Filosofi Piring dari Pincuk, Tum, Takir, Sudi

0 128

Pincuk
‘piring’ saji tradisional berbentuk segiempat dengan tiga sisi, yang biasanya dilengkapi dengan suru yaitu sendok dari daun pisang dengan lebar sekitar 2,5 cm dilipat menjadi dua. Bila hendak digunakan untuk mengambil makanan di bagian tengah agak dilekukkan dengan jari telunjuk. suru biasanya dibuat sendiri oleh si penyantap makanan dengan menyobek sedikit bagian pinggir pincuknya. Pincuk masih banyak digunakan di berbagai daerah di Jawa, dan bahkan di Jakarta, terutama oleh para pedagang pecel.

Tum
‘piring’ saji tradisional yang dibuat dengan cara menangkupkan ujung-ujung dari daun pisang dan “dikunci” dengan biting. Pincuk lebih ditujukan untuk ngiras (makan di tempat, dine in), sehingga ‘atmosfirnya’ terbuka, siap santap. Sedangkan tum lebih fleksibel, termasuk di dalamnya delivery atau walk through. Di Bumisegoro tum banyak dipakai untuk membungkus bubur lengkap dengan sayur dan kuahnya, pelas, tape ketan, dan meniran.

Takir
Wadah berbentuk “bak”, kotak yang terbuka bagian atasnya. Di Bumisegoro banyak dipakai untuk wadah lauk pauk berkuah kental pada berkatan (kenduri). Takir juga sering dipakai sebagai wadah untuk bubur merah – bubur putih.

Sudi
Wadah bentuk bundar dengan ‘tonjolan’ di tengahnya. Di Bumisegoro, dipakai sebagai wadah kue atau lauk kering dan pemakaiannya bisa bersifat menggantikan (substitusi) atau saling melengkapi (komplementer) dengan takir. Kompetitornya adalah sudi dari kertas.

Source https://www.kaskus.co.id https://www.kaskus.co.id/show_post/50a65dd97d1243be6a00009e/272/
Comments
Loading...