Hak-Hakan, Jawa Tengah

0 120

Hak-Hakan, Jawa Tengah

Hak-hakan berkembang di Dusun Kaliyoso dan Tegalombo, Kecamatan Kertek, Kabupaten Boyolali. Hak-hakan mulai dikenal sejak tahun 1921. Kesenian ini menggambarkan masyarakat yang mencari air untuk keperluan pertanian, kemudian mengalirkannya, cara menggarap sawah, cara pemeliharaan pertanian, dan memetik hasilnya, serta membangun desa. Setiap bagian pekerjaan digambarkan secara medetail, sehingga pertunjukan ini membutuhkan waktu 12 jam. Acara dimulai pukul 07.00 WIB dan berakhir pukul 19.00 WIB.

Alur pada hak-hakan adalah sebagai berikut: semula daerah dusun belum memiliki nama dan baru beberapa keluarga yang tinggal. Pada saat mereka bercocok-tanam selalu bermasalah dengan keberadaan air, maka mereka mengadakan musyawarah agar air dapat dialirkan ke wilayah mereka. Kemudian dicarilah sumber sampai ke daerah Muncar. Sumber air tersebut kemudian disebut sebagai sumber buda, yaitu sumber air yang dibuat saluran menuju daerah mereka. Pembuatan saluran air ini tidak semudah yang mereka bayangkan. Mereka bekerja keras meratakan gunung dan tanah miring, menyingkirkan batu besar dan membersihkan pohon-pohon tinggi yang menghalangi jalur aliran air. Hingga akhirnya air dari sumber buda tersebut dapat dialirkan ke tempat mereka tinggal. Selanjutnya aliran air ini dinamakan “Kaliyoso”, yang artinya sungai yang dibuat bersama.

Setelah air mengalir, tanah pertanian berangsur-angsur subur sehingga banyak orang yang tertarik datang dan tinggal di daerah itu. Makin lama mereka membuat perkampungan dan membuat fasilitas umum seperti jalan dan batasbatas pedukuhan yang mereka miliki. Penduduk merasa bahwa kampong mereka harus diberi nama yaitu sesuai dengan saluran air yang mereka bangun, yaitu Kaliyoso.

Keseluruhan kesenian ini diperagakan dengan bentuk tarian dan permainan masal yang diiringi dengan suara gamelan, lagu dari para sinden, dan bunyi-bunyian seperti kentongan dan koplokan (bunyi-bunyian yang terbuat dari bambu). Istilah ”hak” menurut mereka sama dengan hak milik atau memiliki atau mempunyai. Penduduk Kaliyoso setelah berhasil membuat saluran air dan dapat bercocok tanam, mereka merasa memiliki. Apa yang ada di Kaliyoso merupakan hak mereka. Kemudian hak-hakan dilakukan untuk mengenang perlakuan dan tindakan sejak mereka musyawarah, mencari jalan air, bercocok tanam hingga membuat kampung. Kesenian ini dilakukan secara masal – sekitar 70 orang – yang terdiri dari hampir semua warga laki-laki di Dusun Kaliyoso.

Source https://budaya-indonesia.org https://budaya-indonesia.org/Hak-Hakan/
Comments
Loading...