Filosofi Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat

0 185

Filosofi Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat

Keraton Yogyakarta Terletak di sebelah selatan kawasan wisata belanja Malioboro dan bangunannya dapat mudah dikenali karena diapit oleh tanah lapangan yang luas dan di tengahnya terdapat pohon beringin kembar atau lebih dikenal dengan nama Alun-alun.

Keraton dalam bahasa jawanya yang berarti tempat tinggal Ratu (Raja), sebagai istana Raja Yogyakarta yaitu Sri Sultan Hamengku Buwono. Selama pembangunan Keraton Yogyakarta, seluruh keluarga Keraton bahkan sebagian bahan baku bangunan Keraton di datangkan dari Pesangrahan Ambar Ketawang yang berada di Gamping, Sleman.

Perkembangan Keraton dari masa ke masa

Desain dan arsitektur Keraton Yogyakarta menganut berbagai macam gaya bangunan mulai dari Jawa, Portugis, Belanda, dan Cina. Pada perkembangannya selain sebagai Istana bagi Sultan yang bertahta di Yogyakarta. Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat juga merupakan sebuah simbolisasi dari terciptanya garis lurus antara puncak gunung Merapi dan laut selatan atau yang dikenal sebagai Garis Imajiner. Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat berada tepat di garis lurus yang memang di desain oleh Sri Sultan sendiri.

Filosofis Makna Keraton Ngayogyakarta

Keberadaan Keraton juga sebagai simbol filosofis tentang kehidupan manusia yang selalu diawasi oleh Maha Pencipta yang di simbolisasikan dengan keberadaan gunung Merapi yang tinggi menjulang serta alam lain yang luas tidak terbatas seperti yang di simbolisasikan dengan laut selatan yang luas. Oleh karena itu sampai sekarang Keraton Yogyakarta masih tetap mengadakan upacara tahunan yang disebut upacara Labuhan yang di artikan sebagai sedekah Raja (Sri Sultan) terhadap gunung Merapi dan pantai selatan. Selain sebagai bagian dari garis Imajiner, keraton juga memegang konsep sebuah kenegaraan yang utuh.

Hal ini di buktikan kepada konsep kepemerintahan ada di bagunan Keraton serta tempat bertemunya Raja dengan rakyat yang berada di Alun-alun. Di sebelah baratnya melambangkan konsep Religiusitas dilambangkan dengan adanya Masjid Gedhe Kauman. Berlanjut di sebelah utara merupakan konsep Ekonomi dan Sosial hal ini di buktikan dengan adanya sebuah Pasar Beringharjo dan kawasan Malioboro yang dahulu merupakan kawasan tempat berkumpulnya para pejuang, masyarakat umum dan para penjual bunga dan makanan.

Source Filosofi Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat Mengenal Lebih Dalam Filosofi Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat
Comments
Loading...