Filosofi Reog Ponorogo

0 432

Filosofi Reog Ponorogo

Filosifi merupakan pola berfikir manusia, prinsip hidup, ataupun cara berpikir manusia yang timbul karena peristiwa fenomena-fenomena kehidupan yang telah dialami. Filosofi digunakan sebagai panutan hidup ataupun prinsip, sebagian manusia yang memeganya terlalu kuat sehingga membuat semakin keras dan makin keras. Reog Ponorogo tergolong ke dalam keduanya, reog tergolong sebagai panutan hidup dan sebagai pegangan yang kuat bagi masyarakat daerah Ponorogo. Reog Ponorogo melambangkan keperkasaan, kejantanan, dan kegagahan.

Gerakan – gerakan yang ada di dalam tarian reog menggambarkan tingkah pola manusia dalam perjalanan hidup mulai dari lahir, hidup, hingga mati. Reog dimanfaatkan sebagai sarana mengumpulkan massa dan merupakan saluran komunikasi yang efektif bagi penguasa.

Sebelum namanya menjadi reog, dahulu reog dikenal dengan singa barongan. Reog yang berasal dari kata riyoqun, yang berarti khusnul khatimah yang bermakna walaupun sepanjang hidupnya bergelimang dosa, namun bila akhirnya sadar dan bertaqwa kepada Allah, maka surga jaminannya.

Raja Kelono Sewandono adalah seorang raja yang gagah, berani, dan bijaksana. Raja Kelono mempunyai patih, jathil, warok, dan pembarong. Patih Bujangganong bertubuh kecil dan pendek, meskipun bertubuh kecil dan pendek, akan tetapi patih sangat cerdik dan lincah. Pada penggambaran raja dan patih ini diharapkan masyarakat daerah sekitar menjadi orang yang berani, adil, serta cerdik.

Jathil adalah pasukan prajurit wanita berkuda, meskipun pasukan prajurit raja adalah sebagian para wanita, tetapi wanita di sini menggambarkan wanita yang berani dan perkasa. Wanita yang tidak boleh lemah, serta mampu bertahan. Selanjutnya adalah warok, warok adalah pasukan Kelono Sewandono yang digambarkan sebagai orang yang sakti mandraguna dan kebal terhadap senjata tajam. Warok digambarkan sebagai orang yang sudah sempurna dalam laku hidupnya.

Pembarong adalah seorang yang membawa dadak merak (topeng kepala singa dengan hiasan burung merah dan bulunya di atas kepala singa) yang tingginya satu setengah meter. Dalam hal ini menggambarkan seorang yang kuat dalam menjalani hidup, meskipun beban hidup yang dibawa dan dijalankan sangat berat, akan tetapi harus bisa bangkit lagi dari keterpurukan, jalani hidup dengan tenang, dengan pola pikir yang baik serta tertata dengan rapi. Mempercayai bahwa Yang Maha Kuasa akan membantu umatnya dari keterpurukan.

Dapat ditarik intisari filosofi dari tari reog Ponorogo adalah bahwa dari keseluruhan makna, terdapat penggambaran mensyukuri atas apa yang diberikan oleh Yang Maha Kuasa, meskipun unsur tradisi adat tidak bisa ditinggalkan. Dari segi bertahan hidup, masyarakat Ponorogo sangat kuat, tidak mudah putus asa. Dari segi karakter, terdapat unsur kesempurnaan, diartikan bahwa dalam hidup tidak ada yang sempurna, tetapi kita harus mencoba dan memaksimalkan segala hal untuk  menuju sempurna.

Source http://dhonamaryani.blogspot.com/ http://dhonamaryani.blogspot.com/2013/01/filosofi-reog-ponorogo_3.html
Comments
Loading...