budayajawa.id

Grebeg Maulud : Wujud Keharmonisan Agama Dengan Budaya Warga Jogja

0 9

Grebeg Maulud merupakan upacara tradisi peninggalan Kerajaan Demak untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW. Tradisi ini memiliki beberapa agenda yang ditutup dengan pengarakan “gunungan” dari Keraton Yogyakarta ke halaman Masjid Agung, untuk dibagikan kepada pengunjung yang sudah menunggu sejak semalaman.

Hampir semua orang Jogja tentu sudah tidak asing dengan istilah grebeg. Kata grebeg sendiri berasal dari Bahasa Jawa ‘Gembrebeg’ yakni suara keras yang timbul ketika Sultan keluar dari keraton untuk memberikan “gunungan” kepada masyarakatnya. Gunungan merupakan tumpukan hasil bumi seperti sayuran, buah-buahan dan makanan tradisional, dikawal oleh pasukan keraton dengan bunyi teriakan yang bersahut-sahutan serta diiringi suara tembakan. Seiring perjalanan waktu, nama gembrebeg berubah menjadi grebeg.

Dalam satu tahun Kalender Jawa, setidaknya terdapat 3 Grebeg. Grebeg Maulud, yang dilaksanakan pada Bulan Mulud untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad, Grebeg Syawal yang dilaksanakan pada Bulan Syawal untuk memperingati Hari Raya Idul Fitri, dan terakhir adalah Grebeg Besar yang dilaksanakan di Bulan Dzulkahijjah untuk memperingati Hari Raya Idul Adha.

Di Indonesia sendiri, upacara grebeg dilaksanakan di dua kota yakni Yogya dan Solo yang masih memiliki keraton dan sultan yang memerintah. Perbedaannya, sultan dari Keraton Yogyakarta memiliki jabatan sebagai gubernur sekaligus sedangkan Keraton Solo tidak.

Untuk anda yang ingin menyaksikan sendiri bagaimana keseruan tradisi ini, harap memastikan waktu berkunjungnya, karena acara ini hanya dilaksanakan setahun sekali dan menurut kalender Masehi, acara Grebeg Maulud selalu berubah karena disesuaikan dengan kalender Jawa.

Source https://bonvoyagejogja.com/grebeg-maulud-wujud-keharmonisan-agama-dengan-budaya-warga-jogja/ bonvoyagejogja.com
Comments
Loading...