budayajawa.id

Filosofi Tradisi Endog Endogan Di Banyuwangi

0 22

Filosofi Tradisi Endog Endogan Di Banyuwangi

Tradisi endog-endogan sendiri tidak hanya dilakukan pada satu wilayah, tapi tersebar di 24 kecamatan di wilayah Kabupaten Banyuwangi, terutama di wilayah-wilayah yang ditempati Suku Using, suku asli Banyuwangi. Mulai dari mushola kecil di desa, masjid, sekolah, bahkan organisasi Islam, semuanya menggelar tradisi endog-endogan.

Selain itu ada makna filosofi yang tinggi dari Tradisi Endog-endogan ini. Endog atau telur memiliki tiga lapisan, yang terdiri dari kuningan, putihan dan cangkang. Berkaitan dengan kelahiran Nabi Muhammad, ketiga lapis telur tersebut merupakan bahasa simbolik.

Pertama, kuning telur terdapat di bagian paling dalam dari sebuah telur. Dari kuning telur ini merupakan embrio dari sebuah proses kehidupan. Dalam bagian ini terdapat protein yang tinggi maka dapat di ibaratkan sebagai IHSAN dalam kehidupan, sebagai bagian yang paling penting.

Kedua, Putihan yang berfungsi sebagai pembungkus dan pelindung kuningan. Putihan disini ibarat ISLAM, setelah ihsan maka membentuklah sebuah kenyakinan yaitu berupa islam.

Ketiga, Cangkang adalah kulit terluar dari telur yang melindungi putihan dan kuningan telur tersebut. Cangkang ibarat IMAN dalam kehidupan.

Ditancapkannya telur di pohon pisang maknanya adalah pohon pisang di ibaratkan manusia. Dalam diri manusia terdapat perangkat qolbu yang didalamnya dapat tancapkan apa saja, kebaikan ataupun keburukan. Maka iman, islam dan ihsan adalah harmonisasi risalah yang di bawa Nabi Muhammad SAW, yang jika di tancapkan pada diri manusia akan menghasilkan manusia yang tercermin dari pribadi Nabi Muhammad SAW.

Yang juga unik, tradisi Endog-endogan tidak serentak dilaksanakan pada tanggal 12 Rabiul Awal, tapi dilaksanakan selama satu bulan. Waktunya bergantian, hari ini bisa di kampung A, besok di kampung B. Yang jelas selama satu bulan penuh di Banyuwangi akan banyak pawai endog-endogan. Namun dengan perkembangan zaman, kembang endog sudah berubah tidak hanya berbentuk bunga tetapi berubah sesuai kreativitas masyarakat, seperti berbentuk barong, ular naga, pesawat ataupun model kerucut.

Source https://kanal3.wordpress.com/ https://kanal3.wordpress.com/2015/04/21/sejarah-munculnya-tradisi-endog-endogan-di-banyuwangi/
Comments
Loading...