Filosofi Tembang Megatruh

0 41

Macapat adalah tembang atau puisi tradisional Jawa. Setiap bait macapat mempunyai baris kalimat yang disebut gatra, dan setiap gatra mempunyai sejumlah suku kata (guru wilangan) tertentu, dan berakhir pada bunyi sajak akhir yang disebut guru lagu. Macapat dengan nama lain juga bisa ditemukan dalam kebudayaan Bali, Sasak, Madura, dan Sunda. Selain itu macapat juga pernah ditemukan di Palembang dan Banjarmasin. Biasanya macapat diartikan sebagai maca papat-papat (membaca empat-empat), yaitu maksudnya cara membaca terjalin tiap empat suku kata. Namun ini bukan satu-satunya arti, penafsiran lainnya ada pula. Macapat diperkirakan muncul pada akhir Majapahit dan dimulainya pengaruh Walisanga, namun hal ini hanya bisa dikatakan untuk situasi di Jawa Tengah. Sebab, di Jawa Timur dan Bali macapat telah dikenal sebelum datangnya Islam.

Karya-karya kesusastraan klasik Jawa dari masa Mataram Baru, pada umumnya ditulis menggunakan metrum macapat. Sebuah tulisan dalam bentuk prosa atau gancaran pada umumnya tidak dianggap sebagai hasil karya sastra namun hanya semacam ‘daftar isi’ saja. Beberapa contoh karya sastra Jawa yang ditulis dalam tembang macapat termasuk Serat WedhatamaSerat Wulangreh dan Serat Kalatidha.

Puisi tradisional Jawa atau tembang biasanya dibagi menjadi tiga kategori: tembang ciliktembang tengahan dan tembang gedhé. Macapat digolongkan kepada kepada kategori tembang cilik dan juga tembang tengahan, sementara tembang gedhé berdasarkan kakawin atau puisi tradisional Jawa Kuna, namun dalam penggunaannya pada masa Mataram Baru, tidak diterapkan perbedaan antara suku kata panjang ataupun pendek. Di sisi lain tembang tengahan juga bisa merujuk kepada kidung, puisi tradisional dalam bahasa Jawa Pertengahan.

Filosofi Tembang Megatruh

Berasal dari kata “megat” yang berarti putus dan “ruh” yang berarti jiwa/roh. Maksudnya yaitu putusnya atau perginya ruh dari jasad karena sudah waktunya untuk kembali ke Sang Pencipta. Menggambarkan terlepasnya roh atau kematian manusia. Watak lagu ini nglara lan sedih. Bisa juga Megatruh itu Megat ruh, artinya putusnya nyawa dari raga. Jika pegat tanpa aruh-aruh. Datangnya kematian tiba-tiba. Tanpa kompromi bahkan untuk menyesal saja sudah terlambat, apalagi untuk memperbaiki diri.
Comments
Loading...