Filosofi Tembang Asmaradhana

0 28

Macapat adalah tembang atau puisi tradisional Jawa. Setiap bait macapat mempunyai baris kalimat yang disebut gatra, dan setiap gatra mempunyai sejumlah suku kata (guru wilangan) tertentu, dan berakhir pada bunyi sajak akhir yang disebut guru lagu. Macapat dengan nama lain juga bisa ditemukan dalam kebudayaan Bali, Sasak, Madura, dan Sunda. Selain itu macapat juga pernah ditemukan di Palembang dan Banjarmasin. Biasanya macapat diartikan sebagai maca papat-papat (membaca empat-empat), yaitu maksudnya cara membaca terjalin tiap empat suku kata. Namun ini bukan satu-satunya arti, penafsiran lainnya ada pula. Macapat diperkirakan muncul pada akhir Majapahit dan dimulainya pengaruh Walisanga, namun hal ini hanya bisa dikatakan untuk situasi di Jawa Tengah. Sebab, di Jawa Timur dan Bali macapat telah dikenal sebelum datangnya Islam.

ASMARADHANA

Falsafah, gambaran dan arti tembang Jawa Asmaradana adalah manusia dalam masa menuju dewasa dengan tanda memiliki rasa asmara atau cinta (tresno) terhadap lawan jenis yang kemudian menjadi pasangan yang merupakan kodrat dari Tuhan.

Tembang Macapat Asmaradana berasal dari kata “asmara” yang artinya cinta dan  “dahana” yang artinya api. Ya, api cinta Asmaradana, api asmara yang membakar jiwa dan raga. Manusia mulai tumbuh rasa cinta terhadap lawan jenis yang tentunya sudah menjadi kodrat manusia. Asmaradana menggambarkan masa di mana manusia dirundung asmara, dimabuk cinta, dilarutkan dalam lautan kasih. Kehidupannya digerakkan oleh motifasi harapan dan asa asmara.

Source https://www.longlifeducation.com https://www.longlifeducation.com/2016/08/11-tembang-macapat-11-filosofi.html

Leave A Reply

Your email address will not be published.