Filosofi Tari Serimpi Sangupati, Melawan Penjajah dengan Kelembutan

0 68

Filosofi Tari Serimpi Sangupati, Melawan Penjajah dengan Kelembutan

Tari Serimpi adalah tarian yang sakral, hanya boleh dipentaskan oleh kalangan keraton saja. Jika melihat dari sejarahnya, tarian ini sempat menjadi bentuk perlawanan terhadap penjajah di masa lalu. Kata Serimpi mempunyai arti mimpi, karena kesakralan tarian serimpi para penonton seolah-olah masuk ke dunia mimpi. Penonton akan terbuai oleh alunan musik dan gerakan yang lembut serta luwes dari penari tari serimpi.

Nama serimpi dihubungkan dengan 4 unsur yang ada dalam kehidupan manusia, sehingga tarian serimpi pun dibawakan oleh 4 orang yaitu gama (api), angina (udara), toya (air) dan bumi (tanah). Tarian Serimpi yang lahir dan berasal dari Keraton Jawa yaitu Keraton Yogyakarta dan Surakarta menjadi penghibur bagi penonton yang sedang lelah, emosi, dan ruwet pikirannya.

Tari Serimpi sendiri memiliki banyak jenis, salah satunya ialah tari serimpi sangupati. Awalnya tari serimpi memiliki nama tari serimpi sangapati yang terdiri dari dua kata yaitu kata sang dan apati. Secara garis besarnya sang apati dapat diartikan sebagai sang pengganti raja.   Dalam perjalanan waktu, tari serimpi sangapati berubah nama menjadi tari serimpi sangupati ketika masa pemerintahan Pakubuwono IX. Tarian yang lahir sejak masa pemerintahan Pakubuwono VI ini berganti nama karena adanya jaman kolonialisme yang sempat bercokol di Tanah Jawa.

Penggantian nama ini terjadi karena peristiwa yang dialami Keraton Surakarta, peristiwa yang berkaitan dengan adanya arogansi kolonialisme Belanda di waktu dulu yang memaksa Keraton Surakarta memberikan tanah yang ada di pesisir Pulau Jawa. Dari persitiwa itu kemudian terjadilah perundingan. Dalam perundingan, pihak Kolonial Belanda disuguhkan tarian serimpi sangupati. Di sinilah tarian mengalami perubahan nama.

Dalam tarian Serimpi Sangupati di kala itu, penari serimpi dilengkapi dengan senjata tajam seperti pistol dan gelek inum. Gelek inum adalah sejenis gelas yang digunakan untuk menjamu tamu Belanda yang datang. Sedangkan untuk pistonya sendiri telah diisi dengan peluru asli yang digunakan sebagai pertahanan jika nantinya pihak Belanda menyerang. Sebenarnya dalam kesehariannya, penari serimpi menggunakan pakaian penganten atau temanten puteri dengan gaya keraton yang dilengkapi dodotan. Selain itu, penari juga dilengkapi dnegan gelung bokor yang bermanfaat sebagai penghias kepala.

Tetapi di dalam perkembangannya, terjadi banyak perubahan dalam penampilan penari serimpi, dimulai dari penggunaan kain seredan, baju yang tidak menggunakan lengan dengan warna yang terang dan juga bulu burung kasuari sebagai hiasan kepala.Keris juga digunakan sebagai pelengkap penting yang diselipkan menyilang di kiri. Penggunaan properti keris merupakan symbol bahwa tari serimpi merupakan tarian yang berasal dari keraton.

Khusus untuk tarian serimpi sangupati, keris diganti dengan pistol. Jika di masa lalu penari menggunakan pistol dengan peluru sungguhan, sedangkan sekarang hanya menggunakan pistol tanpa peluru yang menjadi pelengkap tarian saja. Tarian serimpi ini mempunyai makna yang mendalam mengenai nilai yang dalam bahwa manusia siapapun dia, seperti apaun dia dan bagaimana pun dia harus mampu melawan dan mengendalikan hawa nafsunya.

Pesan gerakan serimpi yang halus dan lembut menggambarkan bahwa tingkah laku manusia mengandung kebaikan dan kesejahteraan. Selain itu, tari serimpi sangupati juga mengajarkan bahwa sebagai perempuan harus siap membela negara tanpa terlalu banyak berpikir. Kesenian tradisi yang lahir dari keraton ini harus selalu dijaga dan dilestarikan sehingga anak cucu kita nantinya tetap merasakan keluhuran budaya Indonesia.

Source https://www.bernas.id/ https://www.bernas.id/11790-filosofi-tari-serimpi-sangupati-melawan-penjajah-dengan-kelembutan.html
Comments
Loading...