Filosofi Tradisi Ketupat Di Jawa

0 78

Filosofi Tradisi Ketupat Di Jawa

Ketupat tidak bisa dikatakan budaya khas Indonesia. Ketupat atau kupat lebih pas disebut hidangan khas Asia Tenggara, berupa makanan dari beras yang dibungkus anyaman daun kelapa muda (janur), yang disajikan pada hari-hari istimewa.

Selain di Indonesia, ketupat juga dijumpai di Malaysia, Brunei, dan Singapura. Di Filipina bahkan ada bugnoy yang sangat mirip ketupat, namun dengan pola anyaman berbeda. Namun jika bicara soal lebaran di pulau Jawa, ketupat atau kupat sangatlah identik dengan Hari Raya Idul Fitri.

Konon Sunan Kalijaga adalah orang yang pertama kali memperkenalkan ketupat pada masyarakat Jawa. Ia membudayakan dua kali bakda, yaitu bakda Lebaran dan bakda Kupat. Bakda Kupat dimulai seminggu sesudah lebaran.

Saat bakda kupat, hampir setiap rumah di pulau Jawa pada waktu itu menganyam ketupat dari daun kelapa muda. Setelah selesai dianyam, ketupat diisi dengan beras kemudian dimasak. Usai dimasak, ketupat tersebut diantarkan ke kerabat yang lebih tua sebagai lambang kebersamaan.

Dalam filosofi Jawa, ketupat lebaran bukanlah sekedar hidangan khas hari raya lebaran. Ketupat memiliki makna khusus. Ketupat atau kupat dalam bahasa Jawa merupakan kependekan dari Ngaku Lepat (mengakui kesalahan) dan Laku Papat (empat tindakan).

Tradisi sungkeman menjadi implementasi ngaku lepat (mengakui kesalahan) bagi orang Jawa. Prosesi sungkeman yakni bersimpuh di hadapan orang tua seraya memohon maaf dan doa restu, hal ini masih membudaya hingga kini.

Sungkeman mengajarkan pentingnya menghormati orang tua, bersikap rendah hati, memohon keikhlasan dan ampunan dari orang lain, khususnya orang tua. Sementara Laku papat artinya empat tindakan dalam perayaan Lebaran.

Empat tindakan tersebut adalah lebaran, luberan, leburan, dan laburan. Lebaran bermakna usai, menandakan berakhirnya waktu puasa. Luberan bermakna meluber atau melimpah, hal ini sebagai simbol ajaran bersedekah untuk kaum miskin.

Leburan bermakna melebur, maksudnya adalah dosa dan kesalahan kita akan melebur habis. Laburan berasal dari kata labur atau kapur (zat yang biasa digunakan untuk penjernih air), hal ini bermakna manusia diharuskan selalu menjaga kesucian lahir dan batin.

Ketupat memiliki empat penafsiran

Pertama

Mencerminkan beragam kesalahan manusia, hal ini bisa terlihat dari rumitnya bungkusan ketupat ini.

Kedua

Kesucian hati. Setelah ketupat dibuka, maka akan terlihat nasi putih dan hal ini mencerminkan kebersihan dan kesucian hati setelah memohon ampunan dari segala kesalahan.

Ketiga

Mencerminkan kesempurnaan, bentuk ketupat begitu sempurna dan hal ini dihubungkan dengan kemenangan umat Islam setelah sebulan lamanya berpuasa dan akhirnya menginjak Idul Fitri.

Keempat

Karena ketupat biasanya dihidangkan dengan lauk yang bersantan, maka dalam pantun Jawa ada yang bilang ‘kupat santen’, atau ‘kulo lepat nyuwun ngapunten (Saya mengaku salah dan ingin meminta maaf).

Source https://sportourism.id/ https://sportourism.id/explore/ada-filosofi-tinggi-dalam-tradisi-ketupat-di-jawa
Comments
Loading...