang Ada Asal Mulanya Jadi (Dari Allah).

18. BA = Babaring Gesang Wujud Dumadi Ginelar Sawarnane Agama Mrata Para Umate Tumeka Wancinipun Para Umat Ngungkurna Agami Kongsih Sareat Nggo Upa Berkat Seyatane Agama Tan Urip Ing Ati Ngrusak Brongsong Kawula.
Artinya: Terjabarnya Hidup Wujud Nyata Tergelar Banyak Macam Agama Merata Di Seluruh Umat Tapi Pada Saatnya Para Umat Membelakangi Ajaran Agama Sampai Merusak Agama Tidak Mematuhi Yang Sesungguhnya Memegang Syareat Untuk Bernafkah Sebetulnya Agama Tidak Hidup Di Hati Merusak Tatanan Umat.

19. THA = Thatit Sliweran Ing Nusa Jawi Pratanda Ing Wang Nuduhna Nyampurnake Myang Kang Satuhu Anyebarna Islam Kang Sejati Duk Zaman Brawijaya Ing Sun Wus Sumurup Angrusuk Agama Umate Ingwang Uninga Agama Iki Dislisir Saka Kang Nyata.
Artinya: Halilintar Menjilat-Jilat Tanah Jawa Tandanya Alam Menunjukkan Mengembalikan Yang Sesungguhnya Menyebarkan Islam (Selamat) Yang Sejati Pada Zaman Brawijaya (Majapahit) Sabda Palon Sudah Mengerti Masuk Agama Umat Di Dunia Sudah Ngakui Agama Ini Sedag Disimpangkan dari Yang Nyata.

20. NGA = Ngelingana Marang Umat Sami Yen Tan Ngetut Karsane Agama Yekti Abot Panandange Ingsung Pikukuhipun Nusantara Saindeng Embani Sisih Wetan Sisa-Sisa Punika Kasigrega Mrih Rahayu Ulun Nyabda Madya Pada lng Titi Wangsi Pada Ngati-Ati Lumantar Giri Maya.
Artinya: Mengingatlah Kepada Umat Semua Bila Tidak Mengikuti Kehendak Agama Sungguh Berat Kesakitannya Leluhur Mendasari Agama (Memperkuat) Nusantara Tuirut Mengembannya Para Muda Masih Banyak Belum Tahunya Berhentilah Menyimpang Biar Selamat Ini Adalah Sabda Leluhur Di Dunia Pada Saatnya Pada Berhati-Hati Melalui Gunung Suci.

Source https://catatanwongndeso.wordpress.com https://catatanwongndeso.wordpress.com/2014/04/12/huruf-jawa-koridor-nusantara-dan-dunia/
Comments
Loading...