Filosofi Khusus di Balik Arak-arakan Barong Banyuwangi

0 80

Filosofi Khusus di Balik Arak-arakan Barong Banyuwangi

Desa Kemiren dikenal sebagai desa adat Suku Using, asli Banyuwangi. Warga Desa ini berusaha menjaga tradisi Suku Using. Salah satunya menggelar arak-arakan barong, yang menjadi tradisi pengiring pengantin. Tidak hanya untuk pengantin, arak-arakan barong juga biasa digunakan untuk mengiringi anak yang baru dikhitan. 

Dalam tradisi ini, pasangan suami-istri akan diantar oleh rombongan barong sekitar satu kilometer menuju tempat resepsi pernikahan yang biasanya di rumah pengantin. Saat arak-arakan, macan-macanan, pitik-pitikan, dan barong, mengawal pengantin. Pengantin duduk di kereta kuda berhias bunga bagaikan raja dan ratu. Masyarakat menyaksikan arakan-arakan ini dari depan rumah mereka. Banyak pula warga yang ikut serta mengawal pengantin hingga ke resepsi pernikahan.

Sucipto, sesepuh sekaligus pemilik sanggar barong di Kemiren mengatakan, banyak filosofi yang mengapa barong dikaitkan dalam pesta pernikahan. Ini karena, barong merupakan seni tradisi yang erat kaitannya dengan keluarga.

Barong Kemiren berbeda dengan barong-barong lainnya. Tiap bagian Barong memiliki arti. Dua sayap barong bermakna terbanglah tinggi untuk mencari pekerjaan (nafkah) untuk keluarga. Mulut barong yang selalu terbuka, memiliki arti jangan sampai keluarga kelaparan. Ansang, yang bermakna jangan iri atau dengki apabila ada kerabat atau tetangga bisa memiliki barang-barang apapun.

Mahkota yang berbentuk kubah masjid, bermakna untuk selalu ingat pada Tuhan. Keling berbentuk garuda yang menghadap ke belakang, memiliki maksud selalu mengingat keturunan, jangan sampai mereka kelaparan. Sedangkan sungut di atas mata, harus siap menghadapi siapapun yang datang padamu. Jangan cemberut, harus selalu ramah.

Tidak hanya itu, Sucipto mengatakan, setiap warna hingga desain kelengkapan barong memiliki makna filosofis. Seperti warna merah, putih, hijau, kuning dan hitam pada barong. Merah artinya berani. Putih mengendalikan hawa nafsu agar bersih hatinya. Hijau menggambarkan petani yang mayoritas menjadi pekerjaan di Desa kemiren. Kuning, bila setelah menikah jangan selingkuh. Sedangkan hitam menggambarkan kelanggengan keluarga. Dan banyak filosofi lainnya dari barong.

Arak-arakan ini selain merupakan doa untuk pengantin, juga memberikan hiburan pada masyarakat Kemiren. Selain itu agar masyarakat terutama anak-anak Kemiren, tahu akan tradisi dan budaya desanya. Ini agar mereka juga ikut melestarikannya kelak.

Source http://surabaya.tribunnews.com/ http://surabaya.tribunnews.com/2017/03/18/tak-sekadar-iringi-pengantin-ada-filosofi-khusus-di-balik-arak-arakan-barong-banyuwangi?page=3
Comments
Loading...