Gogolekan Batang Daun Singkong, Permainan Tradisional

0 12

Gogolekan Batang Daun Singkong, Permainan Tradisional

Ketika saya masih duduk di kelas lima SD, sekolah saya mengadakan studi wisata dan salah satu tempat yang kami kunjungi adalah Desa Cinangneng di kawasan Bogor. Di sana kami banyak mempelajari kebudayaan tradisional, mulai dari makanan (waktu itu kami membuat kue pukis) sampai mempelajari sedikit tarian tradisional. Salah satu hal paling berkesan yang saya pelajari adalah membuat gogolekan dari batang daun singkong.

Gogolekan atau yang lebih umum dikenal sebagai wayang adalah media yang sangat terkenal di Indonesia, terutama di masyarakat Sunda dan Jawa. Gogolekan yang sering kita jumpai kini biasanya terbuat dari kulit atau kayu, namun pada awal lahirnya gogolekan dibuat dari batang daun pohon lontar atau singkong dengan membentuk dan menganyamnya menjadi seorang tokoh. Biasanya antar tokoh dibedakan dari bentuk dan arah hidungnya, namun kreativitas tanpa batas anak-anak melahirkan berbagai bentuk dengan variasi yang unik. Sebagai contoh, tokoh ksatria memiliki hidung yang mancung, sedangkan butho (raksasa) hidungnya bundar besar. Warna dari gogolekan tersebut saat baru dibuat biasanya berwarna merah atau coklat muda, namun lama kelamaan akan menjadi coklat tua dan kering.

Cara bermainnya adalah dengan menirukan suara dalang dan membuat alur cerita sendiri. Jika hanya ada satu golek, biasanya anak akan menirukan suara gamelan seperti dalam pertunjukan dan menarikan goleknya. Jika bermain dengan dua golek, maka dua golek itu akan berpura-pura sedang bertempur atau sekedar berbicara. Dimainkan bersama-sama lebih menyenangkan karena tokohnya lebih banyak sehingga alur cerita bisa lebih bervariatif.

Untuk membuatnya, yang pertama harus dilakukan adalah membersihkan batang dari daun-daunnya kemudian dijemur di bawah terik matahari sampai layu, agar batang mudah dibentuk dan tidak mudah patah. Lalu batang dibentuk dan dianyam dengan pola yang, menurut saya, lumayan rumit dan sulit. Saya yang masih berumur 10 tahun waktu itu hampir putus asa ketika batang singkong saya patah berkali-kali dan harus mengulang. Saya tidak habis berpikir bagaimana anak-anak lain sepertinya membuat pekerjaan ini terlihat mudah, dan mereka dapat membuatnya dengan cepat. Ketika akhirnya saya menyelesaikan gogolekan saya, rasanya puas sekali. Gogolekan itu saya bawa pulang ke Bandung dan lama saya simpan walaupun batangnya sudah sangat layu dan coklat, sampai ibu saya kesulitan membujuk saya untuk membuangnya.

Source https://budaya-indonesia.org/Gogolekan-Batang-Daun-Singkong/ https://budaya-indonesia.org/Gogolekan-Batang-Daun-Singkong/
Comments
Loading...