Fungsi Pertunjukan Wayang di Tanah Jawa

0 68

Pada Zaman Hindu, bentuk pertunjukan wayang berkembang begitu pesat. Setelah Agama Hindu mulai masuk, berkembang, dan berakulturasi dengan kebudayaan bangsa Indonesia, memberikan warna pada pertunjukan wayang di Indonesia. Pada tahun 903M, kitab Ramayana berhasil di sadur kedalam Bahasa Jawa Kuno yang tujuannya di gunakan untuk mengkomunikasikan nilai-nilai Hindu yang terkandung dalam cerita Ramayana tersebut. Pertunjukan Wayang yang semula digunakan sebagai media pertunjukan wayang yang semula digunakan sebagai media pemujaan Hyang, kemudian berkembang menjadi media komunikasi ajaran agama. Sejak saat Ini kisah Pewayangan juga tidak lagi menggunakan cerita nenek moyang, tetapi mulai menggunakan cerita Mahabarata dan Ramayana (Sri Mulyono, 1982:60).

Pertunjukan wayang di tempatkan sebagai suatu pertunjukan yang adiluhung yang tidak hanya berperan dalam kehidupan spiritual dan rohani masyarakat, tetapi juga sebagai media hiburan, media pendidikan, dan penanaman nilai-nilai agama Hindu walaupun pada masa itu format pertunjukan wayang masih sangat sederhana. Pada masa itu dalang sangat begitu disegani. Dalang dalam pertunjukan pada masa itu juga mempunyai kemampuan mengadopsi cerita pahlawan-pahlawan dan dewa-dewa pada kesusatraan India seperti Mahabarata dan Ramayana, kemudian dicampurkan dengan mitos-mitos kuno mengenai nenek moyang. Sehingga tanpa disadari masyarakat Indonesia menganggap bahwa pahlawan-pahlawan Ramayana dan Mahabarata itu sebagai nenek moyangnya. Pertunjukan wayang untuk pemujaan terhadap Hyang masih dilakukan dengan menggunakan cerita Mahabarata dan Ramayana pada waktu itu.

Wayang merupakan media hiburan dan sarana ritual keagamaan yang penting pada masa itu. Hingga sampai saat ini kesenian Wayang digunakan sebagai sarana pelengkap untuk mensukseskan suatu upacara/Yadnya yang di lakukan agar Sidakarya dan Sidapurna. Upacara-upacara yang menggunakan media Wayang seperti Ruatan dilaksanakan dengan pengucapan mantra-mantra Weda oleh seorang Sulinggih/pendeta dan di lengkapi dengan Tirta yang di mohonkan oleh seorang Dalang untuk melebur segala kekotoran batin yang melekat. Pada zaman Islam ketika Majapahit mulai memudar pengaruhnya pada tahun 1478 M (Sirna Hilang Kertaning Bumi), para Bupati di pesisir Jawa Timur sudah banyak yang memeluk Agama Islam dan memisahkan diri dari Kerajaan Majapahit.

Salah satu kerajaan yang sangat kuat pengaruhnya diantara kerajaan-kerajaan Islam pesisir itu adalah kerajaan Demak, dibawah pemerintahan Raden Patah, putra dari Kerta Bhumi atau Brawijaya V yang lahir dari seorang putrid Champa yang beragama Islam. Setelah kerajaan Majapahit Runtuh, pusat pemerintahan berpindah di Demak pada tahun 1478-1520. Para wali pada masa itu terus berinofasi mencari jalan dakwah untuk melakukan Syiar Agama Islam. Pada masa itu terdapat dua kubu dikalangan Wali Songo yang pro untuk menggunakan kesenian sebagai media dakwah dan yang tidak. Kalangan yang pro terhadap kesenian sebagai media dakwah terutama wayang diantaranya adalah Sunan Kali Jaga dan Sunan Bonang.

Source Budaya Jawa http://blog.isi-dps.ac.id/trisnajaya/fungsi-pertunjukan-wayang-pada-zaman-hindu-dan-islam

Leave A Reply

Your email address will not be published.