Filosofi Kuliner Tradisi Jawa

0 263

Filosofi Kuliner Tradisi Jawa

Tradisi kuliner sudah menjadi bagian yang khas dan mewakili ciri etnis dan suku bangsa tertentu di Nusantara. Tidak saja dari sudut pandang materiil sebagai representasi boga namun juga mencitrakan karakter Sosiologi Antropologi dan spiritulitas masyarakatnya. Dalam pandangan masyarakat Jawa yang senantiasa sarat dengan simbol-simbol dan pesan moral, maka peran beberapa kuliner yang hadir di setiap bagian prosesi ritual tertentu akan memiliki makna-makna penanda.

Beberapa kuliner tradisi yang cukup penting dalam keseharian masyarakat Jawa serta mengusung kearifan terpendam di antaranya adalah:

  • Nasi Tumpeng dan Ubarampe 
    Pada umumnya, Nasi Tumpeng dibuat berkaitan dengan akan dilaksanakan suatu hajat yang diharapkan nantinya memperoleh berkah dan bimbingan kemudahan dari Tuhan YME hingga tercapai segala maksud yang dicita-citakan. Bentuk Tumpeng yang mengerucut ke atas juga mengacu pada kata Tumpeng yang bermakna Tumuju ing pengeran atau menuju (ditujukan) kepada Allah. Bawang merah dengan kulitnya yang berlapis-lapis yang ditusuk lidi pada puncak tumpeng melambangkan lapisan-lapisan langit yang harus dilalui menuju ‘pengeran’ tadi. Sedang di ujung lidi tertancap cabai merah dalam bahasa Jawa ; lombok mengacu pada bahasa Sansekerta Jawa Kuno yaitu lumbu dapat dimaknai sebagai berlomba-lomba di jalan dan menuju Allah. Kita dapat mengartikannya secara lazim sebagai bentuk pesan moral untuk fastabiq al khairaat. Sedangkan berbagai masakan dan makanan yang menyertai nasi tumpeng tadi merupakan ubarampe atau pendamping yang melengkapi keseluruhan bagian penyajian Nasi Tumpeng. Ada ayam, kentang, urap sayur, kemangi dan lainnya. Makna ubarampe ini adalah keberagaman, baik asal, sifat dan bentuknya yang mewakili berbagai perbedaan duniawi namun senantiasa menuju satu maksud dan tujuan yang sama yakni ke hadirat Allah.
  • Ingkung 
    Adalah ayam yang dimasak dan disajikan secara utuh tidak terpotong-potong (ingkung). Pada umumnya juga menjadi bagian dari sajian tumpeng. Melambangkan keutuhan maksud dan niat yang bulat dan paripurna. Secara visual terlihat sebagai tubuh yang utuh dan telanjang (blaka). Suatu simbol tentang keterbukaan dan sekaligus kepapaan di hadapan Allah. Blaka Suta apa anane, terbuka apa adanya. Tanpa embel-embel dan sesuatu yang disembunyikan dari setiap maksud. Tanpa gelaran dan lambang kederajatan duniawi, sebagai manusia yang lahir telanjang dan tak punya apapun selain yang dianugerahkan Allah semata.
  • Lodeh Kluwih dan Sukun 
    Sayur lodeh, sayur yang dimasak dengan santan. Santan yang adalah sari perasan dari kelapa matang, melambangkan intisari dari suatu tujuan dan doa. Yakni esensi termurni yang telah melalui serangkaian proses pematangan. Lodeh juga dapat diartikan sebagai ‘lodeh’ yang dalam bahasa Jawa berarti tinular (tersebarkan). Adapun buah kluwih sejenis sukun yang dibaut sayur lodeh bermakna dari kata kluwih itu sendiri. Yang diartikan sebagai keluwihan/linuwih yakni kelebihan dan keutamaan. Lodeh kluwih dimaksudkan sebagai bentuk kelebihan dan keutamaan yang di-lodehkan (ditularkan) pada lingkungan. Dengan kata lain, ketiap keutamaan dan kelebihan manusia harus memberi manfaat pada manusia dan lingkungan sekitarnya. Pohon kluwih dengan bentuk daun yang menyerupai tangan manusia merupakan visualisasi manusia yang tengadah memanjatkan doa dan memohon keberkahan dan kemurahan Allah. Bentuk daun kluwih ini juga sering kita jumpai pula di mustaka masjid-masjid kuno di Jawa. Maka kluwih juga merupakan simbol dari panjatan doa.
  • Nasi Kuning 
    Dalam bahasa Jawa disebut sebagai sega kuning. Kata kuning bermakana kukuh lan wening. Yakni maksud permohonan yang kokoh dan bening. Hanya doa yang istiqamah dan tulus yang selayaknya dipanjatkan ke hadirat Allah. Sesuatu yang jujur dan berasal dari lubuk hati terdalam membawa kesucian dan niat baik merupakan intisari setiap permohonan yang akan dipanjatkan. Kuning, juga memberikan makna kukuh (kekokohan) dan wening (kebeningan kesucian hati) dalam menjalankan agama. Ngukuhi agomo suci secara tulus dari hati. Nasi kuning sebagaimana tumpeng, juga menjadi sajian dalam sebuah prosesi unjuk hajat.
  • Ketan, Kolak dan Apem 
    Makanan dan masakan ini bukan sekadar kudapan atau sebagai hidangan penutup dalam seuatu jamuan. Sajian ini merupakan bagian penting dari kelengkapan prosesi doa dan unjuk hajat masyarakat Jawa. Makna  ketan, kolak dan ape mini diambil dari terminologi ketatabahasaan Arab. Yakni ketan yang dapat dirunutkan dari kata Arab khata’an (yang artinya ‘salah’ atau ‘kesalahan’/ kekhilafan), kemudian kolak dirunut dari kata Arab qaala (yang artinya ‘kata’ atau perkataan/ucapan), sedang apem dapat dirunut dari kata Arab ‘afw / ‘afwan (yang artinya ‘maaf’ atau ‘maafkan saya’). Jadi ‘paket’ masakan Ketan, Kolak dan (kue) Apem di sini dapat disrtikan sebagai ungkapan : “Jika terdapat kesalahan atau kehilafan yang saya lakukan, maka perkenankan saya mengucapkan permintaan maaf”.
Source Filosofi Kuliner Tradisi Jawa SEKILAS SEMIOTIKA SPIRITUAL DALAM KULINER TRADISI JAWA
Comments
Loading...