budayajawa.id

Gempuran, Permainan Rakyat Madura

0 13

Gempuran

Permainan Gempuran adalah suatu permainan anak-anak yang artinya menggempur atau menghancurkan. Menurut kamus bahasa Jawa, kata gempur adalah “remuk ajur” atau dalam bahasa Indonesia mempunyai makna usaha atau tindakan menghancur-leburkan. Nama ini, jika dikaitkan dengan permainan mempunyai motivasi untuk menghancurkan tumpukan pecahan gerabah yang, merupakan alat perlengkapan dari permainan.

Kaitannya dengan peristiwa lain baik upacara yang bersifat keagamaan atau pun upacara tradisional lainnya tidak ada. Per­mainan ini sifatnya hiburan dimana anak-anak melakukannya se­bagai suatu aktivitas untuk mengisi kekosongan waktu senggang baik siang hari mau pun sore hari misalnya pada waktu istirahat di sekolah atau sepulang dari sekolah dan setelah membantu orang tuanya. Permainan gempuran tidak diiringi dengan musik atau pun nyanyian-nyanyian apa pun. Jika terdengar suara bersiul-siul atau pun berasendelan, gelak tawa, sindiran dan ejekan teriakan, hal itu merupakan variasi dari para pemain untuk mengungkapkan cita rasa kegembiraan sehingga permainan tersebut menjadi lebih se­marak.

Jumlah para pelaku permainan tidak ditentukan, lebih banyak jumlahnya akan lebih serulah permainan ini. Biasanya permainan ini dilakukan oleh dua puluh orang, dan jumlah itu dibagi dua ke­lompok. Masing-masing kelompok sepuluh orang. Peserta permain­an ini adalah anak laki-laki yang berusia antara sembilan sampai dengan empat belas tahun. Permainan ini mudah dimainkan dan tidak memerlukan biaya, karena yang dibutuhkan hanyalah ke­kuatan fisik, kecerdikan, akal, ketrampilan dan mampu memper­kirakan.

Peralatan sebagai alat pelengkap dari permainan gempur sa­ngat sederhana, sesuai dengan kondisi alam yang dan latar bela­kang sosial budaya agraris, yakni beberapa keping pecahan gera­bah, tembikar atau kereweng yang jumlahnya sama dengan jumlah anak yang bermain. Alat ini harus cukup keras, dan kuat, serta ti­dak mudah pecah, serta dapat disusun dalam tumpukan yang ting­gi di atas tanah dalam keadaan labil.

Selain pecahan itu, diperlukan pula sebuah bola. Bola ini digu­nakan sebagai alat pelempar, yang terbuat dari sisa-sisa kain (per­ca) atau daun pisang kering yang digulung-gulung sampai berbentuk semacam bola bergaris tengah sekitar sepuluh sentimeter. Ke­mudian dililit dengan tali temali sehingga bola itu tetap pejal dan utuh bentuknya. Atau dapat juga dibuat dari anyaman janur dengan ukuran garis tengah yang sama. Untuk tempat bermain dipi­lih halaman yang luas atau suatu lapangan, “nilai” sebagai keme­nangan dinyatakan dengan hitungan suatu petak “sawah”.

Setelah semua peralatan yang diperlukan telah siap, dan jum­lah para pelalu telah mencukupi serta tempat untuk bermain telah disepakati pula maka permainan pun dapat dilakukan. Sebe­lum permainan dimulai terlebih dahulu dilakukan suatu konsensus berapa “sawah” yang harus dicapai oleh setiap kelompok dalam permainan ini. Misalnya ditentukan sejumlah “sawah lima“. Maka kelompok yang memperoleh “sawah lima” terlebih dahulu dinya­takan menang. Begitu pula perjanjian yang menyangkut jenis hukuman bagi kelompok yang dapat dikalahkan, misalnya kelom­pok yang kalah harus menggendong kelompok yang menang pada jarak kejauhan tertentu.

Source http://www.lontarmadura.com http://www.lontarmadura.com/gempuran-permainan-rakyat-madura/
Comments
Loading...