Filosofi Kehidupan di Balik Aksara Jawa

0 279

Sejarah Aksara Jawa

Hanacaraka (dikenal juga dengan nama Carakan) adalah aksara turunan aksara Brahmi yang digunakan atau pernah digunakan untuk penulisan naskah-naskah berbahasa Jawa, Makasar, Madura, Melayu, Sunda, Bali, dan Sasak.

Asal usul riwayat dari Aksara Jawa ini sendiri berkaitan dengan kisah Aji Saka untuk mengabadikan dua abdi setianya yang bernama Dora dan Sembada yang mati bertempur demi memperebutkan pusaka sakti milik Aji Saka. Dora ikut serta bersama Aji Saka, sementara Sembada tetap ditempat menjaga pusaka sakti. Kedua orang ini melakukan perjalanan ke Kerajaan Medhangkamulan yang dipimpin Prabu Dewata Cengkar demi menghentikan kebiasaannya yang suka makan daging manusia. Pada akhirnya, Aji Saka berhasil mengalahkan Prabu Dewata Cengkar dan diangkatlah ia menjadi raja di Kerajaan Medhangkamulan.

Sejak saat itu, Kerajaan Medhangkamulan dipimpin oleh Aji Saka, seorang raja yang arif dan bijaksana. Tiba-tiba, Aji Saka teringat akan pusaka saktinya, dan menyuruh Dora untuk mengambilnya. Namun Sembada tidak mau memberikan pusaka itu, karena teringat pesan Aji Saka. Maka terjadilah pertarungan yang hebat diantara Dora dan Sembada. Karena memiliki ilmu dan kesaktian yang seimbang, maka meninggallah Dora dan Sembada secara bersamaan.

Aji Saka yang teringat akan pesannya kepada Sembada, segera menyusul. Namun terlambat, karena sesampai di sana, kedua abdinya yang sangat setia itu sudah meninggal dunia. Untuk mengenang keduanya, maka Aji Saka mengabadikannya­ dalam sebuah Aksara/Huruf :

Ha Na Ca Ra Ka (Ono utusan = Ada utusan)
Da Ta Sa Wa La (Padha kekerengan = Saling berkelahi)
Pa Da Ja Ya Nya (Padha digdayane = Sama-sama saktinya)
Ma Ga Ba Tha Nga (Padha nyunggi bathange = Saling berpangku saat meninggal)

Nilai Ajaran Luhur Dalam Huruf Jawa

Terlepas dari cerita asal usul Aksara Jawa diatas jika kita mampu mengkaji lebih dalam lagi, ternyata tersimpan ajaran budi pekerti dan nilai filosofis ajaran luhur kehidupan yang tinggi.

Ha, “Hana hurip wening suci” (Adanya kehidupan adalah kehendak dari yang Maha Suci)

Na, “Nur candra, gaib candra, warsitaning candra” (Pengharapan manusia hanya selalu kepada sinar Ilahi)

Ca, “Cipta wening, cipta mandulu, cipta dadi” (Arah dan tujuan pada Yang Maha Tunggal)

Ra, “Rasaingsun handulusih” (Rasa cinta sejati muncul dari cinta kasih nurani)

Ka, “Karsaningsun memayuhayuning bawana” (Hasrat diarahkan untuk kesajeteraan alam)

Da, “Dumadining dhat kang tanpa winangenan” (Menerima hidup apa adanya/ikhlas)

Ta, “Tatas, tutus, titis, titi, lan wibawa” (Mendasar, totalitas, satu visi, ketelitian dalam memandang hidup)

Sa, “Sifat ingsun handulu sifatullah” (Mewujudkan sifat kasih sayang seperti kasih Tuhan)

Wa, “Wujud hana tan kena kinira” (Ilmu manusia hanya terbatas namun implikasinya bisa tanpa batas/tak terkira)

La, “Lir handaya paseban jati” (Mengalirkan hidup semata pada tuntunan Ilahi)

Pa, “Papan kang tanpa kiblat” (Hakekat Allah yang ada disegala arah)

Dha, “Dhuwur wekasane endek wiwitane” (Untuk bisa sampai diatas tentu dimulai dari dasar)

Ja, “Jumbuhing kawula lan Gusti” (Selalu berusaha menyatu memahami kehendak-Nya)

Ya, “Yakin marang samubarang tumindak kang dumadi” (Yakin atas titah/kodrat Ilahi)

Nya, “Nyata tanpa mata, ngerti tanpa diwuruki” (Memahami dengan benar kodrat kehidupan)

Ma, “Madhep mantep manembah mring Ilahi” (Yakin/mantap dalam menyembah Ilahi)

Ga, “Guru sejati sing muruki” (Belajar pada guru nurani)

Ba, “Bayu sejati kang andalani” (Menyelaraskan diri pada gerak alam)

Tha, “Tukul saka niat” (Sesuatu harus dimulai dan tumbuh dari niatan)

Nga, “Ngracut busananing manungso” (Melepaskan egoisme pribadi manusia)

Source Filosofi Kehidupan di Balik Aksara Jawa Bram Ardianto
Comments
Loading...