Fungsi Tradisi Upacara Tingkeban

0 494

Fungsi Tradisi Upacara Tingkeban

Tradisi Tingkeban merupakan langkah permohonan di dalam bentuk selamatan. Batas 7 bulan, sebenarnya adalah simbol budi pekerti supaya hubungan suami dan istri tidak lagi dilakukan supaya anak yang akan lahir bisa berjalan dengan sangat baik. Istilah methuk atau menjemput di dalam Tradisi Jawa, bisa dilakukan sebelum bayi berumur 7 bulan. Hal ini menunjukkan sikap hati-hati dari orang Jawa di dalam menjalankan kewajiban luhur. Itulah sebabnya, bayi yang sudah berumur 7 bulan harus disertai laku prihatin.


Pada saat ini, keadaan ibu hamil sudah seperti “sapta kukila warsa”, yaitu artinya adalah burung yang kehujanan. Burung tersebut tampak lelah serta kurang berdaya, tidak dapat terbang kemana-mana, sebabnya yang paling mujarab yaitu berdoa supaya bayinya bisa lahir dengan selamat. Beberapa pantangan yang patut di catat oleh ibu hamil dan suaminya, juga mengarah kepada budi pekerti Jawa luhur. Dimana, seorang ibu hamil dilarang untuk makan buah-buahan yang melintang, seperti buah kepel dimaksudkan supaya posisi bayi di perut tidak melintang.

Jika posisi melintang maka akan sangat menyulitkan kelahirannya nanti. Hal tersebut sebenarnya ada kaitannya dengan segi kesehatan, sebab buah kepel sebenarnya panas bila dimakan, sehingga jika terlalu banyak makan buah ini dapat berakibat juga pada keadaan bayi. Orang hamil, misalkan tidak diperbolehkan duduk di depan pintu dan juga di lumping tempat menumbuk padi, sebetulnya memuat nilai etika Jawa. Yaitu, supaya sikap dan watak ibu hamil tidak dipandang tidak sopan, sebab posisi duduk demikian tentunya juga akan memalukan serta tidak enak dipandang. Seorang suami yang dilarang untuk menyembelih hewan, sebetulnyanya terkandung makna budi pekerti supaya tidak menganiaya makhluk lain. Penganiayaan tersebut juga merupakan tindakan yang tidak baik.

Di samping itu, kemudian ada kata-kata “ora ilok” jika meyembelih hewan, hal ini dimaksudkan supaya bayi yang akan lahir tidak cacat. Watak dan juga perilaku yang dilarang ini adalah aspek preventif supaya suami lebih berhati-hati. Disamping itu, baik itu ibu hamil maupun suami diharapkan untuk tidak membatin mengenai orang yang cacat, supaya bayinya nanti tidak cacat. Perilaku ini merupakan upaya supaya pasangan tersebut tidak semena-mena terhadap orang lain yang cacat. Proses selamatan tradisi mitoni ini dilakukan di kebun kanan kiri rumah disuatu krobongan. Krobongan sendiri adalah bilik yang terbuat dari kepang atau anyaman bambu dan pintunya menghadap ke arah timur serta dihiasi oleh tumbuh-tumbuhan.

Krobongan merupakan lambang dunia, yakni bahwa ibu hamil dan suami saat melahirkan anak nantinya harus menghadapi tantangan berat. Kelahiran anak nanti di ibaratkan akan memasuki sebuah hutan (pasren). Adapun untuk maksud pintu krobongan menghadap ke timur, bisa dikaitkan dengan asal kata timur atau yang dalam bahasa Jawa “wetan” (wiwitan). Artinya, timur merupakan permulaan hidup atau sangkan paraning dumadi.

Source Fungsi Tradisi Upacara Tingkeban Kamerabudaya.com
Comments
Loading...