Gaok, Kesenian Mamaos Majalengka

0 62

Kesenian Gaok adalah sejenis kesenian membacakan kidung-kidung dari kitab-kitab kuno yang biasanya menceritakan kisah atau babad dengan selipan petatah petitih jaman dulu.

Sejarah Perkembangan Gaok

Berkembang di Majalengka sejak masa pemerintahan Pangeran Muhammad, yaitu pada abad ke-15. Diprediksi bahwa gaok merupakan media dakwah Islam sebelum masyarakat mengenal budaya baca. Kesenian ini mengalami sinkritisme antara nilai-nilai budaya etnis Sunda dengan budaya Islam yang datang dari Cirebon. Artinya ada pencampuran antara nilai budaya Sunda dengan nilai budaya Islam. Misalnya, pertunjukan dimulai dengan ucapan basmallah, namun bahasa yang digunakan kemudian adalah bahasa Sunda. Tokoh yang berperan mengembangkan kesenian gaok antaranya adalah Sabda Wangsaharja sekitar tahun 1920-an. Beliau berdomisili di Kulur, Majalengka.

Gaok dimainkan oleh empat sampai enam orang pemain yang semuanya berjenis kelamin laki-laki. Baju yang digunakan adalah baju kampret atau toro, lengkap dengan ikat kepala. Pertunjukan dipimpin oleh seorang dalang/pangrawit, dan pemain lainnya berperan sebagai juru mamaos. Selain sebagai juru mamaos, setiap pemain memegang sebuah alat musik atau waditra yang sangat sederhana, semuanya terbuat dari bambu, yaitu berupa kecrek, gendang bambu atau dapat juga digunakan buyung, dan gong bambu yang dibunyikan dengan cara ditiup. Penambahan waditra pada kesenian gaok ini sebenarnya hanya upaya diversifikasi saja, karena secara original gaok tidak diiringi musik.

Gambaran Kesenian Gaok

Pada tahap pertunjukan, dalang membacakan larik-larik naskah yang kemudian setiap larik yang dibacakan itu dinyanyikan oleh juru mamos secara bergantian. Jenis lagu bersumber dari pupuh yang berjumlah 17. Namun lebih banyak menyanyikan lagu-lagu Ageung, yaitu Kinanti, Sinom, Asmarandana, dan Dangdanggula. Cerita dalam pergelaran seni Gaok di antaranya adalah, Cerita Umar Maya, Sulanjana, Barjah, Sarmun, dsb. Bahan cerita Gaok kini ada yang sudah ditulis, antaranya Nyi Rambutkasih dan Talagamanggung, keduanya ditulis oleh E. Wangsadihardja (alm.).

Kesenian Gaok saat ini merupakan salah satu kesenian yang langka di Majalengka dan memerlukan perhatian yang serius dalam pembinaannya. Dalam hal ini perlu adanya upaya regenerasi melalui pendidikan kesenian, baik praktis maupun apresiasi. Gaok yang hidup di Majalengka sekarang tercatat hanya dua grup saja, yaitu di Desa Kulur dan di Burujul. Di Desa Kulur, pelestarian kesenian gaok dilakukan oleh E. Wangsadihardja. Setelah beliau meninggal pada tahun 2006, kesenian Gaok dilanjutkan oleh para penerusnya, yaitu Sukarta dkk.

Source Gaok, Kesenian Mamaos Majalengka Gaok, Kesenian Mamaos Majalengka Gaok, Kesenian Mamaos Majalengka

Leave A Reply

Your email address will not be published.