“Gondang Buhun” Seni Tetabuhan Ciamis Dari Lesung

0 198

Gondang Buhun adalah kesenian khas Kampung Kuta yang tidak terdapat di daerah lain. Dalam kesenian gondang, alat yang digunakan adalah alu biasanya tingginya mencapai 2 meter, dan lisung yang panjangnya 2,5 meter. Biasanya lisung diisi dua ikat padi dan masyarakat kampung Kuta menyebutnya sebagai dua geugeus pare. Tapi dalam kesenian gondang yang ditampilkan dalam Upacara Adat Nyuguh kali ini tidak menggunakan padi.

Awalnya Gondang biasa dilakukan sehabis panen, karena hasil padi yang melimpah. Juga merupakan luapan rasa syukur dan terima kasih Kepada ALLAH SWT, bukan hanya penduduk yang panen saja yang bergembira, tetapi juga kesempatan kaum muda untuk mendapatkan pasangan. Adapun alat yang digunakan adalah Lisung, Halu, Kendang, Goong dan Angklung Buncis. Satu lesung panjang bisa dimainkan empat sampai 10 wanita. Jumlah tersebut biasanya tergantung panjangnya lesung. Pada Seni Gondang Kampung Kuta Tambaksari, jumlah pemain berkisar antara 6 – 10 orang. Jumlah pemain Gondang harus genap agar tidak ada kepincangan dalam ketukan.

Sejarah Seni Gondang Buhun

Dalam ‘Wawacan Sulanjana’ disebutkan, yang mengurus Sripohaci sebagai simbol padi yang berjumlah tujuh ranggeuy (untai) adalah Aki Sulanjana. Hal ini di tegaskan oleh sesepuh adat kuta, Aki Sanwarno. Dikatakan bahwa Sulanjana adalah tokoh yang ngarorok Sripohaci. Ngarorok atau merawat merupakan siloka (symbol) dari proses panen padi. Dalam mupusti padi (nganyarayan) disebutkan bahwa untuk mengawali panen harus melewati proses ritual. Misalnya,  padi yang pertama akan ditumbuk didalam lisung di perlakukan secara khusus, istilahnya ditimang dengan melantunkan kawih. Proses ini  pada perkembangannya disebut gondang. Padi yang biasanya ditimang, disebut pare pageuh. Dalam catatan Warsim Setiawan, ketua adat Kampung Kuta dan keterangan dari Idar Tarsih, ketua Seni Gondang Buhun Kampung Kuta, generasi sebelumnya yang menggiatkan kesenian gondang diantaranya bernama Rustiwi, Wasiti, Ruswi, Warsem dan Tayu yang berkiprah antara tahun 1910 sampai 1935.

Kesenian kondang selalu diadakan setiap kali ada hajatan, baik itu pernikahan maupun khitanan. Kesenian kondang diadakan di pagi buta. Ibu-ibu yang ada di kampung kuta menumbuk padi dengan menggunakan lesung dan halu. Suara dihasilkan dari halu yang dipukulkan ke lesung sambil menumbuk padi hingga menjadi beras.

 

Source "Gondang Buhun" Seni Tetabuhan Ciamis Dari Lesung "Gondang Buhun" Seni Tetabuhan Ciamis Dari Lesung "Gondang Buhun" Seni Tetabuhan Ciamis Dari Lesung
Comments
Loading...