Grebeg Sudiro, Bentuk Akulturasi Kebudayaan Jawa-Tionghoa

0 234

Bentuk Akulturasi Kebudayaan Jawa-Tionghoa

Perkembangan Kota Solo dengan beraneka ragam budayanya semakin pesat. Berbagai tradisi  bertajuk seni dan budaya pun sering diselenggarakan. Tak heran Kota Solo yang sudah terkenal dengan sebutan Kota Budaya semakin dibanjiri wisatawan. Salah satu bentuk tradisi rutin tahunan Kota Solo yaitu Grebeg Sudiro.

Grebeg Sudiro adalah sebuah tradisi  perayaan menyambut tahun baru Imlek yang diselenggarakan 7 hari sebelum tahun baru di kawasan Pasar Gedhe. Grebeg Sudiro merupakan bentuk akulturasi antara budaya Jawa dan Tionghoa yang menyatu padu menjadi sebuah keunikan dalam keberagaman. Grebeg merupakan tradisi khas Jawa yang biasanya diadakan untuk acara sakral seperti menyambut kelahiran Nabi Muhammad SAW yang biasa disebut Grebeg Mulud. Sudiro diambil dari nama kampung tempat penyelenggaraan acara, yakni Kampung Sudiroprajan di kawasan Pasar Gedhe yang terkenal dengan kampung Pecinan.

Dahulu, jauh sebelum ada Grebeg Sudiro, di kampung Sudiroprajan ini ada tradisi Buk Teko. Buk berarti tempat duduk di tepi jalan yang terbuat dari semen, Teko adalah tempat minum. Buk Teko adalah syukuran menyambut tahun baru Imlek yang sudah ada sejak zaman pemerintahan Sri Susuhunan Paku Buwana X.

Grebeg Sudiro yang berbentuk karnaval budaya Jawa – Tionghoa sebagai simbol toleransi dan kerukunan. Simbol-simbol itu nampak pada gunungan 4.000 kue ranjang yang dikirab dan kemudian dibagikan kepada masyarakat yang hadir. Gunungan merupakan tradisi khas Jawa, dan kue ranjang adalah produk makanan khas Tionghoa. Sajian atraksi Liong dan Barongsai beberapa juga dimainkan oleh orang Jawa. Hal ini menjadikan Grebeg Sudiro sebagai pesta penyambutan tahun baru Imlek yang bisa dinikmati dan dirasakan kebahagiaannya oleh siapa saja tanpa membedakan suku, agama dan ras. Semua menyatu dalam kebhinnekaan.

Selain makanan khas Tionghoa, iring-iringan gunungan pada Grebeg Sudiro juga menampilkan makanan khas kampung Sudiroprajan diantaranya gembukan, janggelut, bakpia Mbalong, keleman, onde-onde, dan sebagainya.

Source Grebeg Sudiro, Bentuk Akulturasi Kebudayaan Jawa-Tionghoa Tentang Solo
Comments
Loading...